Langsung ke konten utama

jamu keluarga kami


Sejak saya kecil, saya sudah familiar dengan jamu. Ibu saya yang orang Jawa asli sering meracik jamu sendiri untuk dikonsumsi. Saya ingat, dulu ketika datang bulan dan perut saya terasa sangat sakit, ibu pasti akan segera mencari kunyit dan memarut kemudian diambil airnya. Kunyit yang digunakan adalah kunyit yang empu atau bagian bonggol menurut istilah ibu. Air perasan kunyit yang berwarna kuning kental itu hanya diberi campuran gula jawa sedikit. Sudah bisa ditebak kalau rasanya sangat getir dan tidak enak. Mungkin karena sugesti ibu cukup kuat bahwa dengan meminum air kunyit itu, rasa sakit di perut saya akan hilang, maka saya pun dengan sukarela meminumnya. Biasanya setelah meminum jamu racikan ibu, selang beberapa jam, perut saya akan membaik. Saya tidak perlu meminum obat-obat penghilang sakit untuk datang bulan.

Saya sempat bertanya kepada ibu mengapa setiap saya sakit perut ketika datang bulan, ibu selalu membuat ramuan jamu kunyit sendiri? ternyata ketika ibu masih gadis, ibu sering mengalami sakit perut yang hebat ketika datang bulan, bahkan sampai pingsan saking sakitnya. Nah, oleh mbah putri ibu diberi ramuan jamu kunyit kental. Setelah minum jamu kunyit, sakit di perut ibu pun berangsur menghilang. 
Ah, ternyata itu ramuan turun temurun dari mbah putri dulu.

Jamu kunyit buatan ibu lebih kental dibandingkan jamu kunyit asam yang biasa dijual tukang jamu keliling. Rasanyta pun lebih tidak enak.Tapi jangan tanya khasiatnya.., benar-benar langsung terasa. Di rumah, ibu selalu punya persediaan kunyit yang empu. Maklum ibu punya 3 orang anak perempuan yang sering didera rasa sakit perut ketika datang bulan.

Saya ingat benar keampuhan si kunyit ini. Waktu itu ibu mengalami pendarahan ketika di kamar mandi. Sangat terlihat wanjah ibu yang pucat. Ibu tidak minta dibawa ke dokter. Ibu cuma minta diparutkan kunyit seperti biasa dan istirahat total di tempat tidur. Saya dan ketiga saudara saya yang masih kecil belum begitu mengerti ibu sakit apa. Kami hanya melihat bapak sibuk memarut kunyit untuk ibu. Ibu meminun jamu kunyit itu sehari 2 sampai tiga kali. Dalam seminggu ternyata kondisi ibu pun membaik. Di kemudian hari saya akhirnya tahu kalau ternyata  ada benjolan di usus ibu. Benar-benar hebat si kunyit ini bisa meredakan pendarahan dan rasa sakit. Saya benar-benar kagum dengan khasiat si kunyit ini.

Sekarang walau ibu saya sudah meninggal, saya tetap meminum jamu kunyit ketika sakit perut mendera setiap bulannya. Saya lebih memilih meminum jamu daripada minum obat-obat penghilang rasa sakit. Menurut saya minum jamu tidak ada efek sampingannya selain murah dan mudah didapat.

Beberapa waktu yang lalu, ikhfan anak saya yang berumur 1 tahun terkena batuk dan badannya panas. Kami sudah bingung. Saya coba beri  obat turun panas. Begitu obat diminumkan, langsung saja ikhfan muntah. Sementara batuknya juga belum mereda. Sebenarnya ikhfan sudah punya obat batuk dari dokter sebulan yang lalu. Jadi saya tidak berencana membawa ke dokter, cukup diminumkan obat batuk yang sudah ada di rumah. Tapi beberapa kali diminumkan obat batuk atau obat turun panas, ikhfan selalu saja memuntahkannya.

Akhirnya suami saya berinisiatif membuat jamu sendiri. Bahannya jahe dan kencur yang disangrai kemudian diblender dan diberi gula sedikit. Ketika saya coba minumkan kepada ikhfan, dia tidak memuntahkannya dan terlihat senang meminumnya. Selang 1 hari panasnya turun dan batuknya mereda.
Alhasil sekarang kami punya resep jamu tradisionnal sendiri untuk batuk anak. Benar-benar manjur.
Jadi mari kita tetap lestarikan jamu untuk pengobatan. Kalau bisa sih menanam sendiri di pekarangan rumah, jadi ketika dibutuhkan kita sudah punya bahannya.

referensi:



 

Komentar

marsudiyanto mengatakan…
Sebagai orang yang lahir didesa, maka sampai sekarang keluarga saya juga sangat familiar dengan jamu, apalagi kebiasaan ibuk saya mupun ibuk mertua nggak jauh beda.
Dan yang namanya jamu biasanya turun temurun dari orang tua (khususnya ibu)
Selamat minum jamu Mbak...
Kalau saya suka kunir asem dan beras kencur...
Susindra mengatakan…
Kunyit memang hebat mbak. Banyak sekali manfaatnya. :)
Keke Naima mengatakan…
obat2an herbal itu kayaknya lebi aman juga, ya
Elsa mengatakan…
mbak... aku paling anti sama jamu.
gara gara waktu kecil pernah dicekokin ibuku jamu temulawak.
rasanya gak enaaaaak banget dan trauma sampe sekarang sama sekali gak mau minum jamu

minuman sinom pun, atau kunyit asam, jamu yang tergolong paling enak sekalipun, aku emoh!!

ampun deh
entik mengatakan…
@ pak mars: toss pak mars, saya juga milih kunir asem dan beras kencur

@mba susi: iya,mba ternyata kunyit itu mengandung antibiotik alami
entik mengatakan…
@mba chi: iya obat herbal lebih sedikit efek sampingnya.

@jeng elsa; walah dirimu trauma dicekok to? yah, emang sih cara pemberian jamu yang rada ada unsur pemaksaannya emang kadang memberi dampak psikologis yang buruk
Fitri3boys mengatakan…
Raffa juga baru seminggu lalu sakit batuk2 pilek muntah dan panas...wah, next time bis aku coba ya jamu tradisinal ala dd ikhfan. tfs ya.
Lidya Fitrian mengatakan…
aku malah gak suka minum jamu mbak

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…