Langsung ke konten utama

corobikang

Minggu yang lalu saya kepengen banget makan corobikang. Makanan ini terbuat dari tepung beras yang diberi gula dan santan trus dimasukkan cetakan. Nah, saya pengennya makan corobikang yang di jalan solo. Sejak saya kecil, ibu saya sering banget beli coro di sana. Entah sudah berapa generasi si ibu penjualnya. Sebenarnya di djogja sudah banyak yang jual corobikang ini, ada yang didepan mirota kampus, toko progo dan lain-lain. Tapi kalau disana corobikangnya gede-gede dan tidak garing.


Yah, berhubung lagi jadi bumil, jadi keinginan saya itu dituruti sama mas. Saya diajak ke jalan solo, berdua saja boncengan naek motor. Ikhsan sengaja kami tinggal. Wih, seneng juga bisa jalan berdua saja sama mas sambil cari makanan yang saya sukai. ;)

Sampai jalan solo belum ada jam 3 sore, jadi kita jalan-jalan ke gardena dulu, baru setelah menjelang jam 4 kita jalan menuju ibu penjual corobikang yang mangkal di depan toko sepatu keio. Si ibu tidak buka sepanjang hari, dia hanya buka mulai jam 4 sore sampai dagangannya habis.

Corobikang di jalan solo ini, kecil-kecil dan garing banget. Masaknya juga pake arang jadi rasanya bakalan beda dengan corobikang yang dimasak dengan gas. Rasa corobikang disana tidak terlalu manis tapi terasa gurihnya. Selain rasanya yang cocok di lidah saya, harganya juga murah meriah. Beli 5000 dapat 6 biji corobikang. Kalau dimakan sendiri ditanggung kenyang.
Puas dewh, bisa makan corobikang pas disaat saya pengen makan. Jadi ga ngeces lagi hehe...
Penasaran mencoba?? silakan mampir dan beli sendiri ya hehe...

ibu penjual corobikang

 
corobikang kesukaan saya

Komentar

dey mengatakan…
corobikangnya bikin pengen ... aku suka beli kue ini ..
marsudiyanto mengatakan…
Corobikang enaknya kalo anget2 dan agak garing ya Mbak...
Di Kendal juga ada, tapi besar2, harganya 1250 s.d 1500
Orin mengatakan…
aku kurang suka bu, buatku terlalu manis, kecuali kalo laper mah ya dimakan dunk pastinya hihihihi
Keke Naima mengatakan…
jujur aja, sy blm pernah makan kue ini walopun sering liat.. hihi..
Lidya Fitrian mengatakan…
kalau aku biasa menyebutnya carabikang
Elsa mengatakan…
kalo aku menyebutnya kue bikang aja
hehehhe gak pake coro atau cara

enak ya Mbak??
jadi pingin juga

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnan

story puding: cinta dalam hati

Mau menceritakan tentang pernikahan sendiri kayaknya kurang mantaps karena usia pernikahan kami masih seumur jagung, baru 6 tahun. Nah, kali ini saya mau berbagi kisah tentang pernikahan orang tua saya. Bapak saya berasal dari keluarga petani di sleman, sedangkan ibu dari keluarga guru di kutoarjo. Perbedaan budaya keluarga jelas terlihat diantara kelauarga besar bapak dan ibu. Keluarga besar ibu sangat mementingkan pendidikan dan pekerjaan sebagai pegawai negeri. Semua kakak dan adik ibu adalah pegawai negeri dan mengenyam pendidikan. Sedangkan dari keluarga bapak, karena latar belakang petani, maka pendidikan tidak begitu menjadi prioritas. Hanya beberapa orang anak dari embah yang jadi pegawai termasuk bapak. Selebihnya adalah bertani dan berdagang di pasar.

cerita khitanan-nya kakak ikhsan

Tanggal 29 desember 2015 kemaren menjadi "hari yang bersejarah bagi kakak ikhsan". Ya, di tanggal itu kakak ikhsan mantap untuk di khitan. Saya dan mas juga "memaksakan hati" untuk mantap. Karena saya, kalau ditanya kapan siap meng-khitan-kan ikhsan? hua...saya selalu ngambang njawabnya. Rasa hati ga tega ngeliat mr p****nya kakak ikhsan dikhitan. Takutnya juga ngerawatnya pasca khitan. Membayangkan kakak bakal rewel. Huh, pokoknya ga tega. Tapi ternyata ikhsan sudah memberi saya ultimatum, kalau pas liburan terima rapot kelas 3 semester 1, dia harus sudah khitan. Jadi masuk sekolah sedah khitan, titik. Usut diusut ternyata pak guru di sekolah menghimbau anak-anak putra untuk khitan pas libur sekolah tiba. Saya dan mas belum menentukan tempat khitan buat ikhsan. Tetapi sudah pasti harus di rumah sakit dengan bantuan dokter bedah. Ga bisa di bong supit atau tempat sunat non RS. Latar belakangnya adalah karena sebenarnya saran untuk segera meng-khitan ikhsan sud