Jumat, 23 September 2016

Menjadi Orang Tua yang Bijak Ber-internet



Saya adalah generasi tahun 90an, saat-saat awal yang namanya internet mulai dikenal oleh anak-anak muda di Indonesia. Di tahun pertama saya SMA, saya mulai mengenal yang namanya email atau surat elektronik, website dan chating-chating ala IMRC maupun YM. Cara menggunakan internet saya peroleh dari teman-teman dan juga pernah sekali ikutan workshop gratisan tentang internet. 
 
Waktu itu, bisa menggunakan internet tuh sesuatu banget deh karena belum banyak anak-anak muda sebaya saya yang bisa pake internet. Jadi rasanya seneng banget sampai mungkin terlalu seneng sampai tiap hari ada perasaan pengen menyambangi warnet untuk sekedar chating lewat MIRC.

Kala itu belum ada smartphone dan penggunaan handphone pun masih terbatas kalangan tertentu saja, jadi warnet menjadi idola orang-orang yang ingin menggunakan internet- termasuk saya. Namun selang 15an tahun, keadaan sudah sangat berbeda. 

Saat ini penggunaan smartphone semakin marak dan akses internet sangat mudah diperoleh. Menurut APJII & Puskakom UI/2015, rentang usia pengguna internet pun semakin beragam. Usia 18-25 tahun menduduki rating tertinggi sebesar 49 % disusul usia 26-35 tahun sebesar 33,8% dan usia 36-45 tahun sebesar 14,6%. Saat ini pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta orang. Sebuah jumlah yang sangat besar dibandingkan jaman saya remaja dulu. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak sekarang adalah anak-anak digital native. Saya yang sekarang sudah berstatus sebagai orang tua terkadang masih kudet bahkan gagap terhadap teknologi internet yang berkembang pesat ini. Jiwa usia di atas 30 mungkin berbeda dengan jiwa anak-anak muda di rentang usia 18-25 tahun. Hasrat untuk ingin tahu dan update perkembangan dunia internet lebih besar dibanding yang usianya diatas 30. Saya menyadari bahwa kehadiran internet ini adalah sebuah cara baru untuk mengeksploarsi banyak hal, bekerja, menyimpan file, menyebar informasi dan juga pesan, mem”branding” diri, eksis dengan berbagai macam media sosial , bermain games dan hiburan, serta bisa untuk mencari uang.

Dari sederet kegunaan internet itu, ternyata games dan hiburan menjadi sesuatu yang menarik bagi anak-anak seusia Ikhsan (9th). Survei YKBH tahun 2015 juga menunjukkan bahwa 20 % anak usia 9-12 tahun bermain games melalui internet. Saya juga agak terkaget-kaget ketika Ikhsan yang sejak duduk di kelas 1 SD, sering minjam handphone saya dan bilang mau download.
“Ibu, pinjem hape-nya aku mau download..”
“Download?”
“Ho o, aku mau donlot game,” jawab Ikhsan santai.

Lha, saya yang merasa belum pernah ngajarin dia untuk mendownload sebuah game dari playstore jadi kaget. Nih anak dapat “ilmu” download dari mana?? Usut diusut ternyata Ikhsan trial &eror dengan handphone saya. Ditambah dapat ilmu dari asisten saya di rumah yang berumur 17 tahun. Pong...saya merasa kecolongan. Anak-anak digital native ternyata sangat cepat belajar sesuatu yang baru tentang teknologi. Terkadang mereka belajar sendiri dengan trial &eror atau dari teman-teman sebaya.

Saya sejak dulu memang tidak suka bermain game, saya malah merasa bosan kalau terlalu lama bermain game tapi saya lihat Ikhsan atau teman-temannya selalu terlihat seru kalau bermain game apalagi kalau mainnya rame-rame. Setelah cari-cari info, saya baru tahu beberapa alasan mengapa anak-anak sangat senang bermain game. Ini beberapa alasannya:
1.     Itu sesuatu yang menyenangkan dan mereka berada pada usia bermain.
2.     Anak-anak tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikologis dengan bermain
3.     Sedang eksplorasi dengan rasa ingin tahu yang tinggi (couriousity)
4.     Disediakan orang tua
5.     Ingin dan senang berkompetisi
6.     Senang bergaul
7.     Ingin melepas stres, kejenuhan, kebosanan dari aktivitas sehari-hari.

