Kamis, 15 Desember 2016

Sapaan Hangat di Pagi Hari



Ada orang yang bilang jika kita mengawali hari dengan senyum maka hari kita akan indah tapi jika kita mengawali hari dengan marah maka it will be a bad day. Pernah ngalami ga? Ketika bangun pagi dan mood kita bagus, rasanya hati ini enteng aja mengawali aktivitas. Tapi kalau kita bangun kesiangan, uring-uringan dan tergesa-gesa berangkat beraktivitas, biasanya ada saja barang yang ketinggalan dan rasa hati jadi “kemrungsung”.
 
Kejadian ketinggalan barang karena tergesa-gesa dan hati kemrungsung sudah beberapa kali dialami mas suami dan ikhsan. Yang pertama karena ikhsan keasyikan liat film kartun menjelang berangkat sekolah ga terasa sudah jam setengah tujuh. Karuan aja bapaknya bersiap ngebut. Begitu mobil berangkat, saya baru ngeh kalau tas sekolah Ikhsan ketinggalan. Waduh..., saya telp mas suami kalau tas Ikhsan ketinggalan dan saya minta berhenti akan saya susulkan. Akhirnya saya pun jadi ikut tergesa-gesa dan ngebut mbawain tas. Untungnya baru jalan sekitar 1 km dari rumah jadi masih bisa kesusul.


Ada lagi saat mas suami mau berangkat ke bandara. Waktu itu adik ikhfan rewel dan klayu mau ikut bapaknya sementara saya sudah di kantor. Karena tergesa-gesa  dan pikiran dah riwueh liat adik Ikhfan mewek, mas suami langsung tancap gas berangkat ke bandara. Eh, lha kok yang dibawa cuma tas koper aja, tas berisi laptop masih bertengger manis di sofa ruang tamu. Asisten di rumah telpon saya dan bilang kalau tas laptop mas suami ketinggalan. Wedew, setelah berhasil saya telp, mas suami mengiyakan kalau tas laptop ketinggalan dan dia ga mungkin berangkat kerja tanpa laptop. Tinggal 45 menit lagi pesawat bakal boarding dan saya harus ikhlas mejadi "valentino rossi" tancap gas ke bandara sambil nenteng tas laptop. Jarak rumah-bandara sekitar 15an km saya tempuh dalam waktu 20 menit naek motor. Rasanya deg-degan aja kalau telat sampai bandara.

Nah anak-anak juga seperti itu. Kalau di pagi hari sudah bad mood bakalan sepanjang hari di sekolah mood-nya juga tidak akan bagus dan itu sedikit banyak mempengaruhi konsentrasi saat pelajaran di sekolah. Bayangin aja, sebagai emak-emak kita seringnya mrepet untuk bangunin anak.
“bangun....bangun...., udah siang, ayok sekolah ..”

Tuh nada suara emak tidak jauh beda sama suara satpol PP yang ngusir pedagang kaki lima. Si anak yang dibangunin tambah males dan kitanya tambah dongkol ngeliatnya males-malesan. Emaknya dah pontang-panting antara dapur dan kamar plus persiapan ngantor eh, si anak maaih anteng males aja di kasur atau malah nyalain tipi nonton film kartun. Secara spontan sih, biasanya saya yang juga emak-emak, bakalan rada “ngomel” kalau liat adegan kayak gitu.

Kalau saya tanya beberapa teman saya, kejadian heatic pagi hari kayak yang saya alami juga mereka alami. Rata-rata mereka juga pada pake tambahan bawel dan ngomel sama anak hehe...

Beberapa waktu yang lalu, saya ikut workshop parenting di sekolah Ikhfan – TKIT Baiturahim- Kebetulan temanya kok ya cocok dengan kejadian heatic di pagi hari yang dialami kebanyakan keluarga. Psikolognya adalah mba Nur Eka dari Abhiseka. Pengantar awalnya adalah bahwa pikiran bisa mempengaruhi tindakan kita, entah itu pikiran negatif atau positif. Sebagai bukti, salah satu dari peserta diminta maju dan merentangkan salah satu tangannya. 

Ketika peserta diminta menirukan kata-kata “negatif” maka tangan yang terentang itu akan mudah untuk didorong ke bawah padahal peserta sudah diminta untuk menahan sekuat tenaga.
Namun kebalikannya ketika peserta diminta menirukan kata-kata positif, maka tangan yang terentang itu susah sekali untuk didorong ke bawah. Itu bukan hipnotis hanya sugesti saja, tapi ternyata berpengaruh sangat besar. Saya baru ngeh juga, sepertinya sepele memasukkan kata-kata positif ke pikiran lha kok efeknya besar juga.

