Jumat, 05 Oktober 2018

babyblues yang ketiga.....

Masa post partum adalah masa-masa peralihan dari masa kehamilan ke masa menyusui. Pengalaman masa postpartum pada setiap ibu akan berbeda. Pengalaman post partum anak pertama, kedua dan ketiga bagi saya juga berbeda-beda. Tiga kali melahirkan,.tiga kali pula saya mengalami babyblues. Pengalaman mengatasi baby blues pada setiap masa post partum ternyata berbeda.

Saya sendiri juga heran, mengapa setiap kali melahirkan mengalami baby blues walau saya sudah mencoba mencari banyak informasi mengenai baby blues sebelum melahirkan mulai dari membaca artikel sampai mengikuti seminar.

Untuk mencegah babyblues, ketika memasuki bulan ketujuh kehamilan irham, saya mengikuti seminar mengenai cara mengatasi babyblues pada Ibu pasca melahirkan. Secara teori saya memahami apa yang dipaparkan oleh pembicara seminar. Tetapi perasaan "takut" akan berulangnya babayblues masih membayangi saya.

Ketika saya menanyakan kepada pembicara, apakah babyblues akan terulang pada kehamilan berikutnya? pembicara menjawab bahwa segalanya tergantung pada mindset kita. Pikiran positif harus terus disuntikkan kepada diri kita dan faktor-faktor pemicu babyblues sedapat mungkin dihindari. Selain itu, yang paling utama adalah komunikasi dengan pasangan ditingkatkan. Segala rasa dan keluh kesah tumpahkanlah pada pasangan dan pasangan harus bersiap untuk mendengarkan dan memberi solusi.

Yup, secara teori dan informasi saya merasa sudah cukup untuk menghadapi kemungkinan datangnya babyblues. Namun ternyata kenyataan berbeda dengan harapan. Saya tetap mengalami babyblues untuk ketiga kalinya.


Rabu, 29 Agustus 2018

selamat datang ke dunia Irham...


Memasuki trimester ketiga di kehamilan saya yang ketiga ini, kondisi badan lumayan fit untuk beraktifitas. Saya masih mondar-mandir antar jemput anak-anak dan mengerjakan tesis di kampus. Dengan perut yang semakin membesar, saya masih bisa nyetir mobil sendiri tapi 4 minggu menjelang HPL mas suami melarang saya menyetir sendiri. Sudah ga tega liatnya, begitu alasan mas suami. Saya sih nurut saja.

Beberapa minggu mendekati HPL saya kadang merasa deg-degan seperti takut menjalani proses persalinan. Dua kali mengalami sesar, saya masih saja ngeri membayangkan saya akan mengalami lagi untuk yang ketiga kalinya. Setiap kali kontrol, dokter kandungan saya jarang membahas proses sesar yang akan saya lalui nanti. Sepertinya beliau tahu kalau saya takut menjalani sesar lagi. Pokoknya kata-katanya menenangkan saya.

“sesuai SOP memang Ibu lebih aman kalau menjalani persalinan lewat sesar. Tapi yang terpenting kita jaga kondisi janin matang dan saya menjadwalkan sesar 5 hari sebelum HPL. Tidak bisa lebih cepat, untuk meminimalisir bayi lahir dengan bilirubin tinggi. Saya akan selalu siaga membantu persalinan Ibu,” begitu penjelasannya.

Selasa, 23 Januari 2018

Berdamai dengan baby blues




Saat status kita berubah menjadi orang tua, maka saat itulah tanggung jawab baru tersampir dipundak kita yaitu mendidik anak. Kita tidak hanya melahirkan dan memberi makan anak tetapi juga “wajib” menggoreskan nilai-nilai pendidikan yang baik bagi anak yang kita lahirkan. Saya sadar penuh, bahwa untuk menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. 
Belajar menjadi orang tua itu prosesnya berbarengan pada saat anak kita lahir. Saat anak kita lahir, saat itu juga kita belajar menjadi orang tua.

Proses hamil dan melahirkan juga merupakan proses belajar menjadi calon orang tua. Setelah bayi lahir, proses belajar semakin kompleks karena tidak sedikit ibu yang mengalami baby blues bahkan post partum depression. Saya sendiri sempat mengalami baby blues saat kelahiran anak pertama (ikhsan-2007) dan kedua (ikhfan-2012).


Penyebab utama adalah kondisi tubuh yang “lelah” setelah proses melahirkan, dan keadaan hormon yang berubah drastis yang mengakibatkan perasaan saya seperti swing (gampang berubah dari senang menjadi sedih). Puncaknya adalah timbulnya pikiran-pikiran bahwa bayi saya akan tenggelam di ember mandinya kalau saya mandikan.