Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Kelas Merajut Pemula di Gendhis Bags

Nama Gendhis Bags tidak asing bagi pecinta tas rajut. Siapa sih yang tidak tahu Gendhis? Outlet-nya bisa ditemui di jalan Ringroad Barat Yogyakarta. Ketika saya berkesempatan menginjakkan kaki memasuki Gendhis bersama teman-teman KEB di acara Arisan Ilmu tanggal 17 Agustus 2017 kemarin, mata saya bener-bener dimanjakan oleh aneka tas rajut yang cantik-cantik. Penataan tas di showroom Gendhis sangat artistik dan terkesan eksklusif. Model tas rajutnya pun kekinian dan bikin mata ngiler ajah.
Showroom Gendhis di jalan Ring road Barat ini terdiri atas 2 lantai. Di lantai satu kita bisa temui aneka tas yang di display nan apik dengan suasana lampu yang redup menyejukkan. Naik ke lantai 2, selain tas kita bisa temui aneka pouch batik, asesoris dan juga baju-baju batik. Tinggal pilih aja, mana yang mantap di hati hehe..

Mengelola Penghasilan dengan Pola 50-30-20

Ketika sayamasih kuliah dan belum mempunyai penghasilan sendiri, sama sekali tidak berpikir untuk saving atau investasi. Uang bulanan dari orang tua ludes sebelum akhir bulan bahkan uang beasiswa juga rasanya mengalir tidak bersisa di rekening tabungan. Masa muda yang terpikir adalah have fun saja dengan uang. Apalagi masih ada orang tua yang selalu bersedia menjadi tempat untuk meminta uang. Urusan saving uang dan investasi berlaku bagi orang yang mempunyai penghasilan lebih. Lha kalau mahasiswa kan ga punya penghasilan lebih toh?
Setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, ternyata kesadaran untuk saving dan investasi belum tumbuh juga. Menabung saya lakukan jika ada sisa uang bulanan. Alhasil saldo di rekening ga nambah-nambah malah terkadang berkurang. Maklumlah waktu itu bagi saya, seorang single tidak perlu pengelolaan keuangan yang rigid karena beban tanggungjawab saya hanya diri sendiri. Asal semua kebutuhan prbadi tercukupi, sudah cukup.
Nah, saat menikah semuanya menjadi…

Istri Pinter Memasak, Penting Ga Sih?

Saya pernah menulis di postingan kalau saya itu tidak pinter memasak. Hasrat untuk memasak untuk suami dan anak-anak sebenarnya ada di dalam lubuk sanubari tapi untuk merealisasikannya banyak tantangannya. Mulai dari males, ga tahu bumbunya, ga tahu cara masaknya dan kalau dipaksa masak, rasanya amburadul ga karuan. Kebayang muka yang makan kayak apa kalau makan masakan yang rasanya amburadul itu.

Di sisi lain sebenarnya memasak sendiri itu biaya-nya lebih murah dibandingkan kalau kita makan di luar. Ditambah sekarang lagi trend  gaya hidup sehat dengan membawa bekal makanan dari rumah. Itu berarti makan masakan dari rumah dan jelas harus ada orang yang bersedia memasak masakan itu di rumah.

Baca:  Mengelola Uang Belanja Biar Ga Tekor
Terus terang saja, sejak menikah saya “memaksa” diri saya sendiri untuk belajar memasak. Sejak kecil saya jarang banget bantu Ibu memasak di dapur. Saya tahunya makanan sudah terhidang di meja dan saya tinggal makan saja. Ga pernah terbersit dalam …