Langsung ke konten utama

Perpustakaan yang cozy

Sudah lama banget saya pengen singgah di perpustakaan daerah Jogja yang bernama Grhatama Pustaka. Dari jauh gedungnya terliat bagus dan keren, jadi bikin penasaran aja buat masuk. Biasanya kalau denger kata perpustakaan, yang ada dalam pikiran kita adalah gedung yang "kaku" dan rak yang penuh buku trus jadi bikin males masuk. Beda banget kalau disuruh masuk toko buku.

Minggu kemarin, saya dan Ikhsan menyempatkan diri masuk ke Grhatama Pustaka yang lokasinya dekat dengan Jogja Expo Center. Yuk mari kita lihat-lihat ke dalam..

Gedung Grhatama Pustaka tampak dari depan
Dari luar, gedung perpustakaan ini seperti tidak terlihat dan sepi. begitu kita masuk ke dalam seperti masuk gedung yang modern. Di lobi perpustakaan kita akan disambut oleh dua counter front office. Counter sebelah timur adalah tempat kita meminjam kunci loker untuk menyimpan tas. Jadi kalau mau masuk area koleksi buku, kita wajib menitipkan tas di loker.
Counter sebelah barat adalah tempat informasi dan pendaftaran anggota perpustakaan.
Lobi perpustakaan cukup luas dan ada beberapa kursi sofa empuk untuk duduk dan menunggu panggilan pendaftaraan anggota.

Sebelum masuk, kita disarankan mengisi presensi pengunjung perpustakaan dengan mengisi komputer yang sudah di sediakan. Di pintu masuk juga ada informasi mengenai wifi dan password wifinya, jadi kita  bisa mengakses internet dengan free wifi di sini.
mengisi presensi pengunjung di komputer
Ghratama Pustaka terdiri dari 3 lantai. Begitu kita masuk dari pintu utama, kita berada di lantai dua. Di lantai ini ada ruang koleksi buku braile, dan koleksi buku umum. Ruang koleksi buku umum cukup luas dan paling ramai pengunjung. Semua ruang koleksi sudah dilengkapi dengan AC, lantai ditutup karpet yang cantik dan bantal-bantal lantai yang nyaman banget buat baca atau buka laptop. Bahkan Ikhsan malah pengen tidur di lantai berkarpet itu.
Turun di lantai 1, Ikhsan senang sekali karena ruang koleksi buku untuk anak sangat nyaman. Deretan buku dan udara yang adem bikin lupa waktu. Bantal lantainya juga empuk buat duduk dan baca buku.
Oya, ketika mau masuk ruang koleksi, kita disarankan memasukkan sandal di kantong yang sudah disediakan di depan ruang koleksi.


Selain ruang koleksi buku anak, ada juga ruang permainan untuk anak sampai usia 6 tahun. Di sini semacam playground untuk anak. Dekorasi ruangannya anak-anak banget. Ceritanya ruang ini mengakomodir pengunjung yang membawa anak kecil, sehingga si orang tua tetap bisa melakukan aktivitas di perpustakaan.

Naik ke lantai 3, ada ruang koleksi buku-buku terbitan penerbit Yogyakarta, koleksi skripsi dan tulisan ilmiah, majalah-majalah dan koran. Huhu...disini ruangannya juga asyik karena adem dan enak banget buat baca-baca.

Di Ghratama Pustaka juga ada ruang bioskop 6 dimensi yang masih dalam proses pengerjaan, ruang untuk acara dongeng anak juga ruangan untuk bedah buku. Selain itu selasar gedung juga disediakan kursi-kursi yang nyaman untuk sekedar duduk, diskusi atau mengakses internet.
View di dalam dan di luar gedung bagus banget.



Jadi dateng ke sini juga bisa jadi wisata edukatif bagi anak-anak, yaitu mengenalkan perpustakaan sejak dini ke mereka. Selain baca, atau sekedar maen, kita juga bisa pinjam buku. Aturannya bisa pinjam 1 buku untuk 1 minggu. Anak-anak juga boleh jadi anggota.


Yang belum pernah ke sana, silahkan dicoba mampir. Pasti akan merasakan sensasi berbeda dengan perpustakaan pada umumnya.

Komentar

santi dewi mengatakan…
wah... ini sih perpustakaannya keren banget, lengkap. Coba di kota saya juga ada perpus kayak gini...
Heni Puspita mengatakan…
Kapan ya di kota saya ada perpus yang cozy begini he he

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…