Jumat, 20 Agustus 2021

Review Buku : Antologi Ibu Rumah Tangga Bisa Apa?

 

Judul : Ibu Rumah Tangga Bisa Apa

Penulis : Malica Ahmad dkk. 

Penerbit : Dandelion Publisher, cetakan pertama Maret 2021

Menjadi salah satu kontributor tulisan di buku antologi ini sangat membahagiakan karena ini adalah buku antologi pertama saya. Sebenarnya sudah lama saya ingin menerbitkan buku tapi selalu saja maju mundur dan rasanya belum nemu waktu yang pas. Saat ditawari untuk ikut gabung menulis di antologi ini, saya langsung tertarik karena tema yang diangkat adalah tentang perempuan dan ibu rumah tangga.

Tidak sedikit perempuan yang menyandang status ibu rumah tangga mendapat pertanyaan-pertanyaan yang kurang mengenakkan seperti:

“Sudah sekolah tinggi-tinggi sampai jadi sarjana, masak cuma jadi ibu rumah tangga dan tidak kerja. Duh rugi banget..”

Atau pertanyaan lain :

“Sekarang kerja dimana? Hah? Ga kerja? Cuma jadi ibu rumah tangga aja di rumah?”

antologi IRT Bisa Apa?

Rabu, 23 Juni 2021

Get Big Dream with ASUS

Masa pandemi yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun ini “memaksa” banyak orang untuk bekerja secara on-line dari rumah. Saya termasuk pekerja kantoran yang harus terbagi shift untuk bekerja dari rumah. Namun sebagai Ibu bekerja yang biasa bekerja di kantor, ternyata bekerja dari rumah menambah masalah baru bagi saya. Membagi waktu 24 jam di rumah untuk bekerja, mengurus rumah dan mendampingi 3 anak sekolah secara on-line sungguh tidak mudah. Masih ditambah kesibukan saya menulis.

Sebelum pandemi, sepulang kantor saya full mengurusi anak-anak dan rumah. Anak-anak sekolah fullday sampai sore jadi saat di rumah adalah saat mereka beristirahat. Urusan pekerjaan dan menulis saya lakukan pada jam kerja di kantor. Sekarang semuanya berubah drastis. Hampir semua kegiatan harus dilakukan di rumah. sebenarnya ada sisi positif dan negatifnya. Bekerja dari rumah memberi fleksibilitas waktu untuk bekerja, mengurus rumah dan melakukan hal lain termasuk hobi. Banyak juga yang menekuni hobi baru seperti bertanam, memasak atau bersepeda. Sekarang sepanjang jalan rombongan pesepeda semakin marak saja. Apalagi kalau menilik lini masa media sosial, bertebaran foto-foto tanaman, masakan atau pose bersepeda.

Selasa, 11 Mei 2021

Mengurangi Sampah Makanan Keluarga

“Bu.., tukang sampahnya sudah 3 hari ini tidak datang,” asisten rumah tangga saya melaporkan.

Duh, rasanya sebal sekali melihat tumpukan sampah di depan rumah. Tumpukan sampah itu jadi mengurangi estetika pandangan, apalagi kalau ada sampah basahnya jelas akan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Urusan sampah yang telat diambil sekarang jadi masalah baru bagi orang-orang yang tinggal di perumahan dengan lahan terbatas seperti saya. Saya sendiri jadi sangat tergantung dengan keberadaan tukang sampah yang mengambil sampah rutin setiap dua hari sekali. Cilakanya kalau dia tidak datang dan tidak berkabar, hasilnya sampah akan menumpuk di depan rumah.

Kata sampah sebenarnya sangat familiar di telinga kita. Keluarga bahkan individu setiap hari pasti menghasilkan sampah baik sampah organik maupun non organik. Rumah tangga tanpa disadari menyumbang produksi sampah organik atau sampah sisa makanan yang cukup besar. Saya cukup kaget ketika membaca sebuah hasil penelitian bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Arab Saudi dalam hal membuang sampah makanan.

Rabu, 06 Januari 2021

Tips Menyapih dengan Cinta

Perjalanan menjadi Ibu diawali saat melahirkan dan belajar menyusui bayi. Setiap Ibu pasti mempunyai pengalaman yang berbeda setiap melahirkan. Setiap anak membawa ceritanya sendiri. Saya merasakan pengalaman tiga kali melahirkan dan itu membuat saya merasakan menjadi Ibu baru sebanyak 3 kali juga.

Saat melahirkan Irham, rasanya berbeda dengan pengalaman melahirkan 2 kakaknya. Tiga kali merasakan sesar, tiga kali pula merasakan pengalaman recovery yang berbeda. Hari pertama pasca sesar ASI saya belum keluar dan Irham sudah dibawa perawat untuk room in dengan saya. Perjuangan untuk menyusui Irham di hari-hari pertaman lumayan berat karena saya harus menyusui dengan posisi tidur telentang. Maklum saya belum mampu untuk duduk dan berdiri. Luka pasca sesar masih sakit sekali.

