Selasa, 23 Agustus 2016

Ikhfan dan asma (mengontrol asma-1)


Kali ini saya ingin bercerita tentang perkembangan ikhfan dan asma. Alkhamdulillah sejak kontrol rutin sebulan sekali ke dokter Spesialis paru anak, sudah tiga bulan ini serangan asma tidak datang. Lega dan senang melihat Ikhfan dapat beraktifitas normal tanpa serangan asma.

Beberapa orang memang kadang sempat ga percaya kalau saya mengatakan ikhfan adalah penderita asma.
“Masak sih? Lha wong badannya gendut gitu. Biasanya anak yang punya asma tuh badannya kecil dan susah makan lho.” Komentar beberapa teman dan guru Ikhfan di sekolah.

gini nih, kalau Ikhfan pas sehat
Memang bener sih, saya juga banyak menemui anak-anak yang terkena asma memang rata-rata ga doyan makan dan badannya kecil. Di keluarga saya dan mas juga ada saudara yang punya asma sejak kecil sampai dewasa badannya kecil. Kalau saya lihat sih karena mereka di waktu kecil sangat sering terkena serangan asma dan serangan sesak nafas itu tidak segera mereda. Padahal ketika orang sedang sesak nafas, jelas nafsu makan ilang wong untuk banyak bicara aja kadang nafasnya ga kuat.
Nah kalau dalam sebulan selalu terkena serangan dan jangka waktu serangan asma itu membaik butuh waktu 1 minggu an lebih. Lha nafsu makan baliknya juga  1 minggu an lebih, selanjutnya ketika nafsu makan mulai membaik, eh serangan asma datang lagi. Makanya dimaklumi kalau beberapa anak yang punya asma berat badannya ga banyak.

Pada Ikhfan, karena sejak bayi Ikhfan mendapat ASI eksklusif dan MPASI home made membuat dia mempunyai nafsu makan yang bagus. Ikhfan tidak terlalu picky eater, apa pun menu yang saya hidangkan pasti dimakan. Walaupun Ikhfan hampir tiap bulan terkena serangan asma, tapi jangka waktu pulihnya Ikhfan dari serangan itu lumayan pendek. Hanya sekitar 2 hari saja Ikhfan susah makan, meski masih batuk-batuk Ikhfan sudah mau makan seperti biasa.

Saat Ikhfan menjelang 3 tahun, saya mulai getol mencari informasi seputar asma pada balita. Awalnya saya agak pasif, dalam artian setiap kali serangan asma datang, saya bawa Ikhfan ke dokter SPA. Diberi obat dan dalam seminggu membaik. Tapi..ii bulan depannya ikhfan kena serangan lagi. Begitu terus.
Penjelasan dari dokter standar saja bahwa serangan asma datang pasti ada pemicunya, jadi supaya serangan tidak datang harus dicoba menghindari pemicunya.
Saya yang harus mencari tahu apa pemicunya dan menghindari paparan pemicu itu terhadap Ikhfan.
Memang sih, kalau serangan asma datang kemudian diberi obat dari dokter SPA, biasanya serangan itu akan membaik.
Tapi saya mikir, masak ya setiap bulan terkena serangan??

Akhirnya saya memutuskan second opini dokter dan  mencoba googling informasi seputar asma. Akhirnya salah seorang teman blog KEB, irai namanya yang ngasih saya link global initiative for asthma. Saya mendapat e-book seputar asma yang membuat saya paham tatalaksana penanganan penderita asma jika serangan datang juga tatalaksana tindakan preventive supaya serangan asma tidak datang.

Jadi ketika akhirnya saya dapat second opini dokter spesialis paru anak, saya sudah punya bahan untuk sharing dengan dokter.
Hal yang pertama saya lakukan adalah melakukan pencatatan medik Ikhfan. Tanggal ketika serangan asma datang, obat yang diberikan dan dokter yang memberi obat. Awalnya saya hanya mencatat secara manual di kertas. Setelah membaca tulisan gessi-mami ubii tentang penggunaan aplikasi Medictrust di ponsel android, akhirnya saya ikutan juga mencatat rekam medik Ikhfan di medictrust.
Ternyata catatan medik itu sangat membantu ketika kita berkonsultasi dengan dokter. Dan kebetulan sekali dokter Ikhfan yang sekarang juga rapi banget catatan medisnya, jadi kami selalu saling mencocokkan catatan.

Nah, setelah saya membaca e-book yang berjudul “You can control your atshma”, saya jadi tahu kalau seorang penderita asma tetap bisa beraktifitas seperti orang lain jika asmanya terkontrol. Jika asma tidak terkontrol, akan terjadi serangan asma yang mengakibatkan penderita sesak nafas.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengontrol asma:
1.     mengkonsumsi obat yang diberikan dokter .
2.     Menghindari hal atau benda yang merupakan pencetus serangan asma.
3.     Cek ke dokter 2-3 kali dalam setahun meskipun tidan terjadi serangan asma.
4.     Mengetahui tanda-tanda serangan asma yang memburuk dan tahu cara penanganannya.

Mengkonsumsi obat yang diberikan dokter
Sebagian besar penderita asma mengkonsumsi 2 macam obat asma yaitu:
1.     quick-relieve medicine (reliever) yaitu obat untuk membantu menghentikan sesak nafas ketika serangan asma datang.
Untuk obat jenis ini, Ikhfan sering memakai ventollin nebu satu ampul dengan memakai nebulizer setiap kali serangan sesak nafas datang. Ventolin saya pakai untuk pertolongan pertama ketika sesak nafas sudah terlihat berat. Tanda-tandanya yaitu ketika Ikhfan sudah sangat rewel dan tidak bisa tidur. Selalu meminta digendong ketika ingin tidur dan ketika direbahkan akan terbangun dan menangis.

