Jumat, 12 November 2010

merapi meletus (part 2)

sudah 2 kali letusan hebat merapi mengarah ke selatan atau ke arah yogyakarta yaitu tanggal 30 oktober dan 5 November 2010. Dan saya mengalami dan merasakan kepanikan masyarakat dengan letusan itu.
Radius aman yang ditetapkan pemerintah pada letusan hebat itu adalah 20 km dari puncak merapi. Daa..an rumah saya berada di area itu. Kalau ditarik garis dari udara, jarak rumah dengan puncak merapi sekitar 17an km. Waa.aw, panik dan takut rasanya..

Hari sabtu tgl 30 Oktober, jam 1 dini hari ketika kami sedang nyenyak tertidur, ternyata merapi meluncurkan lahar dan awan panas ke arah yogyakarta. Suara dentuman dan getaran sangat terasa dari rumah.
Saya yang kebetulan tidur di kamar depan dengan ikhsan mendengar suara ribut-ribut di depan rumah. Pintu pagar rumah pun dipukul-pukul oleh tetangga sambil berteriak-teriak, "pak sigit...pak sigit..."
Lha saya terbangun dan buru-buru berlari ke kamar sebelah, tempat mas tidur. Dalam pikiran saya sudah ada perasaan ga enak. Pasti ada sesuatu.
Mas tidur nyenyak banget dan susah dibangunkan. Ketika berhasil membuka mata, saya dengan rada deg-degan menyuruh mas keluar untuk melihat keadaaan
"Mas, cepet keluar, kayaknya ada sesuatu deh..." kata saya terbata-bata

mas buru-buru keluar dan ternyata tetangga-tetangga desa sudah berada di luar.
Tetangga samping rumah sudah menyalakan mobil dan terlihat tergopoh-gopoh. Dengan penuh tanda tanya, mas bertanya," ada apa?"
dan tetangga sebelah menjawab dengan napas tersengal-sengal menjawab," ayok ngungsi cepet. Merapi meletus dan radius 20 km harus dikosongkan!"
Dan suara gemuruh merapi pun sesekali terdengar.

panik, deg-degan, takut dan bingung adalah perasaan yang menyergap kami. Perasaan yang kacau balau itu menghidupkan kembali ingatan saya ketika gempa bumi di yogya tahun 2006 yang lalu. Saya yang dulu juga sempat mengalami dan merasakan guncangan bumi di tahun 2006 di bantul, merasa perasaan yang kacau balau itu kini hidup lagi.
Pada gempa bumi 2006, kaki saya sempat tertimpa tembok dan masih harus berlari-lari ke perbukitan karena ada isu tsunami dan terpisah dengan suami. Sakit pada kaki tidak terasa karena otak sudah dipenuhi dengan perasaan takut dan khawatir.
Setelah semuanya reda, barulah kaki terasa sakit untuk digerakkan dan untuk berjalan. Dan waktu itu selama 2 minggu saya tidak bisa berjalan karena kedua kaki saya bengkak.

Trauma bencana masih jelas dalam pikiran saya dan mas. Tanpa banyak kata kami langsung bersiap mengungsi. Mba wal -asisten saya- langsung saya bangunkan dan saya ajak mengungsi. Tidak ada baju yang sempat kami bawa. Hanya badan dan sedikit susu punya ikhsan dan makanan yang sempat saya ambil. Panik dan merasa diburu waktu sehingga tidak terpikir mau bawa apa.

Ketika semua makanan masuk mobil, mas buru-buru mengunci pintu rumah.
"ayok jeng cepet..."
"Lho mas, ikhsan belum masuk mobil. Masih di kamar," teriak saya panik.
"Lha piye to jeng? tak kira dah digendong masuk..."
Buru-buru saya berlari menggendong ikhsan keluar kamar. Huff... untung nak, kamu ga ketinggalan.

Di sepanjang jalan, gelombang masyarakat yang mengungsi sudah memenuhi jalan raya. semua kendaraan mengarah ke kota Yogya, menjauhi merapi. Di tengah derasnya hujan pasir dan abu, kami melaju. Tujuan kami adalah rumah eyang di condongcatur. Jarak rumah eyang dengan merapi sekitar 35an km. Jadi masih berada di zona aman.

Di dalam mobil tak henti kami bersyukur kepada Allah masih diberi kesempatan keluar dari rumah, menjauh dari merapi. Bersyukur juga, karena masih punya tujuan tempat mengungsi, sedangkan masyarakat yang tidak punya kerabat di kota yogyakarta terpaksa harus mengungsi di stadion maguwo yang disediakan olah pemda.
Kasihan karena penduduk desa tidak banyak yang punya mobil, jadi evakuasi diri mereka dilakukan dengan truk-truk terbuka dan motor yang dimiliki. Padahal dini hari itu hujan abu sangat lebat. Bisa kebayang pernafasan mereka terganggu dengan abu vulkanik yang betebaran di jalan.

2 hari setelah letusan yang hebat itu, saya memberanikan diri menengok rumah dengan disertai beberapa orang teman kantor.
Duh... suasana ngeri dan mencekam langsung menyergap. Di sepanjang jalan menuju rumah, bagaikan desa mati karena semua penduduk mengungsi. Rumah-rumah kosong dan toko tidak ada yang buka, sementara abu vulkanik masih tebal dan jarak pandang kurang dari 5 meter.
Sesekali suara gemuruh merapi masih terdengar menambah suasana yang mencekam itu.
Sampai di rumah, saya melihat rumah saya sudah putih tertutup abu dan sepi karena tidak ada orang. Saya hanya bertemu 1 orang tetangga depan rumah, yang menceritakan bahwa seluruh penduduk desa sudah mengungsi dan hanya ada para pemuda saja yang menjaga desa untuk mencegah orang-orang yang berniat jelek masuk desa.

