Langsung ke konten utama

cerita lebaran 2010

sebelumnya kami sekeluarga mengucapkan......


lebaran tahun ini seperti lebaran tahun-tahun yang lalu diisi dengan wira-wiri-nya kami dari rumah eyang di condongcatur dan rumah mbah kakung di bantul. Sejak resmi menikah tepatnya 5 tahun yang lalu, acara lebaran saya dipenuhi dengan acara sawalan trah keluarga dari pihak saya dan dari pihak mas sejak hari pertama sampai hari ketiga. Hari-hari sisanya buat silaturahmi ke tetangga dan saudara yang lain.

malam takbir kami sudah meluncur menuju rumah mbah kakung di bantul. Kebetulan lebaran tahun ini hanya kami saja yang datang menginap sejak malam takbir. Anak-anak mbah kakung yang lain datang di hari kedua dan ketiga. Jadi lumayan-lah ikhsan bisa menambah keramaian rumah mbah kakung dan mbah putri di bantul.
Pagi harinya, ikhsan bisa bangun pagi dan ga rewel disiapkan buat ikut sholay ied di masjid. Dengan baju koko baru ikhsan dengan riang ikut berjalan bersama kami dan mbah kakung-putri. Sesampainya di masjid, ikhsan juga ga ribut dan langsung memilih sholat dengan mas di barisan shaf laki-laki. Ikut sholat dengan khidmad dan tidak rame. Selesai sholat baru ikhsan berlari mencari saya di bagian shaf putri.

malam harinya saya dah meluncur menjemput mba ratna (kakak saya dari solo yang lebaran di rumah mertuanya di bantul juga) menuju rumah eyang di condongcatur. Hari kedua lebaran jadwal kami adalah sawalan trah keluarga sontodiryo dari jalurnya eyang. Ikhsan sudah girang banget bakalan ketemu naufal dan hayyun, anak-anak mba ratna. Mereka sebaya, Naufal (7 th) dan Hayyun (2,5 th). Jadi klop lah mereka.
Sampai di rumah eyang, kakak dan adik saya dari semarang sudah ngumpul. Dan rumah eyang yang biasanya sepi sekarang jadi rame banget denga formasi komplit, 4 orang anak, 2 menantu dan 3 cucu laki-laki.

hari ketiga, kami sudah harus ke bantul lagi untuk acara sawalan trah ahmad sobari dari jalur mbah putri. Anggotanya sudah banyak banget dan ada beberapa wajah yang saya tidak mengenali. Maklum sejak jadi istrinya mas, saya jarang ketemu dengan keluarga besarnya. Hanya pas acara sawalan gini bisa ketemu, itu juga ga bisa ngapalin semuanya karena hampir 100an orang lebih.

hari keempat, saya dan mas tepar. Capek berat. Saya masuk angin dan tekanan darah drop. Alhasil seharian kami hanya tiduran di rumah eyang. Ga kemana-mana..

hari kelima, saya sudah harus ngantor dan ada acara sawalan seluruh keluarga besar kantor. Berhubung asisten masih mudik, jadi ikhsan saya ajak ikut sawalan di kantor. Kami dapet tempat duduk di bagian depan. Nah pas saat ustad yang akan mengisi pengajian sawalan berdiri memegang mic, kontan ikhsan langsung bertanya," ibu.. itu orangnya mau nyanyi ya? kok bawa mic?"
weks.. rada malu juga nih, abis ikhsan tanyanya sambil teriak. Sampai deretan tamu undangan di depan pada menolehke arah ikhsan.
"sstt.. enggak itu mau kasih pengajiab," kata saya pelan.
Setelah itu ikhsan mau diem dan rada anteng. Selanjutnya pas tamu undangan dan kepala kantor diberi gelas aer putih di depan meja masing-masing, eh ikhsan teriak lagi," ibu... aku mau mimik putih itu!"
weh, saya langsung ngajak ikhsan keluar ruangan... hehe..

Komentar

Percik Keluarga mengatakan…
sikap anak-anak memang tak terduga ya... karena itulah, orang sekeliling pun pasti memahami. Namanya juga anak-anak, ya gak bu? ^-^
Fitri3boys mengatakan…
met lebran ya bu, maaf lahir batin..padat acara lebarannya ya......
Motik mengatakan…
selamat idul fitri mbak entik sekeluarga... maaf lahir dn batin ya mbak :)
dina mengatakan…
Kunjungan perdana, salam kenal :), Selamat idul fitri mohon maaf lahir bathin ya
Bunda Farras mengatakan…
met idul fitri mbak .. mohon maaf lahir & bathin .. senang ya mbak bisa bertemu dengan sanak saudara ..
entik mengatakan…
@ all: maaf lahir bateen juga ya...
Isma Kazee mengatakan…
gimana buk, sudah sehat kan, nggak tepar lagi ... met lebaran ya, biar telat nggak papa hehe. mohon maaf lahir batin ;-)

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…