Langsung ke konten utama

tantrum pada anak

seminggu terakhir ini ikhsan sangat "sensi". Seringkali ada hal-hal yang tidak berkenan di hatinya. Akibatnya, ikhsan akan berteriak-teriak dan nangis kenceng banget ampe tetangga-tetangga pada denger. Jadi rada ga enak deh. Terkadang pun tidak cukup dengan teriakan dan tangisan yang keras, ikhsan masih memukul-mukul saya sambil berteriak," aku marah sama ibu..."
Sebenarnya kadang hanya persoalan sepele saja seperti saya mengajak ikhsan mandi waktu ikhsan masih maen atau memintanya agak mundur saat nonton tipi dan saya langsung "dicap bersalah" sama ikhsan karena menganggu kenyamanannya saat bermain atau nonton tipi.

Alasan yang sepele tapi bisa berakibat teriakan dan tangis. Berhentinya juga ga sebentar. Biasanya ikhsan berhenti berteriak setelah saya meminta maaf dan bertanya," kenapa ikhsan marah sama ibu?"
Dengan tersengal-sengal ikhsan menjawab,"tadi ibu bilang mandi tapi kata ikhsan ga mandi..."
"oya?, ibu minta maaf ya?"
Terus ikhsan mengangguk-angguk. Tangisan dan teriakannya berhenti. Selang beberapa menit saya kira kasus itu selesai dan saya beranjak akan pergi, eh tak disangka ikhsan mulai berteriak-teriak dan nangis lagi katanya," aku masih marah sama ibu..."
Weh, saya tepok jidat kalau dah gini..
Dan biasanya saya akan duduk di dekat ikhsan menunggu teriakan dan tangisannya mereda. Diam dan tidak berkata apa-apa. Yang heran adalah mba yang momong ikhsan. Mungkin dia pikir kok saya tega mendiamkan ikhsan yang lagi teriak-teriak dan nangis histeris itu tanpa berbuat apa-apa.
Setelah agak reda tangisannya baru ikhsan saya peluk dan saya bisikkan di telinganya,"ibu sayang ikhsan..."
Kemudian ikhsan mengangguk-angguk dan berhenti deh tangisnya. Sudah itu bisa diajak maen-maen kayak dah lupa tadi barusan jadi rocker yang bikin berisik tetangga hehehe...

Hari ini saya coba browsing beberapa artikel yang membahas tantrum karena menurut persepsi saya ikhsan mengalaminya. Maksudnya biar ga salah dalam penanganannya :) Ini coba saya share rangkuman tentang tantrum.

ketika tantrum terjadi, maka yang sebaiknya dilakukan adalah:
* Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum,
pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum di rumah maupun di luar ruma, jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak
*Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.
*Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi/mendengarkan. Usaha menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan.
*Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau complaint (dengan berkata: "kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih"; "kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong"), kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan "mama/papa sayang kamu", "mama ada di sini sampai kamu selesai". Yang penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orangtuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia.

ketika tantrum sudah berlalu...,
*Saat Tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan emosi yang telah terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, teguran, maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun, dan anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika Tantrum terjadi karena menginginkan sesuatu).Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orangtua akan terlihat konsisten dan anak akan belajar bahwa ia tidak bisa memanipulasi orangtuanya.
*Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak, membaca buku atau bermain sepeda bersama. Tunjukkan kepada anak, sekalipun ia telah berbuat salah, sebagai orangtua Anda tetap mengasihinya.
*Setelah Tantrum berakhir, orangtua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi Tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau orangtua yang salah merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustrasi, lapar,atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar orangtua bisa mencegah Tantrum berikutnya.
*Jika anak yang dianggap salah, orangtua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Kalau memang ingin mengajar dan memberi nasihat, jangan dilakukan setelah Tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika keadaan sedang tenang dan nyaman bagi orangtua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika Tantrum belum dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi Tantrum. Saat orangtua dan anak sedang gembira, tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang ideal.

nah, semoga informasi ini bermanfaat buat temen-temen kalau menghadapi anak kita yang mengalami tentrum..

Komentar

Lidya mengatakan…
Thanks infonya ya mbak, semoga bermanfaat
Bunda Farras mengatakan…
sama persis yang terjadi sama Farras beberapa minggu ini, nangis karna hal sepele .. memang perlu kesabaran extra ngadepinnya mbak .. aku aja kadang suka gregetan kalo farras tantrum pas aku nya lagi bad mood .. :)
Bundanya Nay dan Carissa mengatakan…
Makasih mbak infonya :)
Kalo nay lg ngambek atau punya kesalahan yg bikin nay nangis gak karuan aku biasanya langsung tuntun nay ke kursi panas nya di pojok kamar.
Biasanya setelah itu nay minta maaf dan bilang kalo setan di hatinya sudah pergi, hehehe
BunDit mengatakan…
Dita juga pernah begitu. Kalau kita membujuk2 malah makin kenceng tangisnya. Pokoknya apa yg kita lakukan jd serba salah. Jd saya diem aja. Lama2 diem sendiri si anak. Thanks infonya jeng :-)
Desy Noer mengatakan…
makasih share nya.
Motik mengatakan…
umur segini memang masa2 nya tantrum ya mbak. Kyara juga pernah. Bener banget info nya mbak entik. Membujuk2 anak yg lagi tantrum ibarat menyulut api dgn bensin. Aku juga biasanya ku diamin dulu sebentar. Kalo Kyara udah tenang, malah dia yang aka nyamperin aku duluan. ato aku tanya, Kyara udah belum marahnya? Kalo masih tantrum dia tetep aja nerusin angisnya, tapi kalo udh tenang dia langsung peluk aku. Anak kecil pun ternyata memang butuh meluapkan emosi nya ya... :)

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…