Kamis, 12 Mei 2011

dadaah bapak..

kemarin, mas sudah menunjukkan surat tugas ke jakarta. Weks.. baru 2 hari di rumah dah terbang lagi, batin saya rada manyun. Tapi jangan ditanya ikhsan, apa dia sedih atau enggak bakal ga liat bapakna beberapa hari kedepan. Ketika dikasih tahu kalau bapakna mau ke jakarta, ikhsan sontak berteriak gembira.
"ayok ngantar bapak ke bandara. Aku mau naek ke anjungan. Mau lihat pesawat Lion dan Garuda."

Ga masalah ditinggal bapak, yang penting bisa ke bandara liat pesawat. Dan pagi tadi, saya dan ikhsan melakukan rutinitas yang sebenarnya ga begitu saya sukai tapi sangat disukai ikhsan, yaitu mengantar bapak ke bandara.

"ibu, jangan lupa bawa gendongan ya? ntar ikhsan digendong, biar bisa liat pesawat di anjungan!" ikhsan dah wanti-wanti saya.
Di anjungan pengantar bandara, dulu sebenarnya ada kursi yang diperuntukkan bagi pengunjung. Karena jendela anjungan agak tinggi, jadi banyak anak-anak yang akhirnya naek ke kursi supaya bisa lihat pesawat yang mendarat atau terbang.
Nah, sudah beberapa bulan ini, tuh kursi lenyap alias ga ada. Walhasil saya kudu gendong ikhsan supaya dia bisa liat pesawatnya. Dan ikhsan tetep minta digendong sampai dia liat bapakna naek pesawat, dadah dan akhirnya pesawat itu terbang. Kadang saya kudu gendong ampir 30-45an menit. Weks, bisa dibayangkan bahu saya pegel-pegel karena nggendong anak umur 4 tahun dengan bobot yang ga ringan.

Menjelang berangkat saya tiba-tba saya punya ide buat bawa dingklik plastik (kursi plastik kecil. Nanti ikhsan bisa berdiri di atas dingklik itu di anjungan daan saya ga perlu gendong selama 30an menit. Akhirnya saya masukkan dingklik itu ke dalam tas dan berangkatlah kami ke bandara. Sampai di bandara, setelah melepas bapakna check in, ikhsan langsung menarik tangan saya.
"ibu, ayok kita ke anjungan!"
saya pun mengikuti langkah ikhsan menuju anjungan pengantar. Dengan membayar 3000 perak kami dipersilakan masuk. Wah, ternyata anjungan penuh. Biasa memang kalau penerbangan pagi memang padat dan banyak pesawat. Alhamdulillah saya dapat posisi yang pas buat ikhsan. Dengan berbekal dingklik, saya meminta ikhsan untuk berdiri di atasnya. Daan, dengan nyantai ikhsan bisa liat pesawat yang gede-gede itu plus kasih komentar-komentar. Sampai akhirnya dadah sama bapak...
"dada..aah bapak..."
Jadi, makasih dingklik.., sudah menyelamatkan bahu dan badan saya dari pegal-pegal..

9 komentar:

lidya mengatakan...

minta oleh2 kursi lipat kecil bu ke bapak untuk iksan :)

entik mengatakan...

@mba lidya: makasih idenya mba..,selama ini ga kepikir beli kursi lipat kecil buat keperluan yang satu ini hehe..

Desy Noer mengatakan...

good boy ikhsan... baik-baik yaa sama bunda di rumah. hehe.. yang penting kan ikhsan dah jalan-jalan lagi ke bandara, dan yang gak kalah penting lagi oleh-olehnya yaa..

Bunda Farras mengatakan...

wah hebat juga nih ide ibu .. hahhahah

ke2nai mengatakan...

idenya kreatif :D

Bundit mengatakan...

Hahahah emang namanya anak2 ya...walau ditinggal pergi, tetep aja yang dipikir yang seneng2 aja :D

Gaphe mengatakan...

wahahaa... ini mah judulnya dingklik penyelamat!. biar kecil, tapi sangat membantu.. apalagi kalo mau nyuci baju

*plaaak
Nggak nyambung blas komennya, cuman nyesuaiin biar rima-nya bagus. u-u

Zulfadhli's Family mengatakan...

Hihihi, diirmyu jenius yah Mbakyu! Alhamdulillah ga kena encok-pegel-linu hari ituh :-)

Elsa mengatakan...

hihihihiii... dingklik....
disini nyebutnya juga dingklik