Langsung ke konten utama

cerita khitanan-nya kakak ikhsan

Tanggal 29 desember 2015 kemaren menjadi "hari yang bersejarah bagi kakak ikhsan". Ya, di tanggal itu kakak ikhsan mantap untuk di khitan. Saya dan mas juga "memaksakan hati" untuk mantap. Karena saya, kalau ditanya kapan siap meng-khitan-kan ikhsan? hua...saya selalu ngambang njawabnya. Rasa hati ga tega ngeliat mr p****nya kakak ikhsan dikhitan. Takutnya juga ngerawatnya pasca khitan.
Membayangkan kakak bakal rewel. Huh, pokoknya ga tega.

Tapi ternyata ikhsan sudah memberi saya ultimatum, kalau pas liburan terima rapot kelas 3 semester 1, dia harus sudah khitan. Jadi masuk sekolah sedah khitan, titik. Usut diusut ternyata pak guru di sekolah menghimbau anak-anak putra untuk khitan pas libur sekolah tiba.

Saya dan mas belum menentukan tempat khitan buat ikhsan. Tetapi sudah pasti harus di rumah sakit dengan bantuan dokter bedah. Ga bisa di bong supit atau tempat sunat non RS. Latar belakangnya adalah karena sebenarnya saran untuk segera meng-khitan ikhsan sudah sejak ikhsan berumur 2 tahun. Dokter anak yang sering menangani ikhsan mendiagnosa ikhsan mengalami fimosis.
Fimosis ini adalah kondisi dimana kulup melekat pada kepala p**** dan menutup lubang p****. Akibatnya, urin tidak dapat keluar normal dan kepala p**** tidak dapat dibersihkan.
Fimosis bisa memicu timbulnya infeksi yang disebut balanitis atau infeksi di kepala p****. Fimosis juga bisa membuat anak kesakitan saat berkemih.
Pada ikhsan, sejak didiagnosa fimosis, ikhsan sering panas dan ketika berkemih p**** akan "melembung". Dokter menyarankan ikhsan untuk segera sirkumsisi/khitan dengan bius total karena usianya dibawah 9 tahun sehingga dianggap belum bisa kooperatif jika sirkumsisi dilakukan dengan bius lokal.

Saya dan mas rada ngeri kalau khitan dilakukan dengan bius total. Alasan ini kadang ga rasional bagi orang lain tapi kami tetep aja takut dan ngeri walau kami harus nanggung risiko ikhsan jadi sering panas karena terjadi infeksi. Maaf ya kak ikhsan...
(yang ini jangan ditiru ya.., karena sebaiknya memang anak yang terkena fimosis harus segera dikhitan supaya tidak sering terjadi infeksi).


Libur akhir tahun kemarin sebenarnya kami belum merencanakan untuk mengkhitankan ikhsan. Rencana pas libur kenaikan kelas 4 saja karena libur akhir tahun 2015 kemaren kami merencanakan mau liburan keluarga ke semarang ke rumah om kelik.
Akhirnya ikhsan dan kami (saya & mas) sepakat kalau khitan dilaksanakan sepulangnya kami dari semarang. Menurut mas sih, ikhsan diajak seneng-seneng dulu karena besok abis khitan pasti saki..iit.
Huh, saya bener-bener harus menyiapkan mental.

Setelah seminggu liburan di semarang, saya dadakan membuat janji dengan dokter bedah di RS langganan. Alkhamdulillah masih dapat nomer quota untuk periksa awal. Ketika bertemu dokternya, saya dan mas sepakat minta sirkumsisi dilakukan dengan bius lokal. Dan pak dokternya setuju karena menganggap ikhsan (8,5 th) sudah bisa kooperatif ketika sirkumsisi dilakukan. Dan jadwal operasinya besok malam (tgl 29 desember jam 8 malam).

Karena masih ada jeda waktu satu hari sebelum dikhitan, saya berkali-kali memberi pengertian kepada ikhsan bahwa ketika khitan dilakukan, pak dokter akan membius lokal jadi nantia harus dibedakan antara terasa dan sakit. Mungkin setelah dibius, ikhsan akan terasa dengan tindakan pak dokter tapi tidak sakit. Dan ikhsan manggut-manggut.

Keesokan harinya, ikhsan mulai nervous. Tapi saya menyemangati kalau khitan hanya dilakukan sekali seumur hidup, beda dengan perempuan yang bisa lebih dari sekali melahirkan.
"iya ya bu.., aku cuma sekali khitan jadi sakiitnya cuma sekali kalau ibu malah le sakit dua kali karena melahirkan aku dan adik," komentar ikhsan yang bikin saya tersenyum sendiri.

Menunggu pak dokter datang di depan ruang operasi memang bikin hati ikhsan deg-degan ga karu-karuan. Berkali-kali minta diantar ke toilet karena kebelet pipis. Sampai saya heran, baru 10 menit dari toilet kok dah minta ke toilet lagi.
"pripun kak?" saya bertanya dalam bahasa jawa.
"aku grogi bu..," jawab ikhsan polos.
"mboten nopo-nopo kak -ga papa kak," saya mengelus punggung ikhsan pelan memberi semangat.
Ikhsan mengangguk pelan dan kembali duduk menunggu.
Ketika terdengar suara sepatu dan melihat sosok pak dokter bedah datang, sontak ikhsan berkomentar, "wah, mati aku.., pak dokter datang.."
Kami semua yang mendengar jadi tertawa geli.

