Langsung ke konten utama

saya dan sahabat

Saya baru merasakan bahwa setelah menjadi istri dan Ibu, urusan perempuan menjadi segambreng banyaknya. Rutinitas mengurus rumah dan anak-anak terkadang menyeret kita ke pusaran waktu yang tidak mengenal dunia lain selain rumah dan anak-anak. Ketika harus beraktivitas keluar rumah entah ke kantor atau urusan lain, yang kepikir juga rumah. Kepikir apakah anak-anak baik-baik saja dengan si mbak asisten? Nanti sebelum pulang mau mampir belanja sayuran apa, nanti malam menu makannya apa, eh tiba-tiba keingat kalau ternyata sorenya ada arisan kompleks. Padahal badan lagi berasa ga enak dan rasanya sampai rumah pengen tidur. Hadew riwueh dewh. Pernah ga ngalamin seperti itu?


Alhasil banyak juga para perempuan termasuk saya yang terjebak dalam rutinitas rumah-kantor saja. Rutinitas yang kadangkala membosankan itu terkadang membuat mood kita jadi jelek. Ketika mood lagi jelek, efek yang terjadi adalah efek karambol. Di rumah jadi gampang uring-uringan dan marah. Bisa ditebak kalau lagi uring-uringan di rumah yang bakal kena sasaran adalah suami dan anak-anak. Sedangkan kalau pas di kantor mood lagi jelek, yang jadi sasaran adalah pekerjaan jadi berantakan dan  muka jadi jutek di hadapan teman kantor.

Huhu...ga enak banget dampak mood jelek. Saya sendiri sekarang berusaha menjaga mood hati saya selalu pada kondisi bagus ketika berada di rumah supaya bisa menghadirkan senyum manis di wajah untuk mas suami dan anak-anak.

Percaya atau tidak, seorang Ibu adalah pencipta mood (suasana) di keluarga. Kalau Ibu ceria pasti seluruh anggota rumah bakal ketularan ceria. tapi sebaliknya, jika Ibu jutek dan uring-uriangan bisa dipastikan suasana rumah bakal ga nyaman dan anak-anak jadi susah diatur.

Nah, kalau saya merasa rutinitas mulai melahirkan kebosanan, saya segera meluangkan waktu untuk melakukan me time. Tujuan saya sih sederhana saja yaitu me-refresh pikiran dan mood hati supaya bisa fresh dalam melakukan aktivitas rutin di rumah dan kantor.

Baca :Perempuan dan Me Time

Salah satu aktivitas me time yang saya saya sukai adalah silaturahmi atau ketemuan dengan teman entah itu teman semasa sekolah/kuliah, teman kantor maupun teman sesama wali murid sekolah. Saya pernah cerita kalau saya selalu mempunyai teman dekat/sahabat di setiap komunitas yang saya ikuti.

Nah, sekarang saya punya sahabat baru di komunitas wali murid TKIT tempat Ikhfan sekolah. Usia kami tidak terpaut jauh jadi dapat dikatakan kami sebaya jadi ngomong apa saja rasanya nyambung. Acara ngumpul dan ngobrol-ngobrol dengan mereka adalah me time yang sangat menyenangkan bagi saya. Walau tidak mudah mendapatkan waktu yang pas bagi kami semua.

Beberapa hari yang lalu, kami [saya, Endah, Akke, Hikmah dan Ratna] menyempatkan sarapan bareng di warung Kopi klotok yang berlokasi di Pakem, Sleman. Suasana warung di pinggir sawah bener-bener menyejukkan hati dan badan. Ditemani teh tubruk yang nasgitel dan pisang goreng hangat, obrolan ringan pun mengalir di antara kami dan sebisa mungkin mengerem mulut untuk tidak ghibah. Gelak tawa pun keluar seolah kami adalah remaja belia yang sedang bercengkrama. Dan rasanya tidak afdhol kalau kami tidak mengeluarkan tongsis dan berfoto bersama.
Endah-Entik-Ratna-Hikmah-Akke

berasa gadis-gadis 17 tahun

Akke yang sibuk menata makanan untuk kami





boleh juga dong berlagak maen film india [Endah-Entik]

Selepas pertemuan kami, hormon kebahagian masih terasa mengalir di tubuh dan rasanya fresh memulai segala aktivitas. So Ibu-ibu yang terjebak rutinitas, boleh lho meluangkan waktu sebentar untuk me time. ;)



Komentar

D I J A mengatakan…
wah wah.. kalo sudah ketemu teman lama
serasa lupa segalanya ya mama entik
isinya ketawa ketiwi

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…