Langsung ke konten utama

Ibu Rumah Tangga yang nyambi jadi Mahasiswa

 “Ibu, mbok Ibu ga usah kerja aja. Jadi Ibu di rumah kayak ibunya Yahya. Jadi aku bisa dibikinin penganan macem-macem di rumah,” pinta kakak Ikhsan yang polos kepada saya karena membandingkan kondisi Ibunya dan Ibu tetangga yang anaknya sebaya kakak Ikhsan.

Huhu... memang jadi dilema bagi sebagian perempuan bekerja seperti saya. Seperti berada di persimpangan antara kantor dan rumah. Saya pernah berpikir untuk resign trus jadi stay at home mom, tapi pikiran itu langsung ditolak oleh mas suami. Selain karena saya adalah seorang ASN (aparatur sipil negara, yang tidak mudah mengajukan pensiun dini), menurut perkiraan mas suami saya bakalan mencapai titik jenuh dan merasakan kebosanan kalau jadi stay at home mom, apalagi kalau besok anak-anak semakin besar dan saya tidak punya kesibukan yang berarti. Mas suami juga ingin saya mempunyai aktivitas bekerja untuk mendukung eksistensi saya sebagai perempuan.

 “Kesibukan di kantor dan waktu masih bisa disiati untuk ngurus rumah. Dan rumah tetap jadi prioritas utama,” begitu kata mas suami. Saya manggut-mangut diberi wejangan kayak gitu. Sebagai istri saya nurut sama mas suami ;)


Di awal tahun 2016, load pekerjaan saya di kantor mulai menggunung. Tawaran tugas keluar kota sangat susah ditolak dan kadang bersamaan dengan jadwal tugas mas suami keluar kota juga. Biasanya saya dan mas suami mengatur jadwal supaya tidak secara bersamaan pergi tugas keluar kota. Nah, karena di tahun 2016 saya mutasi ke bagian lain yang load pekerjaannya banyak alhasil saya tidak bisa lagi mengatur jadwal supaya klop dengan jadwal keluar kota mas suami.

Huhu..., kadang saya tugas keluar kota bersamaan dengan mas suami yang juga keluar kota yang berbeda. Anak-anak terpaksa ditinggal di rumah sama asisten. Untungnya ada eyang yang bersedia ikut njagain. Kadang yang bikin sedih, pas kakak Ikhsan sedang ujian semesteran, saya dan mas suami lagi di luar kota yang berbeda sehingga tidak ada yang nemenin dia belajar.
Sebenarnya keadaan yang seperti itu, tidak saya inginkan. Prioritas saya adalah rumah. Rasanya pengen banget jadi Ibu rumah tangga saja dan tidak bekerja, tapi saya tidak mungkin resign karena beberapa hal. Akhirnya sampai pada suatu waktu, mas suami meminta saya untuk kuliah lagi dengan mencari beasiswa. Lha kok malah disuruh kuliah lagi??? Ternyata alasan mas suami adalah supaya saya lebih sering di rumah dan tidak berbarengan keluar kota dengan dia. Kalau saya tugas belajar dan mendapat beasiswa, itu artinya saya off dari kantor selama masa kuliah (4 semester = 2 tahun). Full jadi mahasiswa dan ibu di rumah.

Mas suami juga selalu kepikiran dan hatinya tidak tenang kalau dia sedang di luar kota dan di rumah anak-anak hanya dengan asisten. Mas suami juga tahu kalau saya seneng baca, nulis dan menambah wawasan. Nah, dengan kuliah otomatis saya bisa mempunyai banyak waktu untuk mengembangkan diri. Kuliah juga merupakan me time bagi saya.

Setelah niatan mencari beasiswa maju mundur, akhirnya saya mantap juga. Saya mengawali dengan ikutan les bahasa inggris untuk menggenjot nilai TOEFL di angka min 500 sebagai syarat memperoleh beasiswa dan hunting beasiswa.

Alkhamdulillah, proses hunting beasiswa dan universitas diberi kemudahan oleh Allah. Saya lolos selesi Beasiswa Unggulan dari Kemdikbud dan diterima di Magister Hukum UGM.  Bulan September 2016 saya resmi jadi mahasiswa dan full time mom.


Rasanya bahagia...aa banget bisa kuliah lagi dan lebih banyak waktu untuk ngurusi anak-anak. Saya juga jadi punya waktu untuk menemani Eyang ngobrol dan membuatkan makanan kesukaan Eyang. Saya yakin, ini adalah jalan terbaik yang diberikan Allah kepada saya.

“Aku seneng Ibu kuliah lagi. Kalau aku pulang sekolah, Ibu udah ada di rumah. Kayak Ibunya Yahya,” komentar kakak Ikhsan karena keinginannya terwujud. Itu kalau pas Ibu ga ada kuliah sore kak, batin saya sambil tersenyum.

Ternyata kuliah bagi seorang perempuan yang sudah berkeluarga dan punya anak sangat berbeda dengan yang masih single. Teman-teman kuliah banyak yang masih fresh graduate dan muda-muda. Semangat dan jiwa mudanya masih menyala-nyala. Saya yang sudah masuk usia cantik 30++ jadi ketularan semangat muda, bedanya waktu mereka masih fleksibel sementara saya harus pandai-pandai mengatur waktu antara rumah dan kampus.




Pengalaman urusan mengerjakan paper atau belajar di rumah selalu saja direcoki adik Ikhfan jadi saya terpaksa kudu nyuri waktu mengerjakan papaer saat anak-anak sekolah. Saat anak-anak pulang sekolah di sore hari, kalau saya tidak ada jadwal kuliah, pasti saya ada di rumah dan siap menyambut mereka pulang. Pun begitu saat mas suami pulang kantor, saya juga sudah pasang tampang manis membukakan pintu.

Ah, ya... sekarang sampai 2 tahun ke depan saya akan menikmati menjadi ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa. Alkhamdulillah dapat kesempatan menambah ilmu dan mempunyai lebih banyak waktu mengurus keluarga yang kemaren saat saya masih ngantor agak terlantar lantaran sering saya tinggal keluar kota.


Waktu tidak akan terulang, dan saya ingin melewati waktu selama 2 tahun ke depan dengan bahagia sebagai full time mom. Bukankah jika seorang Ibu bahagia makan dia akan menularkan rasa bahagianya di rumah kepada anak-anak dan suaminya?

Jadi teman, mari berbahagia....

Komentar

DIJA mengatakan…
waah kereen!!!
mama entik jadi anak kuliahan
suatu saat, Dija nanti gak mau kalah sama mama entik
sudah punya anak, tetep belajar terus

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…