ditemani adek ikhfan, tapi tetep aja nervous

Daa..an saat yang ditunggu itu pun tiba, perawat memanggil nama ikhsan untuk segera masuk ke ruang operasi dan mempersilakan salah satu orang tua untuk mendampingi ikhsan. Dan saya langsung menjawil mas untuk masuk ruang operasi menemani ikhsan. Dan mas langsung menggandeng tangan ikhsan masuk ke ruang operasi.
Saya memilih menunggu di luar dan berdoa semoga ikhsan diberi kemudahan dan kelancaran selama ikhsan di ruang operasi.
Menunggu hampir 45 menit sendirian ternyata membuat hati galau juga. Duh kok lama juga ya? menurut beberapa teman yang anaknya sudah dikhitan, prosesnya paling cuma 15an menit, lha ini kok hampir 45 menit belum selesai juga?
Jam 9 malam tepat, akhirnya saya melihat ikhsan berjalan pelan keluar ruang operasi dengan memakai sarung diikuti mas di belakangnya. Alkhamdulillaah, saya lega..aa banget.
Saya peluk ikhsan. "anak ibu hebat..."
Mas juga berkomentar sama, "kakak hebat...,"
Ikhsan tersenyum kecut sambil menahan sakit sepertinya. Ketika dokter keluar, menepuk kepala ikhsan pelan sambil berkomentar, "anak hebat..."

Saya tersenyum dan menyalami pak dokter sambil mengucapkan terima kasih. Belakangan saya mendengar cerita dari mas tentang proses khitan kakak yang termasuk operasi minor itu. Ternyata prosesnya ga mudah, karena ada perlengketan pada kulupnya sehingga dokter harus membukanya dengan sayatan baru kemudian menjahitnya. Ada bagian kulit yang harus dihilangkan. Menurut mas, saya pasti pingsan kalau saya ikut masuk ke ruang operasi tadi.
Jadi ikhsan memang menahan sakit yang hebat karena biusnya hanya lokal. Saya jadi terharu dan bangga sekali. Huhu... ternyata ikhsan anak laki-laki yang kuat.

 pasca operasi

Perawatan pasca operasi yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan karena setelah efek bius hilang, rasa sakit campur panas datang bersamaan. Alhasil semalam pasca operasi saya dan mas bergantian mengipasi ikhsan. Huff... 
5 hari pertama memang luka bekas operasinya kadang bikin saya "mrinding" karena masih bengkak dan kakak mengeluhkan panas dan sakit, padahal saya harus mengoleskan salep sehari dua kali di bekas jahitannya. Menjaga jangan sampai kena air dan membantu ikhsan memakai celana sunat supaya ga kesenggol sarung atau celana.

Hari ke4 terlihat ada semacam nanah keluar di bekas lukanya. Hihi...itu juga bikin saya mrinding dan rada panik. Langsung janjian kontrol ke dokter. Mas juga ketularan parno hehe..
Sampai di rumah sakit dan ketika diperiksa dokter ternyata komentar dokter bikin saya rada malu karena terlalu parno.
"Ga papa bu, itu bukan nanah itu kerak saja. Nanti akan mengelupas sendiri. Minimal 10 - 14 hari akan membaik. Ini kan baru 4 hari to bu? sabar saja, jangan kena air dulu nanti kalau bengkaknya hilang dan sudah tidak terasa sakit boleh kena air."
Saya manggut-manggut lega, dasar emak parno, batin saya.

Ternyata memang, luka khitan membutuhkan waktu untuk pulih. Paling ga 10an hari. Ditambah juga faktor anaknya, kalau ambang sakitnya rendah ya bakal lebih sering rewel dibandingkan dengan anak yang ambang sakitnya tinggi.
Support guru, keluarga juga teman-teman ikhsan yang datang menengok memberi semangat ikhsan untuk belajar berjalan. Apalagi mereka datang bawa kado dan amplop. Jadi ikhsan seneng dan mencoba lebih kuat menahan rasa sakit.
Pak Safi"i dan bu poepah spesial datang menengok ikhsan dengan membawa kado dan surat ucapan selamat yang menyentuh hati. So sweet dewh.., saya ampe terharu membacanya.

 surat dari pak safi'i dan bu poepah

Sekarang sudah lewat 14 hari setelah ikhsan khitan dan memang bener kata pak dokter bedah itu, luka ikhsan mengering dan mengelupas sendiri. Sekarang sudah bisa mandi dan aktivitas biasa. Alkhamdulillah...

Ternyata proses khitan pada anak dengan kasus fimosis dengan perlengketan lebih lama proses penyembuhannya dibandingkan dengan khitan biasa. Luka yang lebih banyak juga butuh waktu untuk mengering.
Sebagai orang tua harus siap mental dan sabar merawat pasca khitannya. Huuh.., saya lega telah berhasil melewatinya ;)

Komentar

Fitri3boys mengatakan…
alhamdulillah kaka ikhsan sudah disunat dan lancar semua urusannya ya....

jadi inget fai waktu mau disunat juga bilang mati aku tapi sambil teriak 2 he he he

dey mengatakan…
Selamat kk Ikhsan, hebat deh udah berani di khitan.
Kanianingsih mengatakan…
jd ingat wkt anak sy disunat, sempat salah ngasih obat sampe anak gabisa tidur karena perih di bawah hiks meras berdosa banget sampe ikut nangis dan minta maaf
entik mengatakan…
@mba fitri: iya, Alkhamdulillah lancar...

@mba dey: makasih mba... yang paling nervous malah ibunya hehe...
entik mengatakan…
@mba kania: hadew kok bisa salah kasih obat mba? ;)
Santi Dewi mengatakan…
selamat ya kakak ikhsan sudah di khitan. Saya juga ngebayangin pastinya saya deg2an kalo anak saya nanti dikhitan
monda mengatakan…
selamat ya Ihsan..., udah berani khitan

anaknya nggak apa2 emaknya yang grogi
Pengobatan kanker hati mengatakan…
selamat ya ikhsan

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…