Langsung ke konten utama

teman baru

setiap kali pulang sekolah, ikhsan selalu cerita kalau dia maen sama mas reza - temannya di sekolah- Katanya seru kalau maen sama reza. Saya sebenarnya penasaran sama yang namanya reza. Setiap kali jemput ikhsan, saya ga ketemu sama dia. Nah, tadi saya sengaja jemput ikhsan agak awal. Niatnya ngilangin rasa penasaran, sama yang namanya reza.

saya nunggu agak lama dan ngobrol sama ibu-ibu lain di halaman sekolah. Begitu ikhsan keluar, dia langsung tersenyum dan berlari ke arah saya. "Hoi... ibu...," teriak ikhsan senang.
"Yang namanya mas reza mana le?" tanya saya penasaran melihat anak-anak keluar kelas.
Ikhsan langsung melihat sekeliling dan berteriak, "nah, itu mas reza," sambil nunjuk anak yang lagi maen ayunan sama ibu dan adeknya.
Ikhsan bergegas mendekati reza dan mulai maen bareng. Saya pun kenalan sama mamanya. Ngobrol sana-sini, ternyata mama reza asli dari condong catur (weks.., sama kayak saya), trus SD-nya di SD Perumnas condongcatur ( satu SD sama saya), cuma duluan saya 3 tahun. Enak juga ngobrol sama mama reza. Rumah kita yang sekarang pun ternyata dekat.

ah, ternyata dunia ini selebar daun kelor hehe....
Karena Ikhsan dapat teman baru dan saya pun jadi punya teman baru..

Komentar

Lidya mengatakan…
jadi nambah teman ya mbak
yustha tt mengatakan…
hahaha...teman baru dari teman barunya ikhsan...
emang gitu ya pergaulan ibu-ibu, temenan sama ibunya temennya anaknya.. (hiyaa...berakhiran -nya semua)
Orin mengatakan…
Punya teman baru memang selalu menyenangkan ya Bu ;)
dey mengatakan…
hehehe, emak2 .. dimana2 sama ya, aku juga jadi banyak nambah temen baru sejak kemarin fauzan masuk SD.
Elsa mengatakan…
sip sip
berteman dengan keluarga teman anak anak kita
kayaknya memang perlu ya Mbak
sekaligus mengontrol gitu
kalo ada apa apa kan bisa saling kontak
baju tanah abang mengatakan…
sippp...mang kadang sperti itu..salam kenal..
Vera mengatakan…
Asyik ya dapat temen baru, Ikhsan makin betah dong y di skulny

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…