Langsung ke konten utama

Belajar Positif Parenting [PART 2]


Melanjutkan postingan positif parenting PART 1 disini, saya posting lanjutannya.
Setelah membulatkan niat dan komitmen untuk menjadi orang tua yang baik dengan menerapkan positif parenting, kita harus lebih banyak membaca dan mencari informasi seputar positif parenting. Ga mungkin kan, cuma ada niat tanpa ilmu untuk menerapakan positif parentng? kayaknya susah banget deh. Nah ini  ada  beberapa hal yang perlu kita perhatikan jika ingin menerapkan positif parenting: 

1.     Lingkungan belajar yang positif
Anak-anak membutuhkan perhatian orang tua, tapi itu tidak berarti orang tua harus menghabiskan waktu setiap menit untuk selalu bermain dengan mereka. Kulitas lebih baik dibandingkan kuantitas. Orang tua diharapkan memberi sikap yang positif termasuk memberi pujian terhadap anak ketika mereka melakukan hal-hal yang baik dan sesuai harapan orang tua.
Perhatian dan pengakuan orang tua terhadap anak yang melakukan hal-hal yang baik akan mendorong anak untuk melakukan hal yang baik lagi.
Mengatakan hal-hal yang positif terhadap tingkah laku anak, bagi saya bera..aat. karena kadang tanpa sadar saya membandingkan mereka dengan saya ketika kecil. Selain itu, jumlah waktu yang kami luangkan untuk anak-anak rasanya belum maksimal kualitasnya. Mas yang sering sekali tugas luar kota membuat anak-anak jarang bertemu bapaknya. Saya berusaha mati-matian selalu menghadirkan sosok “bapak” dalam keseharian sehingga anak-anak tetap merasa mengenal dekat bapaknya walau tidak setiap hari bertemu. Selalu ada rasa kangen jika lebih seminggu tidak bertemu bapaknya. Jika saya tanya,” kok kangen sama Bapak kenapa?”
“aku pengen maen sama bapak..” jawab si kecil ikhfan.
“aku pengen gojek (guyonan) sama bapak,” jawab kakak ikhsan.
Jawaban sederhana versi anak-anak yang bikin saya ikut tersenyum.
2.     Manajemen perilaku dan kedisiplinan secara asertif
Sebenarnya anak-anak membutuhkan batas-batas dan konsistentensi terhadap perilaku/disiplin sehingga mereka merasa aman dan nyaman. Orang tua menerapkan disiplin tegas yang konsisten. Aturan yang tegas itu harus dibarengi dengan petunjuk-petunjuk yang mudah dipahami oleh anak-anak. Jadi orang tua memberi tahu anak, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Melihat diri saya sendiri, saya mengaku belum konsisten menerapakan aturan di rumah. Contoh kecilnya urusan sikat gigi sebelum tidur. Kadang-kadang saya bisa tegas dan tidak bisa dibantah bahwa ikhsan ikhfan wajib sikat gigi sebelum tidur. Tapi di satu waktu saya kadang tidak tegas dan membiarkan mereka tidak sikat gigi karena saya tidak tahan rengekan mereka yang beralasan sudah mengantuk sekali.
Harus banyak belajar untuk tegas dan konsisten hehe....
3.     Harapan yangg realistik terhadap anak
Anak tidak bisa disamakan satu sama lain. Sebagai orang tua jangan berharap terlalu berlebihan atau malah kurang terhadap anak. Berharaplah sesuai kemampuan anak. Orang tua tidak bisa mengharapkan anak untuk selalu sopan, menurut pada orang tua, pintar dan sukses. Adakalanya anak tidak sehebat harapan orang tua, mereka mungkin melakukan kesalahan. Namun kesalahan mereka kebanyakan adalah kesalahan yang tidak disengaja karena ketidaktahuan mereka.
Saya juga kadang tanpa sadar mengharapkan Ikhsan supaya lebih pandai dari teman-temannya. Sekali sempat terbersit ingin Ikhsan meraih juara satu di kelasnya. Alkhamdulillah pikiran itu sering di-stop oleh mas sehingga tidak menguasai seluruh pemikiran harapan saya pada ikhsan maupun ikhfan. Kami menyadari bahwa kemampuan ikhsan-ikhfan akan berbeda satu sama lain. Tugas kamilah untuk menggali potensi mereka supaya bisa dikembangkan sehingga bisa menjadi kelebihan mereka guna mengarungi kehidupan yang akan datang.
4.     Self care of parentst
Sebagai orang tua, kita juga membutuhkan dukungan dari keluarga untuk bisa menjadi “orang tua yang baik” bagi anak-anak. Selain itu suami istri juga membutuhkan “me time” berdua untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan bagi mereka. Ketika hubungan suami istri kuat, komunikasi lancar diantara keduanya dan mempunyai pandangan yang sama dalam menerapkan pola asuh dalam keluarga, orang tua akan lebih sabar dan tenang ketika anak-anak membutuhkan mereka. Selain itu orang tua juga akan merasa percaya diri akan kemampuan mereka dalam hal parenting.
Jadi komunikasi diantara pasangan suami istri sangat penting untuk mengokohkan pondasi dalam penerapan positif parenting. “Me time” berdua dengan suami juga penting lho.., sekali-kali jalan berdua aja kayak masa sebelum nikah pasti akan ada sensasi yang lain. Silahkan sering-sering dicoba, seperti pengalaman saya pacaran sama suami di sini.

Hasil yang diharapkan dalam penerapan positif parenting adalah adanya peningkatan sikap positif orang tua misalnya diekspresikan dengan pemberian pujian dan komentar positif pada anak serta berkurangnya pemberian kritik dan perintah negatif. Mengganti tindakan memukul dan pemberlakuan disiplin keras dengan tindakan lain yang lebih konstruktif. Selain itu juga dapat menurunkan tingkat depresi pada anak dan orang tua. Positif parenting juga bisa meningkatkan kepatuhan anak terhadap orang tua. Di dalam rumah akan terkondisi komunikasi keluarga yang positif dan pemecahan masalah secara efektif.

Nah, semoga postingan ini bisa menambah pencerahan wawasan bagi emak-emak dan bapak-bapak untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita.
Tertantang? Silahkan dicoba menerapkan positif parenting di keluarga kita masing-masing.

semoga kami bisa menerapkan positif parenting dlm keluarga kecil ini

Komentar

Fitri3boys mengatakan…
waw..setuju banget...kita biasanya nerapin pola pengasuhan yg kita peroleh dulu, yang baik2 aja...
Arifah Wulansari mengatakan…
Pake video call aja mak klo pas anak2 kangen sm bapaknya. Lumayan bisa ngobatin dikit
Noni Rosliyani mengatakan…
Tulisan di part 1 & 2, bener2 nampar banget. Soalnya semalem aku abis marah-marah sama anak. Huhuhuhu.. trus nyesel. Semoga aku pun bs jdi positive parents dan lebih sabar lagi ya..

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…