Jumat, 16 Oktober 2020

Antara Perempuan dan Memasak

 MEMASAK. Ketika mendengar kata itu, yang terlintas dalam pikiran adalah urusan domestik rumah yang “biasanya” dipegang oleh perempuan. Bener ga sih penguasa dapur dan urusan memasak ada di tangan seorang perempuan atau istri? Trus apakah sebagai perempuan kudu pinter masak?

Memasak sebenarnya adalah pemenuhan kebutuhan dasar hidup yaitu makan. Hal itu bisa dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Saat ini tidak sedikit nama-nama chef laki-laki yang mahir membuat masakan susyah. Sebut saja Chef Juna atau chef Arnold. Dengan penampilan gagah mereka bisa begitu luwes memainkan alat dapur, meracik bahan dan bumbu, memasak sampai menyajikannya menjadi masakan yang menggugah selera.

Kompetisi bakat memasak pun tidak melulu diikuti oleh perempuan. Banyak laki-laki yang tertarik untuk ikut dan membuktikan kepiawaian mereka dalam memasak. Kemampuan memasak tidak terbatas pada perempuan karena memasak sekarang adalah ilmu yang bisa dipelajari. Siapa saja yang mempunyai passion memasak dapat belajar. Laki-laki yang jago masak tetap maskulin dan keren. Sedangkan perempuan yang pinter masak akan menambah kesan lebih feminin dan romantis.

Kamis, 03 September 2020

Mengendalikan Emosi Negatif

Pernahkah teman-teman berada pada puncak emosi marah? Badan terasa bergetar, detak jantung meningkat, nafas tidak teratur tubuh terasa panas dan kepala terasa pusing. Bahkan terkadang ada keinginan untuk berteriak dan memukul untuk melampiaskannya. Saya pernah mengalaminya. Rasa marah terkadang tidak langsung hilang walau sudah dilampiaskan dengan marah-marah dengan intonasi tinggi. Orang yang menjadi pelampiasan amarah saya terkadang juga ikut tersulut marahnya. Amarah saya pun tidak langsung hilang. Ditambah permasalahan yang menyebabkan saya marah tidak terselesaikan. Hal ini membuat ketidaknyamanan bagi saya.

Nah, pada postingan kali ini saya ingin share tentang mengelola emosi negatif seperti marah tadi.

Selasa, 26 Mei 2020

Idul Fitri 1441 H

Selamat Idul Fitri 1441 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Idul Fitri di tahun 2020 ini terasa sangat berbeda. Kita merayakan Idul Fitri di tengah pandemi corona sejak Presiden mengumumkan kasus positif pertama di Indonesia bulan Maret 2020. Anjuran untuk memutuskan rantai penyebaran covid-19 dengan tinggal di rumah, memakai masker, sering mencuci tangan dan menjaga jarak dengan orang lain telah merubah semua aktivitas harian semua orang, tak terkecuali saya dan keluarga.

Sejak kantor memberikan kebijakan Bekerja Dari Rumah tanggal 18 Maret 2020, saya, mas suami dan anak-anak berkativitas dari rumah. Di masa-masa awal, rasanya bosan dan susah mengatur ritme aktivitas. Menemani anak-anak belajar, memasak dan mengerjakan pekerjaan kantor menjadi hal yang susah-susah gampang dilakukan di rumah. Setiap kali buka laptop, ada aja yang ngerecoki hehe...
Tapi tetap jadi hal yang seru karena 24 jam kumpul sama anak-anak. Waktu kerja juga jadi lebih fleksibel.

Ramadhan dan Idul Fitri

Memasuki bulan Ramadhan, anak-anak mulai saya kondisikan dengan ritme aktivitas baru yaitu sahur dan sholat tarawih. Sholat tarawih kami lakukan di rumah secara berjamaah. Kadang-kadang jam 8 malam baru mulai tarawih karena nunggu si adik irham bobok. Malah sempat kami tarawih jam 10 malem, untungnya si kakak ikhsan dan ikhfan belum ngantuk.
Ramadhan tahun ini juga bisa berhemat karena anak-anak "nerimo" dengan makanan yang saya sajikan di rumah. Ga minta jajan atau makan di luar. Saya jadi lebih sering masak sendiri. Jarang banget beli makanan matang. Belanja stok makanan seminggu 2 kali  dan pilih-pilih warung yang ga ramai untuk menghindari kerumunan.
Di lebaran ini kami tidak pakai baju baru. Anak-anak juga tidak merengek-rengek minta baju baru. Alhamdulillah...
Masih bisa pakai baju lebaran tahun kemarin. 

Semoga kita semua bisa menjalani kehidupan dengan ikhlas di masa pandemi ini. Jangan lupa tetap bahagia walau harus banyak menghabiskan waktu di rumah. Banyak hikmah yang bisa kita ambil, seperti kebersamaan dengan keluarga adalah sesuatu yang berharga.

Mohon Maaf Lahir Batin dari Jogja


with 3 boys