Senin, 23 Mei 2016

ikhfan dan tanda-tanda serangan asma

Beberapa waktu yang lalu saya sempat posting cerita tentang asma yang diderita ikhfan (3,5 th) disini. Sekarang saya pengen ngelanjutin cerita seputar asma pada ikhfan.
Asma sebagian besar disebabkan karena faktor keturunan dari orang tua. Pemicunya bisa karena alergi terhadap makanan atau hal lain.  Pada Ikhfan, sampai sekarang yang saya duga sebagai pemicu serangan asmanya adalah virus flu. Jadi kalau ada orang yang lagi flu di sekitar ikhfan pasti dalam hitungan hari Ikhfan akan tertular. Kalau di rumah ada yang flu entah itu mas, kak ikhsan, eyang atau asisten, saya pasti akan langsung beli masker dan "memaksa" yang sakit flu untuk pake masker.
Rasanya parno banget kalau itu virus lari-lari dan masuk ke tubuh Ikhfan.

Biasanya orang rumah nurut aturan saya ketika terserang flu yaitu:
- pake masker ketika berdekatan dengan Ikhfan
- tidak kontak terlalu dekat dengan Ikhfan
- tidak bertukar makanan/minuman dengan Ikhfan.
- minum obat, makan yang banyak dan istirahat biar flunya segera sembuh
Kalau yang kena flu saya, rasanya nelangsa banget karena saya terpaksa sepanjang hari memakai masker ketika di rumah, bahkan saat tidur.  Tahu sendiri kan, kalau flu sebenarnya hidung kita sudah mampet masih ditambah ditutupin masker sepanjang hari, jadi mau nafas rasanya tambah susah ;(

Ketika flu, saya tidak tidur bareng Ikhfan (huhu...ini momen yang paling bikin nelangsa), saya hanya menemani Ikhfan sampai tertidur dengan mulut tertutup masker. Setelah itu saya tidur di kamar sebelah dan sesekali menengok ikhfan kalau dia terbangun.

Itu kalau kejadian di rumah, nah kalau pas di sekolah ada yang flu, jelas saya ga bisa kontrol. Saya udah wanti-wanti ke gurunya kalau Ikhfan tidak boleh bertukar botol/gelas minuman dengan temannya, trus menjaga jarak kalau ada yang teman ikhfan yang flu. Tapi..ii susah banget, karena namanya anak-anak kalau lagi maen ya jelas dekat-dekatan. Pas batuk ga sengaja batuk pas di muka Ikhfan. Tambah lagi ada yang minta minumannya Ikhfan.
Kalau ga berangkat sekolah, sayang juga karena perkembangan Ikhfan di sekolah bagus, motorik halus dan kasar sudah meningkat ditambah hafalan-hafalan doa dan bacaan sholatnya juga sudah mulai bagus.

Sejak didiagnosa asma di akhir tahun 2013, (sejak berumur 1,5 th), dalam catatan manual saya,  ikhfan hampir setiap bulan terkena serangan asma. Obat yang yang sering dikonsumsi adalah salbuven, puyer campuran obat anti radang dan alergi dari dokter SPA serta ventolin supp untuk nebulizer.

Saya mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya dari buku, internet maupun sharing dengan teman yang mempunyai anak yang menderita asma.
Dari beberapa sharing dengan teman ada yang menyarankan hal-hal kayak gini:
1. minum susu kambing secara rutin
2. mengajak anak renang secara rutin
3. mengajak anak menghirup udara pagi menjelang matahari trbit di pantai secara rutin
4. mengonsumsi air daun suji
5. Ga makan coklat
6. ga makan es krim
7. ga makan snack "ciki-cikinan"
Banyak juga saran-saran teman-teman yang saya peroleh. Ada beberapa yang sudah saya coba lakukan tetapi serangan asma pada ikhfan tetap saja datng tiap satu bulan sekali. 
Ketika serangan asma datang di malam hari, saya harus segera membawa Ikhfan ke UGD untuk mendapat pertolongan ventolin melalui nebulizer dan keesokan harinya baru saya kontrolkan ke DSA langganan. Alhasil Ikhfan yang pada awalnya selalu ketakutan ketika dipakaikan masker nebulize, lama kelamaan menjadi terbiasa.


