Kamis, 03 Agustus 2017

Istri Pinter Memasak, Penting Ga Sih?


Saya pernah menulis di postingan kalau saya itu tidak pinter memasak. Hasrat untuk memasak untuk suami dan anak-anak sebenarnya ada di dalam lubuk sanubari tapi untuk merealisasikannya banyak tantangannya. Mulai dari males, ga tahu bumbunya, ga tahu cara masaknya dan kalau dipaksa masak, rasanya amburadul ga karuan. Kebayang muka yang makan kayak apa kalau makan masakan yang rasanya amburadul itu.

Di sisi lain sebenarnya memasak sendiri itu biaya-nya lebih murah dibandingkan kalau kita makan di luar. Ditambah sekarang lagi trend  gaya hidup sehat dengan membawa bekal makanan dari rumah. Itu berarti makan masakan dari rumah dan jelas harus ada orang yang bersedia memasak masakan itu di rumah.


Terus terang saja, sejak menikah saya “memaksa” diri saya sendiri untuk belajar memasak. Sejak kecil saya jarang banget bantu Ibu memasak di dapur. Saya tahunya makanan sudah terhidang di meja dan saya tinggal makan saja. Ga pernah terbersit dalam pikiran saya untuk belajar masak. Sampai pada saat Ibu meninggal dunia, peran memasak di keluarga saya berpindah ke tangan kakak saya yang pertama. Saya tetep ga punya niat belajar memasak. Alasannya klise. Males.


Di awal tahun pernikahan, saya selalu beli sayur/lauk matang di warung untuk makan sehari-hari. Kata “males” masih saja jadi alasan ampuh. Pokoknya saya jadi punya banyak referensi warung makan hehe... Mas suami dengan ikhlas ngikut saja dengan gaya makan saya yang selalu saja beli masakan matang. Dia menerima saya apa adanya yang males masak. Huhu... hugs my hubby.

Sampai saya punya anak, saya beruntung punya ART yang pinter masak. Sayangnya ni ART hanya bertahan sebulan jadi setelah dia ga ada, saya kembali beralih dengan kebiasaan beli masakan matang. Ketika Ikhsan mulai berusia 6 bulan dan harus makan MPASI, saya terbawa arus MPASI home made. Jadi saya mulai sering masuk dapur untuk memasak MPASI Ikhsan. Kalau masak MPASI kan ga musti berasa enak. Hanya mix aneka sayur dan buah tanpa tambahan bumbu. So lebih mudah bagi saya yang ga ngerti sama sekali tentang bumbu-bumbu dapur untuk memasak MPASI.

So far, sebagai isteri menurut saya ga begitu penting bisa masak atau tidak, yang penting kebutuhan makan keluarga terpenuhi. Sampai suatu masa, saya mulai dekat dekat teman kantor yang punya hobi memasak. Namanya Lisa. Doh, temen saya yang satu ini rela ga tidur semalem karena mengerjakan pesanan roti pisang coklat trus paginya ngantor sampai sore seperti biasa. Awalnya saya hanya nimbrung saja ketika dia browsing resep-resep. Ternyata asyik juga baca-baca resep dan liat foto hasil masakannya. Ketika dia nawarin untuk “backing class” di rumahnya langsung saya iya-kan. Kesempatan belajar memasak yang mungkin ga datang dua kali, batin hati saya.

Mbak Lisa menawarkan membuat cookies karena pembuatannya simpel. Saya nurut saja. Saya diajari menimbang bahan, membuat adonan dan memanggangnya sampai jadi cookies siap makan. Ternyata simpel. Setelah selesai backing class, mbak Lisa memberi tantangan kepada saya untuk membuat cookies yang sama itu, sendiri dan hasilnya ditunjukkan ke dia untuk dinilai sudah cocok di lidah atau belum.

Baiklah saya terima tantangannya dan sejak saat itu saya resmi belajar memasak di dapur rumah saya. Berkali-kali mencoba aneka resep cookies, dengan hasil yang kadang bantat atau gosong, sekarang saya sudah dikatakan “bisa” membuat aneka cookies. Ikhsan-Ikhfan sekarang paling suka diajak bikin cookies bareng karena saya memperbolehkan mereka bereksperimen dengan adonan dan membentuknya sesuai dengan selera mereka.

ini nastar keju buatan saya

Setelah cookies, saya mencoba resep sayur dan lauk. Awalnya saya akui, rasa masakan saya masih di bawah rata-rata. Saya sebenarnya malu tapi mas suami tetep makan masakan saya dan memuji,” rasanya lumayan enak kok..”

Ga tau ya, kalau dipuji suami sendiri kok rasanya hati bertambah pede aja untuk masak lagi. Apalagi kalau lihat mas suami makannya habis bahkan nambah. Duh rasanya seneng banget. Kekuatan cinta kali ya?

