Selasa, 23 Januari 2018

Berdamai dengan baby blues




Saat status kita berubah menjadi orang tua, maka saat itulah tanggung jawab baru tersampir dipundak kita yaitu mendidik anak. Kita tidak hanya melahirkan dan memberi makan anak tetapi juga “wajib” menggoreskan nilai-nilai pendidikan yang baik bagi anak yang kita lahirkan. Saya sadar penuh, bahwa untuk menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. 
Belajar menjadi orang tua itu prosesnya berbarengan pada saat anak kita lahir. Saat anak kita lahir, saat itu juga kita belajar menjadi orang tua.

Proses hamil dan melahirkan juga merupakan proses belajar menjadi calon orang tua. Setelah bayi lahir, proses belajar semakin kompleks karena tidak sedikit ibu yang mengalami baby blues bahkan post partum depression. Saya sendiri sempat mengalami baby blues saat kelahiran anak pertama (ikhsan-2007) dan kedua (ikhfan-2012).


Penyebab utama adalah kondisi tubuh yang “lelah” setelah proses melahirkan, dan keadaan hormon yang berubah drastis yang mengakibatkan perasaan saya seperti swing (gampang berubah dari senang menjadi sedih). Puncaknya adalah timbulnya pikiran-pikiran bahwa bayi saya akan tenggelam di ember mandinya kalau saya mandikan. 

Kamis, 11 Januari 2018

Berjuang Melawan Hyperemesis Gravidarum



Ini postingan saya yang pertama di tahun 2018. Semoga di tahun yang baru ini, tersulut juga semangat saya untuk menjalani tahun ini dengan semangat positif. 

Sejak positif hamil ketiga kalinya dengan hyperemesis gravidarum di september 2017 yang lalu, kondisi badan saya benar-benar up & down. Mual dan muntah yang hadir sepanjang hari selama hampir 5 bulan ini lumayan menguras stamina saya. Muka saya yang kucel dan berantakan menjadi pemandangan anak-anak setiap hari di rumah. Beberapa tetangga yang melihat keadaan saya yang pucat, terkadang ikutan miris dan heran, kok bisa morning sickness separah saya?? Hamil kok seperti orang yang sakit.


Di bulan ketiga kehamilan terjadi pendarahan di mata saya karena otot mata terlalu tegang disebabkan terlalu seringnya saya muntah-muntah. Kedua mata saya jadi memerah darah. Saya sendiri tidak terlalu merasakan sakit di mata, tapi orang-orang yang melihat jadi ngeri melihat mata saya yang memerah itu. Pendarahan di mata saya itu hilang dengan sendirinya tapi butuh waktu 1-2 minggu. Memang sedikit menganggu fungsi penglihatan saya. Supaya enakan, saya lebih banyak tiduran dan memejamkan mata. Di kehamilan Ikhfan, saya juga mengalami hal ini.

Senin, 13 November 2017

De Javu dengan Hyperemesis Gravidarum


Setiap kali tahu kalau ada teman, keluarga atau kenalan saya yang hamil, saya selalu menanyakan pertanyaan yang sama, “mual atau muntah enggak di awal kehamilan?”

Ternyata dari banyak perempuan hamil yang saya tanyai tidak semuanya mengalami mual dan muntah di awal kehamilan. Ada yang serasa tidak hamil karena tidak merasakan mual dan muntah, rasanya biasa saja bahkan cenderung jadi doyan makan. Kalaupun ada yang mual dan muntah kebanyakan hanya terjadi di pagi hari saja selanjutnya tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Dan hanya 1-2 orang saja yang bercerita kalau mual dan muntahnya agak parah. Tidak banyak yang tahu tentang kemungkinan perempuan hamil terserang hyperemesis gravidarum.

Hyperemesis gravidarum adalah morning sickness yang parah yaitu ketika perempuan hamil mengalami mual dan muntah lebih dari 5 kali dalam sehari dan rasa mual berlangsung terus menerus sepanjang hari sehingga makanan susah masuk. Saya pernah menulisnya di sini.