Huff..., saya menarik nafas melihat pemandangan rumah. Sekarang pohon-pohon yang hijau menjadi putih tertutup abu vulkanik. Semua aktivitas penduduk di desa hilang, karena ditinggal mengungsi. Ternak pun ditinggal. Hilang sudah suasana asri dan hijau desa di rumah. Sepi dan mencekam.
Saya tidak tahu sampai kapan keadaan akan seperti ini, karena desa kami berada di radius 20 km dari puncak. Sementara itu, desa kami hanya berjarak 500 meter dari sungai kuning yang sekarang dipenuhi matrial gunung merapi. Jika hujan lebat terjadi di puncak merapi, bisa dipastikan terjadi banjir lahar dingin di sungai kuning. dan kalau dam di sungai tidak bisa menampung, lahar dingin itu bisa saja berlari masuk desa kami...

hiks..hiks sedih kalau membayangkan berbagai kemungkinan itu.
Hanya doa dan permohonan ampun yang dapat kami panjatkan kepada Allah, semoga bencana ini segera berlalu dan kami bisa hidup normal seperti sedia kala lagi

ini beberapa foto yang saya ambil di dekat rumah, 2 hari setelah letusan merapi tanggal 5 november. Tebalnya debu vulkanik benar-benar menghalangi jarak pandang di jalan..



13 komentar:

Bunda Nayla mengatakan...

Alhamdulillah semua masih diberikan keselamatan ya mbak...semoga bencana merapi cepat berakhir kasian para pengungsi, aku liatnya aja di tv ngenes :(

vera mengatakan...

duuh ikutan merinding dan deg2an ngebayanginnya. Mudah2an merapi segera berhenti ya.

Mertua ma adek iparku juga ngungsi, tik, rumahnya kan di 19 km dr merapi. Untung rumah mertua adek ipar di piyungan masi aman, jd mereka semua ngungsi ke sana. Tadinya mbah buyut azka ga mau ngungsi, akhirnya ditinggal dg terpaksa. Besoknya, dijemput lagi, mbah buyut azka lagi nangis ketakutan dan akhirnya mau ikut ngungsi. Liat dari foto-foto diinternet bikin merinding dan sedih ya.

Bunda Farras mengatakan...

semoga cepat berlalu ya mbak .. liat di TV aja ngeri pa lagi mengalami sendiri ..

IbuDzakyFai mengatakan...

aduh jeng...ikutan sedih ....moga keadaan cepat normal lagi dan .....Moga slalu dalam lindunganNya, AMin

entik mengatakan...

@bunda nay: alhamdulillah kami baik-baik. Semoga bencana merapi ini segera berlalu

@vera: ya emang kudu mengungsi ver, untuk keamanan kita juga. Syukur kalau mertua dapet tempat mengungsi di saudara..

@bunda farras: amien.., semoga semuanya kembali normal

@mba fitri: iya, sedih kalau keinget masyarakat yang ngungsi di satdion. Stres mba.., karena mereka cuma duduk diam saja padahal biasanya mereka beraktivitas banyak

BunDit mengatakan...

Duuh...merinding aku baca ceritanya Jeng. Hanya bisa mendoakan jeng, semoga Allah selalu melindungi jeng sekeluarga dan saudara2 kita di Jogja. Semoga keadaan makin membaik. Amin

titik yustha mengatakan...

aduh mbak....
sy ikut panik tapi juga ketawa mbaca ikhsan hampir ketinggalan...
hehe....

Semoga segera berakhir ya mb..
Ni beberapa teman ngantor di sini mb, termasuk pak sardi... :)

Zulfadhli's Family mengatakan...

Gw bacanya ikutan deg2an MBa, serasa ada disono juga. Alhamdulillah Mba Entik sekeluarga sempat mengungsi yah, dan pake kendaraan sendiri jadi ga menghirup banyak abu seperti orang2 yang ngungsi pake truk. Alhamdulillah banget Ikhsan ga ketinggalan di rumah :-)

Semoga ga lama lagi Merapi berhenti memuntahkan wedhus gembel yah Mba, sehingga kehidupan bisa berjalan seperti biasa lagi.

lidya mengatakan...

serem ya mbak, sedih juga dengernya

BABY DIJA mengatakan...

wah wah... untung Mas Ikhsan gak ketinggalan hehehehee

Mama Entik, hati hati yaa

Elsa mengatakan...

iya ya Mbak,
kasihan mereka yang gak punya mobil, yang serba terbatas, yang gak punya tujuan mengungsi
yang harus terlantar di pengungsian entah sampai kapan, sementara rumahnya rata dengan tanah...

duh,
semoga merapi segera stabil
dan tidur panjang

dey mengatakan...

duh, udah lama gak kesini, ikutan prihatin dgn musibah ini, mudah2an selalu diberi kekuatan menjalani semua ini ya ..

omietha mengatakan...

Iya jeng entik, smg merapi sgera anteng ya mb. Sy bs ngerasain yg mb rasain, tengah mlm itu, keluarga tlpn minta kami turun ke jogja, tp ga mmungkinkan cm pake mtor, hujan abu deras. Alhamdulillah, smua sehat