Langsung ke konten utama

I want to be a wonderful wife

kebetulan ada GA-nya mba ida tentang " wonderful wife", jadi pengan nulis tentang istri yang versi saya. Jadi postingan kali ini tentang pengalaman saya yang sudah 8 tahun 6 bulan menyandang status sebagai seorang istri.

Sebelum menikah, saya tidak punya gambaran bagaimana menjadi seorang istri  yang baik itu. Membayangkan mengurus suami, beradaptasi dengan keluarga besar suami, dan mengatur kehidupan rumah tangga sendiri saja rasanya sudah gimana gitu.

Setelah berpikir panjang dan menyiapkan mental, akhirnya saya menikah di umur 25 tahun lebih 6 bulan. Ternyata kalau membayangkan bagaimana menjadi istri yang solikhah itu sulit, akan lebih mudah kalau kita mencoba menjalaninya dan belajar untuk menjadi yang solikhah buat suami.

Saya menyadari selama 8 tahun ini, saya masih belajar untuk mencoba menjadi istri yang terbaik untuk mas.
kadang mood untuk selalu menjaga sikap yang baik dan manis di depan mas juga naik turun (#maaf ya mas.., hehe ngaku).
Tapi ternyata sungguh, pengalaman selama ini mengasah saya untuk memperbaiki diri. Saya ingat kata-kata mario teguh, kalau kita ingin suami kita sesuai dengan idealita kita maka mulailah menjadikan diri kita sebagai istri yang ideal untuk suami kita. Sangat adil bukan?

tiga kriteria wonderful wife menurut saya, saya tulis dibawah ini;
langkah awal mencapai wonderful wife yang saya lakukan adalah memulai dari diri saya sendiri dulu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Contohnya, saya selalu ingin mas adalah orang pertama yang saya cari ketika saya ingin berkeluh kesah tentang apa pun, entah itu tentang pekerjaan kantor, anak-anak, keluarga atau tentang kegalauan di hati saya. Saya ingin mendapatkan seorang pendengar juga yang bisa memberi saran yang menyejukkan. Nah, untuk mendapatkan itu, saya juga harus menjadi seorang pendengar yang baik untuk semua keluh kesah mas, jadi penyejuk hatinya ketika kegundahan hati datang.
Ini juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan, karena setiap orang selalu berharap keinginannyalah yang kalau bisa dipenuhi terlebih dulu baru keinginan pasangannya.
Terkadang saya gagal menjadi pendengar yang baik dan memberi komentar yang menyejukkan. Ketika saya menyadari, saya secepatnya meminta maaf untuk mencairkan suasana yang menjadi tidak enak. Tapi sungguh, saya beruntung mempunyai suami yang mood hatinya tidak cepat berubah-ubah sehingga sangat membantu saya menjaga mood hati saya untuk selalu bersikap manis di depan suami.
Saya dan mas juga sering mencari waktu  "me time" bagi kami. Sekedar jalan berdua, makan diluar atau menyempatkan ke bioskop tanpa anak-anak. "Me time" benar-benar bisa me-refresh perasaan diantara kami.

Yang tak kalah penting adalah pandai-pandainya istri menciptakan suasana bahagia di rumah, dijamin suami dan anak-anak juga akan terbawa bahagia.
Sebaliknya kalau istri mood-nya pas lagi jelek, pasti suami dan anak-anak juga ikutan ber-mood jelek.

selanjutnya, saya selalu menjaga bahwa suami adalah kepala keluarga, jadi sebisanya saya tidak membantah dan menurut suami. Jadi semua keputusan yang berkaitan dengan keluarga, mas-lah yang memutuskan. Yang jelas saya selalu memberi masukan tapi yang memutuskan tetap mas, walau kadang keputusan mas itu sama dengan masukan yang saya berikan.
Saya juga tidak ngoyo bekerja di kantor - alias tidak terobsesi berprestasi tinggi di kantor- karena biar bagaimana pun saya tidak wajib untuk mencari nafkah. Anak-anak dan keluarga adalah prioritas saya. Sejak punya anak ikhsan, saya sering menolak tugas keluar kota karena tidak tega meninggalkan anak-anak. Disuruh untuk kuliah S2 lagi, saya juga masih mikir-mikir. Saat ini saya benar-benar sedang menikmati masa-masa menjadi ibu rumah tangga.
jadi kalau ditanya orang saya kerja dimana? saya selalu menjawab, saya adalah ibu rumah tangga yang nyambi kerja jadi pegawai kantoran.

menjadi istri yang baik otomatis harus menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Karena ikhsan-ikhfan masih kecil, jadi mereka lebih dekat dengan saya apalagi bapakna sering tugas keluar kota. Sebisa mungkin, saya meluangkan waktu lebih banyak dengan anak-anak dan kebutuhan mereka saya penuhi.
Sepulang kantor, yang pertama saya pegang adalah si kecil ikhfan karena setiap melihat saya datang, ikhfan pasti merengek minta ASI. Setelah ikhfan tidur, saya menemani kk ikhsan belajar dan menyuapi makan malam. Selanjutnya menemani tidur sambil ngobrol-ngobrol tentang kegiatannya tadi siang di sekolah. Biasanya setelah ngobrol, kk ikhsan akan terlelap dengan sendirinya.
Bahagia rasanya melihat anak-anak bisa tumbuh sehat dan dalam emosi yang sehat juga. Saya juga masih terus belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak. Harus belajar banyak mengelola emosi menghadapi anak-anak yang kadang bertingkah tidak sesuai dengan harapan saya.
Saya berusaha menerapkan positive parenting dalam mengasuh ikhsan-ikhfan, walaupun tidak mudah tapi saya tetap berusaha dan belajar.

Anak-anak adalah amanah dari Allah, semoga saya bisa menjaga amanah itu dengan baik.


oya, untuk blog mba ida sudah ok, sering-sering BW ke blogger yang dari yogya mba..., karena saya juga tinggal di sleman-yogya ;)

artikel ini diikutsertkan dalam GA wonderful wife by ida nuer laela

Komentar

Lidya Fitrian mengatakan…
semog akita selalu bisa menjaga amanahnya ya mbak
Mayya mengatakan…
Semoga kita bisa menjadi istri yang menyejukkan hati suami ya mbak :)
Fitri3boys mengatakan…
Insya allah dah jadi wonderful wife jeng..
Ida Nur Laila mengatakan…
maak aku berkunjung ke Sleman nih...slemannya mana ya...
? makasih udah ikutan
hbr-online.com mengatakan…
Mesra Euy... Ngiri liatnya....
isma mengatakan…
amiiin jeng entik. kalau baca ceritanya, insyaallah sudah wonderful :)

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnan

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita. Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance . Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “ have fun ” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alha

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog. Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname. Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman , semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan. Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang pad