Kamis, 22 Desember 2016

selamat hari Ibu

Setiap orang pasti punya kenangan tentang Ibu. Ada juga yang mengidolakan Ibu-nya dan pengen seperti Ibu-nya setelah berkeluarga kelak. Ibu memang orang pertama yang kita kenal di dunia. Bukankah  dari air susunya kita dapat bertahan hidup dunia? cara Ibu mengajarkan kita tentang kehidupan juga berbeda-beda. Begitu juga dengan Ibu saya.

Setelah saya menjadi Ibu, saya baru tahu alasan mengapa dulu alm. Ibu sangat-sangat cerewet mengatur anak-anak dan keluarga. Ibu saya adalah perempuan bekerja yang multi tasking. Jaman saya kecil, Ibu selalu memasak sendiri untuk keluarga dan menyediakan aneka cemilan sebelum berangkat ke kantor. Pokoknya Ibu memastikan di rumah tersedia makanan untuk anak-anak baru beliau berangkat kantor.


Sejak adik saya yang terkecil berusia 5 tahun, kami tidak punya pembantu. Alhasil semua pekerjaan rumah dilakukan oleh Ibu. Kami hanya diminta sekolah dan belajar yang baik. Tidak membantu pekerjaan rumah tidak masalah asal PR dikerjakan.

Sekarang saya jadi mahfum alasan Ibu meminta kami serius sekolah dan memberi banyak waktu untuk belajar karena ada trauma di masa kecil beliau bahwa kesempatan untuk belajar dan meneruskan sekolah hampir tidak ada karena harus membantu kedua orang tua. Dengan mencuri-curi waktu, Ibu tetap belajar dan punya semangat yang tinggi untuk melanjutkan sekolah di UGM. Namun keinginannya itu harus dibuang jauh karena orang tua Ibu mengutamakan kakak laki-laki Ibu yang kuliah di UGM. "Perempuan tidak perlu sekolah sampai perguruan tinggi," begitu alasannya.
Dari cerita beliau pada saya dulu, memberi kesan bahwa Ibu tidak ingin kejadian masa kecilnya terulang pada anak-anaknya. Ibu ingin memberi bekal pendidikan pada anak-anaknya. jadi kami berempat di-ultimatum untuk kuliah di universitas negeri di Jogja.

Keinginan Ibu terwujud walau Ibu tidak akan pernah melihat kami memakai toga wisuda karena Ibu meninggal tahun 2000 kala saya masih semester 4 di universitas.

Sekarang, saya mengambil banyak pelajaran dari Ibu seorang perempuan Jawa yang mulai berpikiran modern. Ilmu tentang mengatur rumah tangga banyak saya ambil dari Ibu seperti mengutamakan pendidikan dan ilmu bagi anak-anak juga tentang mengelola keuangan keluarga. Istilahnya ilmu jadi manajer rumah tangga.

Satu hal yang sangat saya ingat adalah permintaannya kepada anak-anak perempuannya untuk bekerja supaya mandiri secara finansial supaya kami tetap mempunyai uang untuk kebutuhan kami pribadi sebagai perempuan tanpa mengganggu suami. Dan keinginannya terwujud saya dan kedua kakak perempuan saya semua bekerja. Saya sekarang juga "mengerti" maksud Ibu dengan mandiri secara fiansial, sekarang saya jadi bisa mempunyai otoritas terhadap penghasilan saya untuk keperluan saya dan keluarga.

Baca : Menjadi Manajer Rumah Tangga

Kegigihan seorang perempuan untuk bisa menyelesaikan semua urusan domestik tanpa keluhan ditunjukkan oleh Ibu.
Ibu tetap menjalani aktivitas sebagai seorang Ibu tanpa mengeluh rasa sakit atas penyakit yang di deritanya. Ibu memang mempunyai masalah di ususnya. Beberapa kali mengalami pendarahan, tapi Ibu dan bapak tidak pernah memberi tahu kami apa penyakitnya. Mereka mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja,dan Ibu tetap menjalani perannya seperti biasa, tetap memasak, bersih-bersih rumah, senam, pengajian, arisan dan lain-lain.

Karena penyakitnya, Ibu mengambil pensiun lebih cepat alasannya supaya bisa mengurus anak-anak dan rumah. Ya, sejak itu Ibu melakukan semua pekerjaan di rumah dan memasak sendiri. Ibu mengajarkan pada kami untuk tidak memasukkan MSG pada masakan, karena menurut Ibu itu tidak menyehatkan tubuh. Nah sampai sekarang saya juga meniru Ibu dalam hal itu. Rasanya tidak tega saja kalau masukin MSG ke masakan di rumah.

Walau sekarang saya sudah tidak bisa lagi bertemu Ibu, tapi kenangan akan Ibu tentang ilmu tentang kehidupan akan selalu terbingkai manis di hati saya. Tanpa Ibu, saya tidak akan menjadi seperti ini. Rasanya saya belum sempat membalas kebaikan Ibu, tapi saya yakin Ibu tulus melakukan pengabdian untuk keluarga.

Selamat hari Ibu...
Terimakasih Ibu...
Al Fatihah untukmu Ibu....


3 komentar:

fitri anita mengatakan...

ibunya visioner ya jeng

entik mengatakan...

@mba fitri: iya, Ibu memang berpikiran visioner

DIJA mengatakan...

ibunya mama entik cantiik sekali