Hampir dua tahun jangka waktu asma Ikhfan kambuh sekitar satu bulan sekali, dan dua bulan terakhir menjadi semakin pendek yaitu 3 minggu sekali. Duh...duh..., saya jadi bingung karena seolah-olah saya sebagai Ibu tidak bisa mengontrol pemicu asmanya Ikhfan.
Saya dan mas mencoba mengevaluasi ulang treatment pengobatan untuk Ikhfan selama ini dan setelah melewati diskusi panjang akhirnya kami sepakat untuk mencari second opini dokter spesialis paru anak di RS lain.

Mencoba second opini dokter spesialis paru anak dan mendengar banyak keterangan mengenai asma pada anak, memberi saya sedikit pencerahan. Dokter menyarankan Ikhfan untuk diberi obat pencegahan berupa seretide (semacam in haler) yang berfungsi supaya saluran nafas Ikhfan tidak terlalu sensitif. Untuk penggunaan seretide saya harus membeli alat bantu. Terapi seretide diberikan dua kali sehari. 

Penggunaan alat bantu seretide pada awalnya susah juga, karena Ikhfan masih asing dengan bentuknya. 
"Aku maunya diasap ga mau disemprot..." tolak Ikhfan sambil nangis kejer.
Mungkin karena bentuknya agak aneh, jadi Ikhfan takut kalau alat bantu ditempelkan di mulutnya. Setelah dirayu-rayu akhirnya Ikhfan bersedia juga disemprot seretide sama Bapaknya.
Alkhamdulillah saya jadi lega, setelah Ikhfan bersedia duduk anteng dan disemprot seretide.


Dari dokter saya dapat informasi kalau asma tidak bisa sembuh total, hanya saja kita bisa mengontrol supaya serangan asma tidak datang sehingga penderita asma dapat melakukan aktivitas seperti orang lain tanpa terganggu serangan asma yang datang secara tiba-tiba.
Saya sebagai Ibu adalah orang yang dianggap paling tahu pemicu asma pada Ikhfan. Jadi saya yang harus niteni (=mengingat) hal-hal apa saja yang menjadi pemicu asmanya. Makanan kah? virus flu? udara dingin? debu? asap? bulu binatang, polen bunga ataukah aktivitas yang terlalu melelahkan?
Setiap penderita asma memiliki pemicu yang berbeda-beda.
Selama saya ingat, sebagian besar pemicu serangan asma pada Ikhfan adalah virus flu dan beberapa kali udara dingin.

Setelah sharing dengan dokter spesialis paru anak, saya semakin penasaran dan berusaha mengumpulkan informasi seputar asma, yang saya rangkum di sini. Siapa tahu bisa bermanfaat.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengontrol asma adalah:
1. rutin mengonsumsi obat yang disarankan dokter
2. menghindari hal-hal yang bisa menjadi pemicu asma
3. kontrol ke dokter 2-3 kali dalam setahun meskipun kita merasa baik-baik saja
4. mengetahui tanda-tanda serangan asma yang buruk dan bagaimana untuk meresponnya.
Sebagian besar penderita asma membutuhkan dua jenis pengobatan:
1. obat yang bersifat quick relief (reliefer) yang berfungsi untuk menghentikan serangan asma
2. obat yang bersifat controller yang dikonsumsi setiap hari untuk menjaga saluran nafas dan mencegah serangan asma.

Informasi yang saya peroleh dari http://ginasthma.org/, kita disarankan untuk meminta dokter menuliskan resep obat asma yang bersifat reliefer dan controller . Obat bersifat controller yang diresepkan dokter sebaiknya dikonsumsi secara rutin.
Pada awalnya, mas agak ragu jika mengonsumsi obat controller akan berdampak ketergantungan pada Ikhfan. Tapi ternyata obat controller tidak menyebabkan ketergantungan meskipun dikonsumsi bertahun-tahun. Obat ini berfungsi supaya saluran nafas tidak terlalu sensitif sehingga serangan asma tidak  dengan mudah datang.

Jika dalam keluarga kita ada yang menderita asma, sebaiknya kita dapat melihat jeli tanda-tanda jika serangan asma datang. Saya dulu tidak punya pengetahuan sedikit pun tentang tanda-tanda serangan asma pada bayi/batita dan sempat ditegur dokter SPA ketika Ikhfan terkena serangan asma di usia 15 bulan karena dianggap terlambat membawa Ikhfan ke RS. Serangan asma pada bayi jika terlambat penanganannya bisa mengakibatkan gagal nafas. Duh, ngeri kan?

