Langsung ke konten utama

jadi "lebih" berani

di kala ikhsan berumur 2-3 tahun saya sempat khawatir dengan perkembangan sosialisasi ikhsan dengan teman sebaya-nya. Sejak bayi, memang ikhsan jarang sekali keluar rumah atau bermain dengan anak-anak tetangga. Sehingga ikhsan seringnya bergaul dengan orang dewasa. Kalau ditanya sama orang dewasa pasti menjawab dan bisa langsung akrab. Tapiii kalau disuruh keluar rumah dan bermain dengan anak-anak tetangga, ga mau sama sekali. Alasannya cuma pengen main di rumah sama mba wal (asisten saya).

duh, saya sempat bingung kala itu. Normal ga sih?? kalau menurut bapakna, itu ga masalah, ntar kalau sudah saatnya, bakalan berani sendiri. Hmm.., saya masih belum yakin. Kemudian sebagai salah satu usaha biar ikhsan bisa bergaul dengan teman-teman sebaya-nya, akhirnya di umur 2,9 tahun kami memutuskan menyekolahkan ikhsan di playgroup.

Di masa awal-awal sekolah, saya masih harus ikut duduk di samping ikhsan. Ikhsan super duper takut kalau disuruh duduk sendiri. Kalau saya pindah duduk si belakang kelas, bakalan mewek. Untung gurunya pengertian banget, saya diperbolehkan ikut duduk di samping ikhsan sampai pelajaran selesai.
Berhubung saya ngantor, jadi tugas nungguin ikhsan di sekolah beralih ke mba wal. Perkembangan sosialisasi ikhsan belum banyak berubah sampai 1 semester. Setelah ikhsan memasuki usia 3,5 tahun, dia sudah mulai enjoy di sekolah. Ikhsan sudah mau bermain dengan teman-teman sekolah.

Kemudian saya dikasih saran oleh kakak saya, untuk setiap sore mengajak ikhsan keluar rumah dan belajar bermain dengan anak-anak sebaya di rumah. Awalnya susah banget ngajak ikhsan keluar rumah. Dia tetep ngotot pengennya maen di rumah sama mba wal. Akhirnya ikhsan mau juga saya ajak keluar maen setiap sorenya. Jadi setiap saya pulang kantor, yang saya lakukan adalah mengajak ikhsan keluar rumah dan keliling perumahan di tempat eyang. Kalau ketemu anak kecil, kami berhenti dan saya mencoba mengajari ikhsan berkenalan dengan anak kecil itu.

Ternyata treatment berhasil. Setelah 1 minggu saya yang ngajak ikhsan keluar untuk main, sekarang kebalikannya, tanpa disuruh, ikhsan bakalan ngacir keluar sambil teriak," ibu aku mau keluar...!"
Nah, kalau sudah gitu, bayangan ikhsan langsung ngilang dan saya atau mba wal harus berlari mengejar ikhsan. Takut kalau tuh anak lari ke jalan besar tanpa liat kiri-kanan.

Sekarang ikhsan sudah lebih berani untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya, baik di rumah maupun di sekolah. Da..an satu hal yang disukai bapakna, ikhsan jadi pemberani karena setiap dia maen sama temannya dan ada perebutan atau dia dinakali temannya, ikhsan sudah mampu membela diri. Jadi tidak ada cerita ikhsan pulang nangis karena dinakali temannya..
Dan untungnya ikhsan ga pernah memulai nakali temannya. Jadi sekarang teman maen ikhsan di rumah banyak. Alhamdulillah kekhawatiran saya dulu ga terbukti. Sekarang ikhsan jadi lebih berani untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Komentar

dey mengatakan…
Karena sudah nyaman dengan teman2nya, jadi seneng deh Ikhsan bersosialisai. Hebat juga ya udah bisa membela diri .. makin pintar ya ...

Fauzan juga gitu kok, waktu masuk TK aja, selama seminggu ibunya nemenin di kelas, setelah itu di tungguin meski diluar kelas dan sekarang Alhamdulillah cuma dianter jemput aja. Padahal Fauzan bukan anak yg susah bersosialisasi.
Lidya mengatakan…
sama kaya Pascal ya gak pernah main jadi aku masukkan pakygroup.tapi kalau dirumah ga pernah keluar,pintu pagarnya aja berat lagi pula banyak motor mobil lewat depan rumah
bundanya i-an mengatakan…
wah ikhsan makin pinter... he he he seiring usia kali ya jeng.. pendewasaan anak pun berkembang.. nyok ikhsan main ke bandung sama i-an nyok...
Bundit mengatakan…
Wah...ikt seneng Mas Ikhsan sdh berani bersosialisasi. Kalau Dita sukanya bergaul dengan anak yang nice, gak nakal gitu jeng. Jadi ada temen akrabnya di kompleks, selalu ngajak main ke sana :-)
Desy Noer mengatakan…
syukurlah kalo ikhsan sekarang udah mau bergaul sama temen-temen sebayanya. seneng kaan bisa banyak temen.

maen bareng yuk ma zaheer..

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…