Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

sore di alun-alun kidul yogya

hari minggu sore yang lalu kami menghabiskan sore di alun-alun kidul yogyakarta.Yogyakarta mempunyai 2 alun-alun. Satu ada di depan keraton Yogyakarta yang sering disebut alun-alun lor (utara) dan yang satu ada di belakang Keraton yang disebut alun-alun kidul (selatan). di alun-alun kidul ada dua pohon beringin besar. banyak orang yang mencoba masangin atau berjalan masuk di antara dua pohon beringin itu dengan mata tertutup. Caranya sangat sederhana yaitu kita menutup mata lalu berjalan lurus sekitar 20an meter dari depan Sasono Hinggil menuju tengah-tengah pohon beringin. Sepertinya mudah, tetapi tidak semua orang yang mencobanya berhasil melewati dua pohon beringin di alun-alun kidul ini karena tentu saja berjalan tanpa melihat pasti jauh lebih sulit bila mata tidak tertutup. Menurut mitos, hanya orang yang bersih hatinya saja yang bisa melewatinya.Kalau dalam pengertian luas, permainan masangin ini menyampaikan pesan bahwa untuk mencapai apa yang diinginkan kita harus ber

cerita siemen pertama-ku

sekarang kemana pun pergi, setiap orang pasti bawa hape. Tidak hanya satu tapi terkadang dua masih ditambah gadget lain seperti tablet maupun netbook. Saya teringat 12 tahun yang lalu ketika saya belum punya ponsel. Waktu itu rasanya santai aja ga punya hape. Ga sms atau telpon lewat hape belum merupakan sesuatu yang aneh. Nah kalo sekarang, hape tertinggal di rumah aja sudah bingung banget, kayak separuh hidup ga kebawa ajah ;) Pengalaman saya punya hape pertama, waktu awal jadi pegawai kantoran. Ada orang yang berbaik hati mau memberi saya hape bermerek siemen C35. Alasannya biar mudah menghubungi saya sewaktu-waktu kalau kangen. Aih, tapi waktu itu saya masih sok gengsi menolak pemberian hape dari cowok ganteng yang sekarang jadi bapakna anak-anak. Heran dewh dulu kok gengsinya tinggi banget nolak pemberian hape gratisan...akhirnya si siemen c35 tidak jadi milik saya. Ketika dulu mas menanyakan alasan saya menolak hape pemberiannya, alasan saya sederhana, saya belum membutuhkan ha

makan mie aceh

Dua minggu ini saya penasaran banget makan yang namanya mie aceh. Itu karena selama 2 minggu terakhir ini, mas dua kali bolak-balik tugas ke aceh. Setiap kali saya telpon, mas selalu cerita seringkali diajak makan mie aceh. Akhirnya minggu kemarin kesampaian juga saya makan mie aceh berdua mas karena kebetulan sekarang di djogja warung makan masakan khas aceh mulai banyak. Mencari waktu pergi berdua saja sekarang agak repot karena kakak ikhsan pasti merengek ikut kalau tahu ibu-bapaknya mau pergi. Nah, sabtu kemaren kita sengaja nunggu anak-anak pada tidur siang. Jam setengah 3-an sore akhirnya kakak adik pada tidur siang bareng. Da..aan sukses dewh kita jalan keluar ;) sekaligus ngicipin mie aceh. Pertama kali yang dituju addalah galeria mall., jarang bisa nge-mall berduaan hehe..., Puas nge-mall, kita mampir di warung makan masakan khas aceh pidie di daerah sagan sebelah utara galeria.  ini dia mie goreng aceh pesanan saya  mari makan..;) Kalau menurut saya rasa