Langsung ke konten utama

home sweet home



ah, judulnya gaya banget ya? tapi emang seperti itu yang kami rasakan..home sweet home... Rumah bagi saya bukan sekedar tempat tinggal, tapi tempat saya me-refresh jiwa. Jadi ketika akhirnya kami -saya dan mas- bisa membeli rumah dari kocek kami sendiri rasanya puas dewh. Perburuan mencari rumah butuh waktu yang ga cepet. Di awal kami menikah, karena mas masih harus menyelesaikan kuliah di bandung, keinginan punya rumah rumah sendiri masih tertahan. Setelah mas selesai kuliah dan balik ke djogja, nah keinginan punya rumah sendiri muncul lagi. Muter-muter jogja dan nyari rumah yang cocok buat kami ternyata susah juga. Saya yang terbiasa tinggal di perumahan pengen punya rumah di kompleks perumahan, sedangkan suami yang sejak kecil tidak tinggal di perumahan ga kepikiran punya rumah di perumahan,-sumpek- alasannya. Nah, susah kan? menggabungkan keinginan kami berdua.

tapi ternyata bener kata orang jawa kalo rumah itu punya pulung, artinya kalo tuh rumah dah digariskan bakal jatuh ke tangan kita, ga bakalan lari hehe.
Waktu itu saya pengen rumah yang deket kantor supaya besok kalo punya anak bisa gampang ngasih ASI, secara waktu itu saya lagi hamil 1 bulan. Dan kebetulan sekali kok ada temen kantor yang kasih tahu kalo ada tanah kapling siap bangun deket kantor. Ga tau kenapa kok saya tertarik buat ngeliat. Langsung saja saya liat tuh tanah. Wah, hati saya langsung sreg pengen ambil tuh kapling yang tinggal 1. Jarak dari kantor cuma 1 km.Pas tuh dengan keinginan saya. Sementara itu 2 kapling sebelahnya sedang dibangun rumah.

besoknya saya ajak mas ngeliat kaplingnya, dan seperti saya, mas langsung menganggukkan kepala, "iya jeng, kita ambil tanahnya,"
cihuy... seneng dewh akhirnya nemu juga lokasi buat rumah kami. Walau cuma sepetak, tapi rasanya seneng dan bangga bisa beli rumah sendiri hehe..
Proses pembangunan rumah makan waktu hampir 4 bulan. Desain sederhana kami pilih yang memungkinkan pengembangan rumah beberapa waktu ke depan.

dua bulan setelah ikhsan lahir, kami boyongan ke rumah baru. Seru deh, abisnya seluruh saudara pada pengen ikutan nginep padahal di rumah baru itu kan belon ada apa-apa jadinya pada tidur lesehan di lantai deh..
sekarang sudah 1 tahun lebih saya tinggal di rumah sendiri. Walau rumah itu sering ditinggal karena harus sering-sering nengokin bapak saya yang tinggal sendirian, tapi rasanya kangen dan nyaman banget kalau balik ke rumah itu.
Saya dan ikhsan biasa mendengarkan mas memetik gitar di beranda belakang. Sementara di pekarangan belakang rumah, saya menanam strawbery, anggrek, ketela, bayam, lombok juga oyong. Ikhsan juga paling seneng kalo berlari-lari sambil mberantakin seluruh rumah. Tak lupa mencorat-coret seluruh tembok rumah dengan pensil warnanya. Pokoknya seru dan membahagiakan..

Oh my home sweet home dewh...

Komentar

Bunda Farras mengatakan…
wah mbak rumah nya bener bener asri , nyaman banget kayaknya ya ..
Keke Naima mengatakan…
wah mudah2an sy bisa ketularan punya rumah sendiri juga nih.. :)
isma mengatakan…
selamat ya jeng, akhirnya punya home sweet home beneran. semoga betah, dan aku juga ketularan punya rumah juga ya, amiin.
bundanya i-an mengatakan…
wah senengnya.... tapi emang jodoh-jodohan punya rumah... kalo bukan jodoh ya ngabur walau kita naksir berat he he he mudah2an aku juga cepet ketularan punya rumah sendiri..he he soalnya lagi naksir juga neh.. hmmm tapi rumahnya gak tau naksir aku apa nggak yah? he he he...
annin mengatakan…
"Jadikanlah rumah kita sebagai tempat yang dapat menentramkan hati dan jiwa bagi para penghuninya, rumah yang membuat keluarga merasa betah berada di dalamnya, rumah yang penuh degan suasana kelembutan dan kasih sayang serta dihiasi dengan ibadah kepada ALLAH ...."Salam kenal ya

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…