Terus terang sekarang saya sedang belajar berkompromi dengan cepatnya laju teknologi di internet dengan perkembangan dan keinginan ikhsan-ikhfan untuk berinteraksi dengan internet entah melalui youtube, game ataupun website. Bagaimana sih seharusnya kita sebagai orang tua bersikap terhadap laju arus perkembangan informasi dan teknologi terhadap anak-anak kita yang masih di rentang usia 6-12 tahun?

Ortu melek teknologi

Menurut saya, orang tua jaman sekarang “wajib” tahu tentang perkembangan informasi dan teknologi. Kita musti tahu game-game apa yang lagi nge-hits termasuk cara mainnya karena terkadang ada beberapa game yang sampai di level tertentu ada sisipan konten pornografinya seperti gambar-gambar perempuan dengan baju minim dan pemain harus menembakkan peluru dengan memencet-mencet bagian dada si kartun perempuan yang minim baju itu untuk naik ke level selanjutnya. Saya sempat kecolongan kejadian kayak gini. Waktu itu Ikhsan maen game soccer, saya liat sekilas aman karena game itu ratingnya untuk anak-anak. Lha kok di level tertentu musti melakukan “pencetan” kayak gitu. Lha untungnya Ikhsan kok ya cerita ke saya. Saya-nya yang shock, dasar saya ga suka game jadi kadang males ngecek cara maen game dan melihat Ikhsan maen.
“weh lha dalah kak Ikhsan...itu game saru. Hayuk dihapus saja.., kayaknya itu game ga cocok untuk anak seumuran kakak deh,” komentar saya.
Setelah diskusi panjang, akhirnya Ikhsan bersedia menghapus game itu.

Selain itu, orang tua juga harus tahu rating game, mana game yang untuk usia 3 tahun, 6 tahun dan usia-usia di atasnya. Jangan sampai anak usia 6 tahun memainkan game untuk usia 17 tahun yang ratingnya mature.

Urusan media sosial juga perlu diketahui. Ada beragam media sosial yang melambai-lambai untuk diikuti. Biasanya anak-anak usia remaja sudah mulai join beberapa media sosial. Saya pernah dapat saran dari seorang teman bahwa orang tua harus bener-bener memantau media sosial yang diikuti anak-anaknya terutama grup-grup di smartphone karena di grup konten-konten pornografi sangat mudah masuk dan kadang orang tua kesulitan untuk mengetahui. Berbeda dengan media sosial selain grup di smartphone yang bisa diakses orang tua dengan lebih mudah.

Ikhsan kemarrin sudah mulai merengek-rengek punya BBM karena teman sekelasnya sudah ada yang punya BBM.
“Ibu aku kemarin ditanya Ra*** berapa nomer PIN BBM-ku? Aku pengen punya BBM,” rengen Ikhsan.
“Lha mau buat apa BBM-an?” tanya saya.
“Ya, ben sama kayak temenku..” jawab Ikhsan polos.
“Eh, bu..., PIN BBM itu apa sih?”
Saya pengen ngakak sambil tepok jidat, nih anak umur 9 tahun mau ngapain pada BBM-an?? PIN BBM aja belum mudeng.
Permintaan itu langsung saya tolak.

Berkomunikasi dengan Anak
Sebagai orang tua, kita harus menyadari bahwa anak-anak kita adalah digital native, jadi kita tidak bisa menolak atau mencegah mereka bersentuhan dengan informasi dan teknologi. Menurut saya, orang tua harus mempunyai pola komunikasi yang baik dengan anak sehingga hal-hal yang krusial seperti penggunaan internet dapat dikomunikasikan kepada anak dengan baik pula.
Orang tua tidak bisa memaksakan kehendak dengan melarang anak menggunakan gadget tanpa alasan yang rasional dan bisa diterima anak. Kita harus menjaga dan menghargai perasaan anak-anak. Menjelaskan dengan hati-hati tentang sisi baik dan buruknya penggunaan internet dari sudut pandang anak kita (sesuaikan dengan usia anak). Selanjutnya kita bisa membuat kesepakatan dengan anak mengenai aturan penggunaan gadget serta konsekuensinya jika kesepakatan itu dilanggar.

