Langsung ke konten utama

dadaah bapak..

kemarin, mas sudah menunjukkan surat tugas ke jakarta. Weks.. baru 2 hari di rumah dah terbang lagi, batin saya rada manyun. Tapi jangan ditanya ikhsan, apa dia sedih atau enggak bakal ga liat bapakna beberapa hari kedepan. Ketika dikasih tahu kalau bapakna mau ke jakarta, ikhsan sontak berteriak gembira.
"ayok ngantar bapak ke bandara. Aku mau naek ke anjungan. Mau lihat pesawat Lion dan Garuda."

Ga masalah ditinggal bapak, yang penting bisa ke bandara liat pesawat. Dan pagi tadi, saya dan ikhsan melakukan rutinitas yang sebenarnya ga begitu saya sukai tapi sangat disukai ikhsan, yaitu mengantar bapak ke bandara.

"ibu, jangan lupa bawa gendongan ya? ntar ikhsan digendong, biar bisa liat pesawat di anjungan!" ikhsan dah wanti-wanti saya.
Di anjungan pengantar bandara, dulu sebenarnya ada kursi yang diperuntukkan bagi pengunjung. Karena jendela anjungan agak tinggi, jadi banyak anak-anak yang akhirnya naek ke kursi supaya bisa lihat pesawat yang mendarat atau terbang.
Nah, sudah beberapa bulan ini, tuh kursi lenyap alias ga ada. Walhasil saya kudu gendong ikhsan supaya dia bisa liat pesawatnya. Dan ikhsan tetep minta digendong sampai dia liat bapakna naek pesawat, dadah dan akhirnya pesawat itu terbang. Kadang saya kudu gendong ampir 30-45an menit. Weks, bisa dibayangkan bahu saya pegel-pegel karena nggendong anak umur 4 tahun dengan bobot yang ga ringan.

Menjelang berangkat saya tiba-tba saya punya ide buat bawa dingklik plastik (kursi plastik kecil. Nanti ikhsan bisa berdiri di atas dingklik itu di anjungan daan saya ga perlu gendong selama 30an menit. Akhirnya saya masukkan dingklik itu ke dalam tas dan berangkatlah kami ke bandara. Sampai di bandara, setelah melepas bapakna check in, ikhsan langsung menarik tangan saya.
"ibu, ayok kita ke anjungan!"
saya pun mengikuti langkah ikhsan menuju anjungan pengantar. Dengan membayar 3000 perak kami dipersilakan masuk. Wah, ternyata anjungan penuh. Biasa memang kalau penerbangan pagi memang padat dan banyak pesawat. Alhamdulillah saya dapat posisi yang pas buat ikhsan. Dengan berbekal dingklik, saya meminta ikhsan untuk berdiri di atasnya. Daan, dengan nyantai ikhsan bisa liat pesawat yang gede-gede itu plus kasih komentar-komentar. Sampai akhirnya dadah sama bapak...
"dada..aah bapak..."
Jadi, makasih dingklik.., sudah menyelamatkan bahu dan badan saya dari pegal-pegal..

Komentar

lidya mengatakan…
minta oleh2 kursi lipat kecil bu ke bapak untuk iksan :)
entik mengatakan…
@mba lidya: makasih idenya mba..,selama ini ga kepikir beli kursi lipat kecil buat keperluan yang satu ini hehe..
Desy Noer mengatakan…
good boy ikhsan... baik-baik yaa sama bunda di rumah. hehe.. yang penting kan ikhsan dah jalan-jalan lagi ke bandara, dan yang gak kalah penting lagi oleh-olehnya yaa..
Bunda Farras mengatakan…
wah hebat juga nih ide ibu .. hahhahah
Keke Naima mengatakan…
idenya kreatif :D
Bundit mengatakan…
Hahahah emang namanya anak2 ya...walau ditinggal pergi, tetep aja yang dipikir yang seneng2 aja :D
Gaphe mengatakan…
wahahaa... ini mah judulnya dingklik penyelamat!. biar kecil, tapi sangat membantu.. apalagi kalo mau nyuci baju

*plaaak
Nggak nyambung blas komennya, cuman nyesuaiin biar rima-nya bagus. u-u
Zulfadhli's Family mengatakan…
Hihihi, diirmyu jenius yah Mbakyu! Alhamdulillah ga kena encok-pegel-linu hari ituh :-)
Elsa mengatakan…
hihihihiii... dingklik....
disini nyebutnya juga dingklik

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…