Selain itu nafasnya sudah terlihat pendek-pendek, sekilas seperti ngos-ngosan. Kalau serangan lebih buruk, Ikhfan tidak akan kuat menangis hanya diam dan nafasnya tersengal-sengal.
Pertolongan pertama yang saya lakukan di rumah adalah memberi ventolin nebu. Menurut dokter, saya bisa memberi ventolin nebu sampai 3 kali dalam 24 jam untuk meredakan sesak nafasnya. Biasanya setelah saya nebu satu kali di rumah saya tetap membawa Ikhfan ke dokter untuk konsultasi. Ini jadi salah satu alasan saya menyediakan alat nebulizer sendiri di rumah, jadi saya bisa bergerak cepat jika tiba-tiba serangan asma datang.

Kalau nafasnya sudah tidak terlalu pendek-pendek, saya tidak memberi ventolin nebu tapi saya ganti obat oral yang saya peroleh dari dokter.
Biasanya dokter meresepkan salbuven sirup dan racikan obat puyer untuk obat sesak nafasnya. Dokter memberi obat untuk sekitar 5 hari. Ikhfan butuh waktu sekitar 1 s.d. 1,5 minggu untuk sampai pada kondisi sehat dalam arti sudah tidak ada sesak nafas dan batuk/pilek-nya.

kala nebulizer di RS
2.     preventive medicine (controller) yaitu obat yang digunakan setiap hari untuk  menjaga saluran nafas dan mencegah serangan asma datang.
Setelah second opini dokter dan membaca info di e-book, saya jadi bisa menerima kalau penderita asma dengan indikasi tertentu perlu mengkonsumsi obat yang bersifat controller setiap hari. Awalnya saya dan mas sempat ga tega kalau melihat Ikhfan setiap hari harus mengkonsumsi obat. Mikirnya apa ga terlalu “over” kasih obat di kala anak terlihat sehat dan tidak terkena serangan asma??
Tapi memang pemberian obat controller oleh dokter menggunakan syarat dan ketentuan sesuai dengan diagnosisnya.
a. jika penderita asma batuk, pilek dan sesak nafas lebih dari seminggu;
b. jika penderita sering terbangun di malam hari dan tidak bisa tidur kembali karena sesak nafas
c. jika penderita sudah mengalami berkali-kali serangan asma dalam setahun terakhir.
 Obat controller aman digunakan setiap hari meskipun sampai bertahun-tahun dan tidak akan mengakibatkan “kecanduan”.

Saya kemudian mencoba mereview ulang riwayat serangan asma pada Ikhfan. Di 1,5 tahun terakhir hampir setiap bulan ikhfan batuk/pilek dan berakhir dengan sesak nafas. Enam bulan terakhir jarak serangan asma semakin pendek yaitu tiap 3 minggu sekali. Jadi saya hanya sekitar seminggu melihat Ikhfan sehat tanpa batuk pilek, setelah itu batuk pilek kemudian sesak nafas datang lagi.
terapi seretide
Membaca catatan medis saya, akhirnya dokter spesialis paru anak yang saya temui memutuskan memberi obat jenis controller ini. Obat yang diberikan adalah seretide. Seretide adalah obat hisap, karena Ikhfan masih anak-anak maka seretide diberikan dengan alat bantu seperti corong masker sehingga memudahkan Ikhfan untuk menghirup obatnya.
Dosis yang diberikan adalah 2 x sehari satu semprotan selama 3 bulan. Setiap bulan Ikhfan harus kontrol untuk dilihat kondisinya. Kalau dalam jangka waktu 3 bulan itu masih ada serangan asma, tentu saja dosis seretide belum akan diturunkan oleh dokter.
 
Satu bulan pertama, di minggu ketiga Ikhfan mulai batuk/pilek dan sesak nafas. Kontrol ke dokter diberi tambahan obat salbuven sirup dan racikan obat puyer, seretide tetap dilanjut 2x 1.

Dan awal bulan september ini, dokter menurunkan dosis seretide menjadi 1x 1 karena selama 3 bulan ini tidak ada serangan asma.
Yipiie...senangnya. Ternyata terapi seretide ini benar-benar ngefek. Ketakutan saya dan mas tentang penggunaan obat controller setiap hari pada Ikhfan pun berangsur-angsur hilang.
Awal oktober adalah jadwal kontrol Ikhfan untuk kondisi Ikhfan. Semoga semuanya akan baik-baik saja.

Di postingan berikutnya saya akan posting tentang Menghindari hal atau benda yang merupakan pencetus serangan asma.

6 komentar:

Elsa mengatakan...

semoga mbak entik sekeluarga sehat selalu yaa...

apa kabar mbak?

fitri anita mengatakan...

ikhfan montok sekali ya...dulu anak2 sering sekali kena asma,,,,dzaky samoai ngik ngok begitu nafasnya...seiring dengan usia,,,sudah jarang lagi kumat asmanya

Grace Melia mengatakan...

Alhamdulillah asma nya sudah jarang mampir. Sehat-sehat yaaa ^^

entik mengatakan...

@elsa: amin..maksih. kabar baik nih...elsa kayaknya dah lama ga update blog ya.. kangen baca cerita2mu

entik mengatakan...

@fitri: iya mba, ikhfan nih berat badannya jauh diatas garis hijau walau sering kambuh asmanya. Alkhamdulillah...
Dzaki asma juga ya? kalau Raffa asma juga ga mba?

entik mengatakan...

@grace: Iya nih, asmanya sudah jarang mampir berkat terapi seretide. Semoga terapinya segera selesai dan ikhfan sehat terus.