Ini beberapa tanda serangan pada penderita asma yang patut diwaspadai:
1. batuk 
2. nafas mulai berbunyi "ngik-ngik"
3. sesak nafas
4. terbangun pada malam hari dan tidak bisa tidur karena sesak nafas

Jika itu terjadi, yang harus kita lakukan adalah segera mengonsumsi obat reliefer yang bisa berbentuk in haler maupun nebulizer. Pada Ikhfan pertolongan pertama yang saya lakukan adalah memberikan ventolin supp menggunakan nebulizer.
Nah, kalau obat reliefer tidak membuat penderita membaik dan terlihat tanda-tanda seperti di bawah ini, segeralah ke RS:
1. Sulit untuk bicara
2. jari dan bibir menjadi biru
3. hidung terlihat terbuka lebar ketika bernafas
4. jantung/ nadi berdetak kencang
5. sulit untuk berjalan

Perlu diingat, bahwa penggunaan obat reliefer merupakan pertolongan pertama. Jika dalam sehari kita membutuhkan obat reliefer lebih dari 4 kali, tak perlu ditunda lagi untuk segera ke RS karena itu pertanda serangan asma memburuk.



9 komentar:

fitri anita mengatakan...

saya sampai beli Nebulizernya karena anak2 semuanya asma..untungnya semakin besar, sudah semakin jarang dipakai alatnya...


Elsa mengatakan...

waktu kecil, aku juga asma mbak...
sama tuh kayak Ikhfan

tapi jamanku dulu kayaknya obatnya gak sekeren ikhfan sekarang yaa

semoga ikhfan cepet sembuh
begitu makin besar, daya tahan tubuhnya pasti lebih kuat lebih baik
insyaallah nanti sembuh ya asmanya

Wenny Widy mengatakan...

huhuhu aku juga ada asma mbak. pemicunya kalo capek sama stres, sama kalo dingin. sama kalo makan udang. selain itu, aman. sejauh ini udah bisa ngontrol, jadi udah jarang banget kena serangan.
emang mbak, satu-satunya jalan buat mencegah serangan asma ya hindari pencetusnya. sekeren-kerennya obat pencegah/pemeliharaan, kalo masih terpapar faktor pencetus ya selamat tinggal kebahagiaan :D

kalo emang inhaler atau obat2 semprot lain udah nggak mempan dan harus dibawa ke RS buat dinebul, apa nggak sebaiknya punya nebul sendiri mbak? biar cepet juga penanganannya. takutnya telat penanganan lalu henti nafas atau gimana.

orang2 biasanya takut kalo aku pas kambuh. bukan takut gara2 sesak napasnya, tapi takut gara2 kalo aku kena serangan biasanya jadi ngigo dan sering liat yang enggak enggak -_-

entik mengatakan...

@mba fitri: saya juga punya nebu sendiri di rumah. Sekarang hampir sebulan sekali dipake karena Ikhfan asmanya kambuh. Semoga kalau semakin besar, jadi jarang pake nebu

entik mengatakan...

@jeng elsa: hua... alatnya emang lebih keren dibanding jaman dulu. Tapi ya rasanya sama kalau asma lagi kambuh.
semoga Ikhfan daya tahannya semakin baik dan jarang kambuh..

entik mengatakan...

@wenny widy..: udah punya nebu sendiri di rumah.
Wah, dirimu kayak kakakku dulu pas asmanya kambuh sering ngigau-ngigau dan ngeliat hal-hal yg lain gitu...

Tri Wahyuni Zuhri mengatakan...

Tulisan ini sangat membantu saya banget mba. Saya juga ada riwayat asma, dan merasakan betul bagaimana kalau asma menyerang. Rasanya benar benar menyiksa sekali :(

entik mengatakan...

@mba tri wahyuni: iya mba, asma terkadang dianggap penyakit yang ringan dan bisa "sembuh" sendiri, tapi kalau pas asma menyerang rasanya duh ga karuan

Keke Naima mengatakan...

Ikhfan, semoga lekas sembuh. Dan, gak kambuh lagi asmanya, ya