Langsung ke konten utama

batik & membatik

minggu ini ada satu kegiatan yang saya seneng banget melakoninya. Kebetulan sekali pengurus darmawanita tempat saya menyelenggarakan kursus membatik. Wah, kalo kata batik sudah familiar di telinga, tapi kalau membatik sendiri? belom terbayang di kepala, apa ya bisa? karena megang canting buat batik saja, saya belum pernah. Baju batik saya juga seneng memakainya. Jadi ini kesempatan yang langka batin saya. Akhirnya dengan pede saya ikutan daftar. Berhubung ni kegiatan panitianya darmawanita, jadi biayanya disubsidi 50%. Total saya cuma bayar 75 ribu aja dan bakalan dapet handout materi, seperangkat canting untuk membatik, celemek & kain katun primisima sepanjang 2,5 meter. Plus makan siang ding..lumayan banget.

kegiatan ini diikuti kuranglebih 9 orang ibu-ibu yang sama sekali belum pernah membatik. Jadi instrukturnya memberi materi benar-benar dari dasar. Alat-alat apa saja yang dipakai dalam membatik,kemudian motif-motif batik juga jenis-jenis & cara pewarnaan batik. Ternyata rumit & njlimet. Untuk cantingnya ajah ada 3 macem. Canting klowong, canting cecek 1 dan canting cecek 2.
Awalnya kita harus menentukan motif. Setelah ketemu motifnya lalu kita gambar pake pensil pada kain katun. Proses ini bagi saya makan waktu 1 hari. Karena terus terang saya ga bisa gambar dan musti "ngeblat" motif yang sudah ada. Wong gambar di buku gambar aja ga bagus apalagi disuruh gambar di kain sepanjang 2,5 meter, jadi maklum kalo jadinya ga rapi hehe. Karena saya pilih motif yang kecil-kecil terang aja proses gambar di kain ini butuh waktu lama.

hari berikutnya saya memulai menutupi motif yang saya gambar pada kain dengan malam(lilin) yang dipanaskan pake wajan dan kompor kecil. Ini proses yang paling susah menurut saya. Habis setiap kali malam saya ambil pake canting selalu saja menetes pada kain. Dan saat menggoreskan malam pada motif harus benar-benar hati-hati supaya malam tidak "mleber". Trus malam yang digoreskan pada motif harus tembus sampai belakang kain supaya besok kalau diwarna bisa tertutup sempurna.

proses memberi malam pada kain butuh waktu lama. Sudah 3 hari saya mencanting malam pada kain belum juga kelar. Ga tau dewh kapan kelarnya hehe.. Untungnya instrukturnya baek banget, kita diberi kebebasan kapan mau nyelesain kain kita. Mau seminggu, atau sebulan boleh aja. Mereka tetep membimbing dan bantu. Baek kan?
nah kalau saya mungkin butuh waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan karya saya. Maklum dewh wong masih amatir banget. semoga aja semangat dan kesabaran membatik saya ga kendor jadi bisa cepet kelar hehe...

Komentar

Fitri3boys mengatakan…
waw keren..membatik nih bu
Maya mengatakan…
minta bantuin ikhsan ajah mbaa hehehehe
Bunda Farras mengatakan…
wah asyiik nih mbak buat pengalaman.. nambah ilmu sapa tau nanti jadi pengusaha batik he he .. di tunggu cerita hasil hasil membatiknya ya mbak ..
Desy Noer mengatakan…
Wah kreasinya bagus tuch..!
Boleh dunk kapan-kapan diajarin.
Keke Naima mengatakan…
wah asik banget kegiatannya... pengen deh saya.. :)
Anonim mengatakan…
Hallo Kak Ikhsan, salam kenal dari Dita. Hehehe seneng deh bisa ketemu temen blogger yang stay di Jogja. Kalau Kak Ikhsan di Sleman, Bundanya Dita dari mBantul nih :-)

Waa..jadi inget dulu pas masih rumah di Jogja (skr kan di Bantul), suka main ke rumah tetangga yang suka membatik juga. Wkatu itu pernah nyoba, tapi krn msh kecil sekarang lupa hehehe. Jadi pengin juga nih ikut membatik :-)

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…