Saya sekarang juga mulai membuat kesepakatan dengan Ikhsan mengenai total waktu dalam sehari dia boleh bermain game di hanphone. Saya dan Ikhsan sepakat, maksimal 2 jam dalam sehari Ikhsan boleh maen game.
Saya memang membolehkan Ikhsan bermain game setiap hari dengan batasan waktu maksimal 2 jam, dengan catatan kalau melebihi batas maksimal, besoknya ikhsan tidak bisa lagi bermain game sama sekali. Selama ini bisa berjalan, walau kadang kalau kondisi saya capek, saya kadang lupa untuk mengingatkan Ikhsan tentang batas waktunya. Ikhsan juga malah hepi saja kalau saya lupa...

Beberapa kali, saya juga menyempatkan ngobrol tentang efek negatif kecanduan game sama Ikhsan. Karena sering saya ajak ngobrol tentang topik itu, nih anak kayaknya mulai punya pikiran sendiri kalau maen game kelamaan itu ga baik. Jadi kalau saya ingatkan tentang batas waktu maen gamenya, ikhsan langsung dengan ikhlas tanpa perlawanan menghentikan permainannya. Saya tersenyum sendiri mendengar kesimpulan Ikhsan dari obrolan kami tentang dampak negatif bermain game;
“berarti orang yang kecanduan game itu merusak dirinya sendiri ya bu? Sama saja membunuh dirinya secara pelan-pelan. Aku ga mau kecanduan game...”

Membangun komunikasi yang baik dengan anak, akan membantu kita memahami perasaan anak dan memudahkan kita memberi nasehat dengan bahasa dan sudut pandang anak kita. Jadi anak tidak merasa terlalu banyak diatur dan diperintah oleh orang tua.

Be a good model

Terus terang saya masih berusaha keras untuk menjadi model pengguna internet yang bijak dan baik bagi ikhsan-ikhfan di rumah. Kalau bikin kesepakatan atau aturan bagi anak tentang batasan waktu maksimal menggunakan gadget, kita sebagai orang tua juga kudu konsisten memberi contoh bahwa sebagai orang tua juga ada pengaturan waktu untuk menggunakan gadget di rumah.

Kalau saya, karena saya sering banget “cerewet” mengingatkan Ikhsan ketika batas waktu maen game-nya habis, saya tidak pernah main game lewat gadget di depan ikhsan-ikhfan. Saya buka handphone hanya untuk mengecek notifikasi pesan. Jadi harap maklum kalau kadang saya slow repons bingit sama notifikasi pesan-pesan yang masuk ke handphone.

Menjadi contoh yang baik bagi anak, bagi saya adalah sesuatu yang tidak gampang dilakukan. Karena terkadang kita toh juga ga bisa melepas gadget ketika kita berinteraksi dengan anak-anak di rumah.
Tapi paling tidak saya berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih bijak dalam ber-internet karena anak-anak belajar menggunakan internet dengan baik dengan melihat bagaimana orang-orang di dekatnya berinteraksi dengan internet. Orang tua adalah orang terdekat anak di rumah.  Jadi memulai segalanya dari rumah adalah sebuah pilihan yang bijak.

ikhfan-ikhsan


5 komentar:

fitri anita mengatakan...

anak2 sekarang memang beda ya

Pernah liat masih baby di stroller aja udah pegang gadget sendiri


kalau anak2 dirumah memang suka lagi suka bgt maen game ataupun buka channel youtube..

Sekarang dibatasi weekend aja itupun masih dibatasi maksimal 2 jam saja karena kalo udah pegang gadget lepasnya susah dan jadinya gak fokus, lebih agresif dan jadi agak tidak patuh.


Begitu kalau anak2 dirumah

entik mengatakan...

ikhsan juga mulai tak batasi waktu menggunakan game. Walau kadang kadang protes masih pengen maen lagi

Christanty Putriarty mengatakan...

Memang ya mbak pengaruh lingkungan juga bisa menjadi faktor kenapa anak2 sekarang melek tehnologi gadget lebih dini.karena itu parenting control tetap diutamakan.slm knal y mb (@cputriarty)

entik mengatakan...

@putri:
bener banget, lingkungan memberi pengaruh yang besar bagi anak2. Sepakat untuk mengutamakan parenting control.
salam kenal balik..

Nathalia DP mengatakan...

Berhubung anak saya msh balita, jd dis cmn suks game2 edukatif aja, itupun tetap saya batasi waktunya