Jumat, 04 Oktober 2013

be strong woman

3 minggu terakhir ini adalah hari-hari berat bagi saya. Sebagai ibu dan juga istri saya benar-benar diuji kekuatan dan kesabaran.Diawali keberangkatan eyang ke Mekah untuk naik haji, duo kk ikhsan- adek ikhfan panas dan muntah-muntah. Panas adek ikhfan mencapai angka 38,5 derajad celcius dan kk ikhsan 39.
Kk Ikhsan  selalu muntah setiap 10 menit walaupun tidak ada makanan yang masuk ke perutnya. Kk Ikhsan juga mengeluh perutnya mual dan sakit. Malamnya saya dan mas sepakat membawa anak-anak ke rumah sakit. Berhubung baru 1 hari panas, jadi dokter belum bisa memberi diagnosa yang memuaskan. Kami hanya diberi obat turun panas dan obat anti mual.

Keesokan harinya keadaan adek ikhfan sudah membaik dan sudah mau turun mainan. Minum ASI-nya juga kuat. Sementara kk ikhsan panasnya masih bertengger di angka 37,5 drajad. Karena keadaan anak-anak kelihatannya mulai membaik, maka saya mengikhlaskan mas untuk pergi tugas ke Aceh selama 5 hari.
Saya mengambil cuti 3 hari untuk mengurus anak-anak.  Kasian asisten saya kalau harus mengurus 2 anak yang sedang sakit bersamaan.


Hari kedua, adek ikhfan sudah sehat  sementara Kk ikhsan panasnya naik turun, kalau siang tidak begitu panas, tapi kalau menjelang malam panasnya bisa naik sampai 39. Obat yang dari dokter kemaren sudah 3 hari diminum tapi keadaan kk ikhsan tidak banyak perubahan. Akhirnya di  hari ke4, diantar kakak ipar ,kk ikhsan saya bawa lagi ke rumah sakit. Kk ikhsan di rekomen untuk opname untuk observasi penyakit.
Doh, saya bingung..., kalau kk opname siapa yang njagain? sementara posisi mas masih di aceh dan adek tidak bisa ditinggal kalau malam hari karena masih menyusu. Kakak ipar saya juga tidak bisa diandalkan karena kesibukan pekerjaannya. Akhirnya saya minta rawat jalan saja.

Dokter memperbolehkan rawat jalan dan wanti-wanti kk harus bedrest total. Saya juga diminta untuk cek darah kk, karena dokter curiga DB, typhus atau infeksi saluran kemih. Hasil cek darah: negatif DB dan negatif typhus. Hanya ada peningkatan limfosit sedikit.
dua hari rumah, keadaan kk hampir sama saja, siang panas turun tapi di malam hari naik. Mas saya kabari, dan berusaha mencari tiket pulang lebih awal 1 hari. Ah, saya lega mas bisa pulang lebih awal. Mas sampai rumah jam 10 malam dengan badan menggigil. Ketika saya pegang keningnya, wuih panas sekali. Saya cek suhu tubuhnya, ternyata 39 drajad. Hadoh...lemas badan saya. Kk badannya panas dan bapaknya pulang dengan badan yang panas juga. Malam itu saya begadang untuk dua laki-laki yang menggigil ditambah bayi kecil yang sesekali terbangun meminta ASI.

Keesokan harinya saya bawa mas ke dokter. Sementara itu kk ikhsan sudah tidak panas dan kelihatan senang karena ada bapaknya di rumah. Setelah minum obat, kondisi mas berangsur membaik. Lega rasanya dan saya kembali mengiyakan ketika mas meminta ijin untuk berangkat tugas ke jakarta keesokan harinya.  Saya hanya bisa berharap mas tetap sehat selama tugas dan anak-anak di rumah juga sehat.

Ah, tidak dinyana selang sehari mas berangkat ke jakarta, kk kembali panas. Bingung? ya.. waktu itu saya benar-benar bingung untuk membuat keputusan. Tidak ada mas di rumah untuk sharing. Akhirnya saya mantapkan hati membawa kk ke UGD RS CC. Adek saya tinggal di rumah sama mba fitri dan saya membawa kk yang panas dengan mobil. Nyetir mobil jadi kurang konsentrasi karena saya harus sesekali melirik kk yang saya baringkan di jok belakang.