Selanjut mba Nur Eka, mengingatkan untuk menyapa anak-anak ketika mereka bangun tidur dengan sapaan yang hangat dan bersemangat. Nada suara yang kita gunakan untuk menyapa berada di nada sol. Jadi beda dengan nada satpol PP yang ngusir pedagang kaki lima ;).
Ucapan, “Hai, sudah bangun? Assalamualaikum....,Selamat pagi? Hayuk sholat..” diucapkan pada nada sol, sehingga memberi kesan semangat.
Jangan lupa senyum merekah harus tersungging di bibir ketika mengucapkan sapaan bangun tidur pada anak. Kata mba Nur Eka, energi positif akan mengalir ke anak. Kalau ketika bangun tidur anak dah dapat energi positif, Insha Allah dia bisa mengawali harinya dengan energi positif dan menjadi boosternya melakukan aktivitas di sekolah.

Teorinya begitu, tapi dalam praktek tidak mudah lho. Saya seminggu terakhir ini sedang mencoba mempraktekkan teori dari mba Nur Eka tadi. Yang pertama kali dibangun ternyata adalah semangat positif dari diri kita dulu. Ketika kita bangun tidur, awali dengan doa dan senyum selanjutnya berpikir positif mengawali hari dengan bahagia.

Kalau ibunya sudah punya mood baik, akan lebih mudah menyapa anak-anak dan suami dengan sapaan bahagia pada nada sol tadi. Tapi kalau kita sendiri bangun dengan pikiran kusut dan kemrungsung, lha jelas kita tidak akan bisa memberi sapaan yang tulus dan semangat. Nanti kesannya malah kayak dibuat-buat dan anak-anak malah pada “mlongo” melihat kita karena merasa ada yang tidak natural dari ibunya.

Seminggu ini lumayan bagus progress latihan saya. Tidak ada yang keburu-buru kalau berangkat sekolah/kantor plus tidak ada yang ketinggalan tas sekolah/tas laptop. Adik Ikhfan juga lebih mudah diajak berangkat sekolah karena waktu-waktu kemaren susah banget ngajak adik Ikhfan sekolah. Musti dengan berbagai macam cara dan alasan untuk ngajak berangkat sekolah. Adik Ikhfan ada sedikit trauma dengan teman-temannya di sekolah. Lain waktu akan saya tulis masalah trauma adik Ikhfan ini.

Kalau anak-anak dan suami sudah berangkat dengan senyum, rasa hati ikut lega juga. Membayangkan mereka melewati hari dengan bahagaia dan kembali ke rumah nanti masih membawa perasaan bahagia juga.
kakak ikhsan-adik ikhfan kalau sedang akur
Jadi bener energi positif akan cepat sekali menular ke anggota keluarga yang lain jika yang menularkannya adalah Ibu. Disadari atau tidak, sebagai Ibu kita adalah motor penggerak dalam keluarga kita. 

Saya masih belajar untuk menjaga senyum terus mengembang di rumah dan menanggapi tingkah laku anak-anak tidak dengan emosi. Kalau saya menanggapi tingkah kakak ikhsan-adik ikhfan yang bikin hati jengkel dengan emosi dan komentar yang negatif, biasanya mereka tambah ngeyel dan membantah. Saya sudah mencobanya, ketika kakak ikhsan saya ingatkan untuk mandi sore dan seperti biasa bantahan seperti, “nanti to.., tanggung aku masih maen,” atau pura-pura ga dengar pasti akan keluar.
Tapi kalau saya menaikkan nada suara saya, eh bukannya segera mandi tapi malah semakin males. Saya tidak menaikkan suara, tapi mengulang permintaan untuk mandi dengan tegas sambil saya pegang bahunya. Akhirnya kakak ikhsan mengiyakan.
“Ya udah 15 menit lagi aku mandi.”

Ya, saya menerima kompromi untuk memberi toleransi 15 menit lagi. Biasa setelah 15 menit berlalu dan saya coba ingatkan lagi akan janjinya, kakak ikhsan langsung berlari menuju kamar mandi tanpa protes.

Mencoba hal yang kecil tapi konsisten, saya yakin pasti ada hasilnya. Bagaimana dengan teman-teman, apakah juga mempunyai kebiasaan menyapa anak di pagi hari untuk menumbuhkan semangat? Share dong...


2 komentar:

Santi Dewi mengatakan...

pikiran memang efeknya kemana2 ya mba, apalagi kalau pagi hari sudah tdk enak hati, kesananya pasti berantakan. Makasih sharing-nya ya...

fitri anita mengatakan...

biaanya subuh2 udah bangun semua, kalau ada yg belum bangunin, dibangunin pelan2 biar gak kaget, lupa pake senyum apa engga...he he he