Langsung ke konten utama

cerita weekend

weekend kemaren kami sempatkan ngajak ikhsan jalan-jalan ke museum dirgantara sebelum kangmas berangkat ke surabaya. Biar ikhsan bisa liat pesawat beneran. Ternyata koleksi pesawatnya lumayan banyak dan kebanyakan pesawat-pesawat tua yang dipakai sekitaran tahun 1945an sampai 1970an. Awalnya ikhsan takut ngeliat pesawat yang gede2 bener, lama-lama seneng apalagi ada pesawat & helikopter yang bisa kita naiki.

ini poto-poto kita pas disana...

Komentar

lidya mengatakan…
ikhsan mau jaid pilot nih ceritanya
Ummi Zalfa mengatakan…
Zalfa mau donk ikut mas Ikhsan naik helikopter hehehe
Vera mengatakan…
tik, museumnya di mana? azka plg suka tuh...bln depan pas ke jogja mo ajak azka aaah
Desy Noer mengatakan…
wah, senengnya Ikhsan udah liat pesawat terbang beneran. kapan-kapan ngajakin zaheer ya..
Anonim mengatakan…
Jeng..museum dirgantara itu yang di dkt perempatan gramedia itu kan? Hehehe ini org jogja gak gaul :D . Mas Ihksan kayaknya menikmati banget, sampai gak liat kamera foto ;-)
Ntar kalau pulang ke jogja aku juga pengin ngajak jalan2 Dita keliling Jogja sampai puas nih...
Keke Naima mengatakan…
mas ikhsan..gimana rasanya naek helikopter? enak gak? :)
entik mengatakan…
@ jeng ririn & Vera; ini museum letaknya di kompleks AURI janti dekat jembatan layang, jadi bukannya deket per4an gramedia..

dan museum ini sebenarnya selalu jadi objek tujuan jalan2 rombongan anak2 TK di djogja karena pesawatnya lumayan banyak dan ada yang bisa dinaiki hihi.., jadi2 anak-anak rata2 pada suka
Anonim mengatakan…
Wooo.. di Janti to? Hahaha aku bener2 org Jogja gak gaul nih hahaha. Hehehe ntar kalau ke Jogja di paranin deh museumnya. Thanks infonya ya... :-)
isma mengatakan…
senengnya ihsan jalan2 sm bpk ibu. shinfa pernah ke museum itu, sekali, sama temen2 sekolah di Salam. Mang menyenangkan...

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…