Seperti perkiraan saya sebelumnya, kk diminta untuk opname di rumah sakit. Saya sebenarnya tidak tega melihat tangis kk yang pecah ketika lengan kanannya ditusuk jarum untuk cek darah dan lengan kirinya ditusuk jarum infus. Tapi mau bagaimana lagi? ini yang terbaik.
Saya sengaja tidak memberi tahu mas tentang keadaan kk. Saya tahu, mas pasti akan bingung dan ingin segera pulang kalau dikabari. Padahal tugasnya pasti belum selesai dan mencari tiket pulang juga tidak mudah kalau mendadak. Jadi saya putuskan tidak memberitahu siapa-siapa kecuali mba fitri-asisten saya di rumah.

setelah cek darah lagi, ternyata kk terserang paratyphus.Kk diwajibkan berdrest total. Tidak boleh duduk atau bangun dari tempat tidur. Kebayang betapa repotnya menenangkan kk yang sangat bosan untuk tetap tiduran selama beberapa hari.







Lokasi RS CC yang dekat dengan rumah eyang di condongcatur sungguh menguntungkan saya. Di siang hari saya menjaga kk di rumah sakit diselingi beberapa kali saya pulang ke rumah untuk menengok dan menyusui adek. KK juga bersedia ditinggal 30-45an menit. Saya hanya menitipkan kepada suster di sana. Kk tidak menangis ketika saya tinggal pulang sebentar. Di malam hari, tugas mba fitri untuk menunggu kk.
Rutinitas ini berlangsung sampai 3 hari. Dan ketika mas pulang dari jakarta dan mendapati saya dan kk tidak di rumah, barulah mas diberitahu mba fitri kalau kk opname di rumah sakit.
Mas kaget dan langsung menyusul saya di rumah sakit. Alkhamdulillah leganya bukan maen, akhirnya ada teman untuk berbagi beban hehe...

dua hari selanjutnya kk ditemani mas di rumah sakit. Akhirnya tanggal 1 oktober kemaren kk diperbolehkan pulang dengan catatan kk tidak boleh capek. Boleh berjalan tapi belum boleh berlari. makan juga tidak boleh yang pedas atau asam.

Baru 2 hari kk di rumah, mas sudah dapat tugas lagi ke jakarta. Jadi saya yang benar-benar harus menjaga kk tidak boleh capek. Huih.. rada rempong karena kk jadi agak manja setelah sakit. Maunya saya temani terus, kalau saya megang adiknya, maka kk akan marah-marah tanpa sebab. Saya cuma berusa saba..aaar dan tidak terpancing kemarahan kk.

dari kejadian kk sakit, saya banyak mendapat hikmahnya. Yang paling terasa adalah bahwa jadi perempuan harus kuat lahir batin dan jangan banyak mengeluh. Demi anak dan keluarga perempuan harus rela berjuang. Jangan takut berjuang sendiri karena ternyata Allah selalu turun tangan untuk memudahkan langkah kita. Saya merasa kuat, karena saya yakin Allah menurunkan banyak malaikat untuk membantu saya.

Sehat terus ya kk ikhsan, karena ibu akan selalu di sampingmu...

9 komentar:

Nophi mengatakan...

semoga cepet sembuh ya kakak ikhsan, semangat juga buat mbak entik...

entik mengatakan...

@nophi: makasih doanya tante...

ELSA mengatakan...

bener Mbak
aku juga baru sadar bahwa selama ini ibuku gak pernah terdengar mengeluh, meskipun saat beliau sakit
jadi terharu

aku juga pingin seperti itu
menjadi wanita yang kuat!!!

Dewi Indrasta mengatakan...

semoga aku juga bisa menjadi wanita yang seperti itu

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

semoga sekarang sudah sembuh ya kakak ikhsan

entik mengatakan...

@jeng elsa: ditakdir menjadi perempuan, memang istimewa jeng... harus jadi perempuan yang kuat agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

@mba dewi: amien..semoga kita bisa menjadi perempuan-perempuan kuat mba..

entik mengatakan...

@mba lidya: alkhamdulillah, kk ikhsan sudah sehat

BunDit mengatakan...

Kebayang Jeng bagaimana sedih, capek dan pusing jika anak sakit, apalagi pas suami lagi tugas luar kota. Tapi bener, kala ditambah mengeluh, beban jadi makin berat. Katanya sih harus dinikmati.. ya dihadapi dengan ikhlas lah.. *sok wise ya..padahal saya juga terus belajar untuk itu :-)

fitri anita mengatakan...

Kebayang repotnya dan sedihnya, kk Ikhsan gimana sudah sehatkah??