Langsung ke konten utama

ceria bersama

ini foto selalu bikin saya ketawa sendiri, Habisnya bibir kami bertiga kalau manyun bareng-bareng kayak gitu ternyata panjang juga hihi...


ini foto di ambil tahun 2010 lalu di rumah adik saya di semarang. Mas iseng-iseng ngajak ikhsan foto manyun dan akhirnya saya juga ikutan manyun juga ;)

"entik berpartisipasi dalam saweran kecebong 3 warna yang didalangi oleh jeng soes-jeng dewi-jeng nia disponsori oleh jeng anggie, desa boneka,dan kios 108




Komentar

Orin mengatakan…
hahaha...kalo judulnya "manyun berjamaah" lebih keren lho bu hihihihi

Gudlak ngontesnya bu ;)
Keke Naima mengatakan…
heheh... lucu fotonya mbak ^^
Honey mengatakan…
sukses kontesnya bunda :)
DewiFatma mengatakan…
Setuju dengan Orin..hihihi..

Dicatat sebagai peserta ya, Mbak..
Tengkyu atas partisipasinya :)
Lidya Fitrian mengatakan…
pose unyu ya mbak :)
entik mengatakan…
@orin: iya..iya?? manyun berjamaah.hii..

@ke2nai: ngeliatnya pasti akhirnya senyum kan mba? hehe..

@jeng hany: tengkyu

@jeng dewi: aih, ibu juri sudah berkenan hadir.., jadi deg-degan
Mak Cebong 3 mengatakan…
Mak Cebong 3 dataaannngg :-)

Huahaha, kompak Jeng bimolinya (bibir monyong 5 centi). Setuju sama Jeng Orin, judulnya "Senyum Kinclong Berjamaah" ajah hehehe

Thanks yah BuMil udah mo berpartisisapi di Sawerannya Mak Cebong. Kalo berminat masih ada 2 kategori lagi tuh menanti. Mbok yah disikat abis ajah toh Jeng :-)
marsudiyanto mengatakan…
Bagus dan saya setuju juga seandainya judulnya Manyun Berjamaah...
Selamat berkontes Mbak, semoga sukses...
Salam
puteriamirillis mengatakan…
hahahaha...iya ya manyun berjamaah...mantap mbak..nilai berjamaah itu 27 derajat lebih tinggi looh...sukses mbak.
Nia mengatakan…
hihihi...fotonya bisa kompak begitu yachhh......salut dech bener2 keluarga yg harmonis hehehe...

terimakasih mbak entik atas partisipasinya...sdh tercatat sbg peserta....

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…