Tahap selanjutnya adalah belajar masak sayur kesukaan suami. Nah kalau ini saya kudu ngintip cara pembuatannya di rumah mertua karena sayur tumis oyong kesukaan suami adalah yang dibikin ibu mertua. Saya berhasil melihat proses pembuatan sayur tumis oyong di rumah Ibu mertua sebelum beliau meninggal.

Saya mencoba memasaknya dengan variasi sendiri yaitu tanpa cabe karena perut mas suami ga kuat dengan citarasa pedas. Eh, ternyata mas suami doyan juga. Sekarang tumis oyong jadi salah satu sayur favorit mas suami di rumah. Kalau pulang dari luar kota yang dikangenin adalah tumis oyong buatan saya.

Katanya, “di hotel ga ada tumis oyong. Aku bosen sama masakan hotel, pengen makan masakan rumah. Rasanya lebih enak.”

Siapa yang berbunga-bunga tuh kalau denger kalimat kayak gitu. Saya jadi percaya dengan kalimat yang pernah saya baca di salah satu tabloid bahwa “taklukkanlah suamimu dengan masakan.”
Ternyata bener juga ya, kalau lidah dan perut sudah ditaklukan, kaki pasti akan melangkah ke rumah untuk mencari masakan favorit. Bisa ditebak, yang masak bakalan dapat reward “macem-macem” dari mas suami.

Selanjutnya saya belajar masak masakan yang disukai ikhsan-ikhfan. Cari resep kemudian trial and error. Hasilnya kadang enak kadang enggak tapi saya tetep aja masak. Alhasil sekarang Kakak Ikhsan selalu merindukan sayur sop so-on dan sambel geprek buatan saya. Sedangkan adik Ikhsan selalu lahap makan sayur lodeh bayam dan sop sayuran masakan saya.

Alkhamdulillah berhasil juga membuat masakan favorit mas suami dan anak-anak. Selain masakan itu, saya belum mahir. Jadi jangan suruh saya masak aneka ikan/daging dan sayur yang susah proses pembuatannya. Dijamin ga enak hehe...  

Saya musti banyak belajar praktek resep-resep masakan lain. Mumpung semangat belajar memasak masih membara. Nah, siapa yang mau ngajakin saya backing class, silahkan colek-colek saya ya..

Tujuan saya belajar memasak paling tidak sudah tercapai yaitu berhasil memikat hati anggota keluarga dengan beberapa masakan saya [maksudnya masakan tertentu yang jelas cocok di lidah mereka saja lho, bukan lidah orang lain. Tetep belum pede dengan masakan sendiri].  Ceritanya pengen membuat sejarah di rumah dengan masakan. Biar kalau mereka jauh dari rumah, cepet pulang ke rumah karena kangen pengen makan masakan saya hehe...

 Bagaimana dengan teman-teman?? share dong



7 komentar:

fitri anita mengatakan...

Mba pulper dirumah masakan sundanya enak bingits

terus ada Mama juga yang sesekali masih masak kalau ada spesial request misalnya dendeng balado, masakan padang gitu deh.

Biasanya baking aja sesekali cooking tapi berhubung weekend banyak acara kadinyas ering makan diluar sementara weekday udah tepar he he he

entik mengatakan...

pengen juga kayak mba fitri, punya asisten yang bisa masak hehe...[ini alesanku males masak keluar lagi]

aku kalau weeken seringnya juga makan di luar. Kasian juga orang rumah terkontaminasi terus sama masakanku hehe...

Nur Rochma mengatakan...

Saya termasuk nggak pinter masak. Baru belajar memasak ketika menikah dan punya anak. Sempat ikut kursus dan demo-demo memasak gitu. Tujuan saya sederhana, ingin menyediakan menu sehat untuk keluarga. Lama-lama senang juga memasak.

dudukpalingdepan mengatakan...

saya dulu awal nikah nggak bisa masak mba, tapi demi suami kudu belajar walau rasanya kacau hihi. salam kenal mba, cookiesnya kelihatan nyummy ^^

vina mengatakan...

kata embah dulu "jika engkau pengen mencuri hati pria, maka tusuklah perutnya". mungkin maksudnya kita kudu pinter masak gitu ya...

Lusi mengatakan...

Nggak harus pinter masak sih, minimal bisa, untuk ngirit. Kalau beli diluar terus atau catering juga lama2 pada bosen. Kadang keluarga pengin juga masakan rumah yg simple. Aku santai aja sih, kalau ada waktu ya masak, kalau enggak ya beli. Kebanyakan beli utk makan siang & snack krn sering nggak sempat & harus makan besar. Kalau pagi & malam biasanya masak sendiri yg ringan2 saja krn perut gak boleh dihajar makanan berat terus.

D I J A mengatakan...

gak bisa masak
tapi bisa bikin nastar keju??
wow wow

itu hebat banget mama entik