Jumat, 14 Oktober 2016

Belajar Positif Parenting [Part 1]



Kemarin Sabtu tanggal 8 Oktober 2016 saya mengikuti sebuah Talkshow menarik tentang positif parenting di Fakultas Psikologi UGM dalam rangka memperingati hari kesehatan jiwa. Talkshow kemarin terbagi dalam 2 sesi. Sesi pertama paparan tentang emosi dalam keluarga yang disampaikan Prof Subandi dan good parenting yang disampaikan Prof. Noor Rahman. 

Sedangkan sesi kedua menghadirkan 2 keluarga (keluarga Pak Broto dan keluarga Anto) yang menerapkan dua pola asuh yang berbeda pada anak-anak mereka yang “menghasilkan” produk anak dengan prestasi yang berbeda. Sesi yang kedua sangat menarik karena salah satu keluarga yang hadir adalah keluarga Antok. Anto pernah hadir dalam acara Kick Andy, menceritakan tentang proses pemasungan dirinya karena dianggap depresi dan membahayakan masyarakat sampai akhirnya Anto dapat terbebas dari pasung dan depresi. Selain terbebas dari pasung, Anto juga sukses dapat kuliah dan berkreasi dengan batik. Proses panjang sekitar 3 tahun berhasil dilewati Anto.
 Awal Anto mengalami depresi adalah keinginan untuk kuliah yang tidak dapat terlaksana karena orang tua tidak mempunyai biaya. Orang tua Anto, berkali-kali mengatakan bahwa orang miskin seperti mereka cukup sekolah sampai STM saja supaya bisa langsung kerja setelah lulus. Namun keinginan Anto untuk kuliah sangat kuat tapi tidak mendapat support dari keluarga sehingga menimbulkan beban pikiran bagi Anto yang berakibat depresi. Beberapa kali “minggat” dari rumah juga membuat resah keluarga Anto. Sang Ibu dengan keterbatasan uang, tetap berusaha mencari Anto dengan dasar bahwa seorang Ibu tidak akan membiarkan anaknya terlantar di luar rumah. Setelah pulang ke rumah, Anto tetap “depresi” dan tetap tidak bisa menerima kenyataan keadaan dirinya dan keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dan tidak bisa kuliah. Sampai akhirnya keluarga dan masyarakat memutuskan untuk memasung Anto dengan memasang rantai pada kakinya.

Singkat cerita, Anto akhirnya dilepaskan dari pasung dan berhasil menemukan “insight” kesadaran dan penerimaan dirinya. Anto mencari informasi mengenai depresi, shizofrenia dan segala hal yang berkaitan dengan penyakit jiwa melalui buku-buku di perpustakaan daerah di kotanya. Dari sana Anto mengetahui gejala-gejala yang dialaminya dan bisa menerima dirinya. Sejak itu akhirnya Anto mulai bekerja menjahit baju selanjutnya membuat desain batik (kebetulan ibunya adalah seorang buruh batik) sampai akhirnya ekonomi keluarga terdongkrak dan Anto akhirnya bisa membiayai kuliahnya. 

Kontras dengan pengalaman keluarga Pak Broto yang juga berasal dari keluarga miskin. Pak Broto mempunyai prinsip bahwa anak-anaknya harus menjadi orang yang lebih baik dari dirinya yang hanya buruh. Dua orang anak perempuan pak Broto didukung untuk belajar dan berprestasi di sekolah. Pak Broto membuat kesepakatan dengan anak-anak mengenai jam belajar mereka setiap hari. Kesepakatan itu bahwa anak-anak bersedia belajar setengah jam setiap hari sehabis maghrib. Selain itu, pak Broto juga selalu membesarkan hati anak-anak supaya tidak minder bergaul karena kemiskinan mereka. Sedangkan bu Broto dengan keterbatasan uang, selalu menyiapkan makanan seadanya untuk anak-anak. Memastikan anak-anak sudah sarapan sebelum berangkat sekolah dan menyediakan makan setelah anak-anak pulang. Pemikiran bu Broto yang sederhana ternyata merupakan bentuk support yang besar untuk kedua anaknya.

Dari dua keluarga itu, saya jadi kepikir ternyata tiap keluarga menerapkan pola asuh yang berbeda-beda sesuai dengan pengalaman dan kemampuan berpikir setiap orang tua. Hasil penerapan pola asuh itu juga akan menghasilkan “produk” anak-anak yang berbeda pula. Prof. Noor Rohman menyebutkan bahwa tindakan kasar pada anak bukan pendekatan yang efektif untuk mengurangi perilaku negatif pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kecenderungan agresif pada anak dan peningkatan masalah kesehatan mental pada anak. 

