Langsung ke konten utama

mengukur tinggi badan

untuk memantau perkembangan anak, biasanya diukur dari berat badan, lingkar kepala dan tinggi badan. Sejak ikhsan bayi saya juga selalu mengukur BB, lingkar kepala dan tinggi badan. Waktu itu saya ngukur lingkar kepala dan tinggi badan ikhsan pake meteran jahit. Trus saya catet di KMS-nya.
Nah ketika ikhsan mulai berumur 2 tahun, rada susah ngukur tinggi badan ikhsan pake meteran jahit. Kalau mau diukur, malah meterannya ditarik-tarik dan buat mainan. Yah, jadi menyerah dewh..., sampai akhirnya mas cerita ke saya tentang cara ngukur tinggi badan anak balita. Katanya dia dapat dari temen kantor, sebut saja Pak U.

Menurut Pak U, anaknya disuruh berdiri mepet tembok kemudian di bagian atas kepala dikasih coretan di tembok dan ditulis tanggal pengukurannya pake bolpen. Nah sejak tahun 2009, setiap 2 bulan sekali, ikhsan akan disuruh mas untuk berdiri mepet di tembok dan akan diukur. Dan lucunya, ikhsan pasti nurut kalau disuruh berdiri tegak mepet tembok. Lihat saja ekspresi ikhsan waktu diukur tinggi badannya sama mas. serius habis hihi....


wajah serius ikhsan..
Alhasil sejak tahun 2009, di tembok kamar kami terpampang coretan catatan tinggi badan ikhsan.  Sampai sekarang mas tidak berniat mengecatnya. Katanya sebagai bukti otentik kalau ikhsan tinggi badannya selalu bertambah. Saya sih nurut aja...

Teman-teman ada yang punya pengalaman lain tentang ini??

Komentar

yustha tt mengatakan…
sy tau Pak U itu siapa. Hahaha.... ^^
Sekarang tinggi badan Ikhsan berapa mb?
astin mengatakan…
aku malah ga pernah ngukurin tinggi badannya anak2..kan tiap bulan ke posyandu, ada seksi sendiri yang buat ngukur BB n tinggi badan anak...ayoo ke posyandu :)
entik mengatakan…
@jeng tt: jelas dirimu tahu siapa pak U itu hehe..
ikhsan sekarang tingginya 106 cm.

@astien: maklum ikhsan sering banget ketinggalan acara posyandu du rumah..
Keke Naima mengatakan…
sama mbak.. di pintu kamar sy juga ada coret2an tingginya anak2 dr umur 1 th.. :D
Zulfadhli's Family mengatakan…
Halow Jeng, piye kabare neh Bu Bunting? Sehat kan??

Hihihi kalo Zahia mah sampe saat ini masih cukup ukuran tinggi yang gw beli di toko buku terus ditempel di tembok. Jadi ngukurnya pake ituh deh :-)

Mas Ikhsan serius amat mukanya kaya lagi ujian matematika heheeh
isma mengatakan…
bagus juga tuh jeng, ada catatan otentik tinggi badan anak-anak. aku malah nggak kepikiran, dan nggak pernah mengukur hehe
Lidya Fitrian mengatakan…
aku dirumah punya pengukur badan dapat hadiah mbak
Elsa mengatakan…
iya, sayang tuh kalo di cat
bukti autentiknya bisa hilang
Baby Dija mengatakan…
Dija tingginya berapa ya Tante
minimazee mengatakan…
aku juga tahu pak U siapa.. mo ikutan ah mb.. buat ngukur d'Ra juga.. :D
Gaphe mengatakan…
waah pengalaman saya pas kecil banget ini.. dulu pake coret-coret di pintu buat ngukur tinggi badan. hahaha dan paling seneng kalo tau tingginya dah nambah

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…