Langsung ke konten utama

menikah?????

kalau teman-teman ditanya, di usia berapakah dikatakan ideal untuk menikah???
pasti jawabannya akan beragam. Kebanyakan pasti menjawab diatas usia 17 tahun. UU perkawinan kan mengatur untuk menikah minimal usia 17 tahun.
Nah, kalau menurut saya usia sekitar 25an tahun bagi wanita adalah saat yang pas untuk menikah. Walaupun di jaman sekarang, di kota (catatan bukan pedesaan yang terpencil) usia itu bisa bergeser lagi. Banyak pertimbangannya yang diambill wanita ketika memutuskan untuk menikah.
Sekarang yang menggelayut di pikiran saya adalah, masalah asisten di rumah saya (mba wal) yang masih berusia 15 tahun itu, oleh keluarganya akan segera dinikahkan dengan orang yang belum dikenalnya. Saya sempat kaget dan ga bisa omong apa-apa. Serasa balik di jaman RA Kartini dulu. Menikah tanpa mengenal siapa calon suaminya, dan hanya tahu namanya saja. Sekarang tahun 2011, tapi tetep saja budaya menikahkan anak perempuan di bawah umur banyak terjadi. Saya miris, karena sebenarnya mba wal belum berkeinginan untuk menikah. Dia masih takut menjalani proses itu. Saya dapat memahami ketakutan anak perempuan yang masih dalam masa puber itu. Menikah di usia yang masih terlalu muda memang tidak mudah. Banyak hal yang sebenarnya harus dipertimbangkan seperti kematangan emosi, kesiapan alat-alat reproduksi perempuan serta kesiapan secara finansial. Saya terhenyak karena ternyata, pertimbangan itu oleh sebagian masyarakat dianggap tidak terlalu penting.


Tapi, mba wal lebih takut untuk menolak kehendak orangtuanya untuk menikahkannya. Di sudut hati saya yang terdalam, terbersit keinginan saya untuk menolong mba wal, tapi saya juga tak kuasa. Sebenarnya saya selalu memberi kesempatan kepada mba wal untuk melanjutkan sekolahnya seperti asisten saya yang dulu, mba wahyu. Dulu mba wahyu bisa menyelesaikan SMA-nya selama ikut saya. Sekarang keadaannya tidak memungkinkan bagi mba wal untuk sekolah lagi.
Kebudayaan dan kebiasaan hidup warga asalnya di lereng gunung merbabu magelang memang tidak mementingkan sekolah. Bagi perempuan pendidikan, cukup SD saja dan ketika menginjak usia 15an tahun akan segera dinikahkan. Kalau tidak mengikuti kebiasaan tersebut, bisa terkucilkan.

Nah, lho what can i do now???
dan ikhsan, maaf ya nak, ibu harus mencari pengganti mba wal dan kamu harus belajar adaptasi dengan orang yang baru lagi...hiks

:: just hope Allah, will help us..... amien..

Komentar

yustha tt mengatakan…
mb wal, harus berani bersuara mb. Sekarang jamannya kebebasan berpendapat. Ayo mb...
15 tahun itu masih di bawah umur. Nti suaminya dituntut ky syeh Puji lho.
Nia mengatakan…
Ternyata masih ada mbak orangtua yg seperti itu? menikahkan anak tanpa si anak saling kenal? mana usianya msh terlalu muda....yah moga2 aja mbak wal bahagia sgn rumah tangganya nanti...smoga suaminya jg suami yg baik...

dan utk ikhsan...smoga dapat mbak yang baru.....kasihan ikhsan hrs adaptasi lagi yachh
Orin mengatakan…
Duh...Orin 15 tahun msh ngapain ya?? ini udh disuruh nikah?? *horor*.

Dan semoga Ikhsan segera bisa beradaptasi dg mba baru nantinya ya Bu.
entik mengatakan…
@jeng tt: saya udah komporin si mba wal, tapi tetep aja dia ga berani ngomong sama bapaknya. Jadi ngelus dada dewh..

@mba nia: dari jaman RA kartini sampai sekarang tetep aja tuh budaya menikahkan anak di bawah umur dan belum salin kenal masih terjadi.
semoga aja besok pernikahan mba wal bahagia dan awet.

@jeng orin: emang nih adegan horor kehidupan jeng..
amien, semoga ikhsan dapat mba yang baru dan yang cocok pastiya
puteriamirillis mengatakan…
iya mbak di bbrp tempat masih biasa ya nikah usia dini.bukannya tak boleh hanya saja umur segitu lbih baik sekolah dulu kayanya. tapi karena budaya masih biasa maka ya tdk prioritas pendidikan itu, dan lbh milih menikah atau bekerja (krn tdk ada biaya biasanya)
dey mengatakan…
di lingkungan saya, masih banyak kok yg nikah dibawah umur, bukan krn di paksa, tapi memang mereka mau krn sdh punya pacar.
Pernah, waktu hamil fauzan, pas sama2 ke bidan, disebelah ada yg sedang periksa kandungan juga, tampangnya muda banget, dan ternyata umurnya masih 15 th. Dan keliatannya mereka orang mampu secara materi. Duh ... miris ...
Pakde Cholik mengatakan…
1. Orang Indonesia jika akan menikah tentu harus mengikuti UU dan ketentuan yang berlaku. Untuk itu Kepala Desa harus memberikan penjelasan kepada warganya dengan cara yang arif-bijaksana dengan menjelaskan kerugiannya jika menikah dibawah umur.

2. Dulu memang bisa menikah dibawah umur, umumnya di kampung2 yang akhirnya tak sedikit yang bercerai.

Semoga orangtuanya segera menyadari kekeliruannya ya nduk.

Salam hangat dari Surabaya
Pendar Bintang mengatakan…
Masih ada ya Mbak hal-hal seperti itu, hani aja minta dijodohin amlah gak dijodoh2in katanya cari aja sendiri, hehehhehe

Kasihan Mbak Wal, padahal pastinya dia masih punya segudang mimpi yang harus diwujudkan....
Elsa mengatakan…
susah ya Mbak kalo ditinggal Nanny nya menikah.... tapi ya mau gimana lagi

:(
Bundit mengatakan…
Waduh...15 tahun sudah disuruh menikah? kasihan juga ya mbak Wal. Semoga Ikhsan dapat pengasuh baru yang cocok dan sayang sama Ikhsan ya jeng :-)
HALAMAN PUTIH mengatakan…
Beradaptasi dengan orang baru akan menambah pengalamannya dengan orang yang baru dikenal.

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…