Saya juga tidak memungkiri kalau anak-anak itu tidak selalu baik dan menurut, terkadang mereka bandel melakukan tindakan yang negatif dan marah-marah ketika kita mengingatkannya. Kadangkala tanpa sadar respon emosi kita sebagai orang tua marah dan memberi komentar yang negatif pada anak. Prof. Noor Rohman mengingatkan jika kita berada dalam situasi seperti itu, ada satu bentuk positif parenting yang bisa diterapkan yaitu “mundur dari konflik”. Artinya orang tua tidak melanjutkan “pertengkaran” tapi keluar dari ruangan dan mengatakan pada anak bahwa orang tua akan ada di kamarnya jika dia ingin “mencoba lagi”. 


Biasanya ketika emosi sedang tinggi dan kita meninggalkan situasi pencetus emosi, biasanya kadar emosi akan sedikit turun, dan kita bisa mengontrol diri untuk tidak berkata-kata negatif.
Saat ini yang dibutuhkan adalah penerapan pola asuh atau parenting positif dalam keluarga karena dengan menerapkan itu keluarga yang harmonis dan sakinah bisa terwujud. Positif parenting adalah parenting yang mendukung hubungan orang tua dan anak yang sehat. Dalam keluarga, anak membutuhkan kasih sayang, perasaan dicintai, diperhatikan, bimbingan dan dukungan untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang aman dan positif.

Sempat terbersit pertanyaan juga, ngapain sih menerapkan positif parenting? Prof Noor memberikan alasan mengapa kita membutuhkan positif parenting:
1. Hukuman fisik pada anak di kemudian hari meningkatkan kesedihan,kecemasan, depresi, penyalahgunaan narkoba-alkohol dan ketidakmampuan menyesuaikan diri secara psikologis.
2.   Selain “pemukulan” secara fisik, terkadang orang tua menyakiti anak-anak dengan mempermalukan, memberi label juga memberi komentar negatif seperti, “kok kamu ga pinter sih?”. Orang tua juga kadang mengkritik anaknya terus menerus.

Unsur yang terpenting dalam positif parenting adalah orang tua. Kira-kira bisa tidak sih, positif parenting ini dipelajari? Kebanyakan orang tua mnegalir saja sebagai orang tua. Intinya kita pengen anak-anak kita menjadi anak yang baik, lebih baik dari kita dengan “standar dan sudut pandang” kita. Standar pola asuh setiap keluarga pastinya berbeda untuk mencapai tujuan keluarga. Seperti keluarga pak Broto yang terus mendukung anak-anaknya untuk belajar supaya dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Pak Broto berpendapat bahwa dengan pendidikan akan dapat meningkatkan ekonomi keluarga. Sedang keluarga Anto berpikir, tidak perlu sekolah yang tinggi asal ada kemauan untuk bekerja itu sudah cukup.

Menurut Prof Noor, kita bisa mempelajari positif parenting asalkan mempunyai pondasi yang kuat seperti niat, komitmen, harapan, belajar bersama, dan saling memahami. Pendidikan parenting positif ini mencakup pengetahuan dan keterampilan orang tua atau pengasuh untuk child-rearing yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan perkembangan anak.

Saya yakin jika positif parenting jika diterapkan akan tercipta keluarga bahagia yang jauh dari suasana "panas" penuh emosi di rumah.
we are a happy family
Karena masih banyak yang mau saya tulis, postingan part 1 sampai disini. Besok bersambung di postingan selanjutnya.
[BERSAMBUNG....]

4 komentar:

monda mengatakan...

isi seminarnya berguna banget ya buat kita sebagai orang tua
untuk jadi orang tua positif tak mudah ya, harus banyak belajar dan punya niat dan komitmen
terima kasih sharingnya mbak Entik

Bunda Kanaya mengatakan...

banyak orang sukses setelah sebelumnya melewati banyak rintangan ya mbak, makasih sudah berbagi tulisan ini

entik mengatakan...

@Monda: iya bener banget. kudu punya niat untuk memulai

entik mengatakan...

@bunda Kanaya: iya kita jadi bisa belajar dari mereka yang sukses bahwa kesuksesan itu adalah proses