Langsung ke konten utama

Mengelola Penghasilan dengan Pola 50-30-20



Ketika saya  masih kuliah dan belum mempunyai penghasilan sendiri, sama sekali tidak berpikir untuk saving atau investasi. Uang bulanan dari orang tua ludes sebelum akhir bulan bahkan uang beasiswa juga rasanya mengalir tidak bersisa di rekening tabungan. Masa muda yang terpikir adalah have fun saja dengan uang. Apalagi masih ada orang tua yang selalu bersedia menjadi tempat untuk meminta uang. Urusan saving uang dan investasi berlaku bagi orang yang mempunyai penghasilan lebih. Lha kalau mahasiswa kan ga punya penghasilan lebih toh?

Setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, ternyata kesadaran untuk saving dan investasi belum tumbuh juga. Menabung saya lakukan jika ada sisa uang bulanan. Alhasil saldo di rekening ga nambah-nambah malah terkadang berkurang. Maklumlah waktu itu bagi saya, seorang single tidak perlu pengelolaan keuangan yang rigid karena beban tanggungjawab saya hanya diri sendiri. Asal semua kebutuhan prbadi tercukupi, sudah cukup.

Nah, saat menikah semuanya menjadi berubah drastis. Saya menerima nafkah dari suami dan mempunyai penghasilan sendiri tapi kebutuhan kami menjadi bertambah. Kami butuh mempunyai rumah sendiri. Mempunyai rumah berarti harus menyiapkan dana yang tidak kecil untuk membelinya. Jalan keluarnya adalah dengan menabung sebisanya untuk membayar DP dan selebihnya kredit.


Sudah kebayang pengeluaran kami yang semakin bermacam-macam dan besar padahal penghasilan kami sudah digabung. Ternyata hal seperti itu dapat dikatakan wajar karena semakin besar penghasilan maka akan semakin besar juga pengeluaran. Namun banyak orang yang tidak menyadarinya. Misalnya saja ketika penghasilan ketika awal bekerja adalah 1 juta per bulan, maka orang akan memilih menggunakan angkutan umum untuk pergi berangkat ke kantor dengan biaya 300 ribu per bulan. Tapi setelah gaji meningkat maka ada keinginan untuk membeli motor dan selanjutnya mobil sehingga biaya transportasi “meningkat” seriring dengan penggunaan moda.

Itu baru pos transportasi. Pos gaya hidup yang lain seperti kebiasan membeli baju brand, makan di resto mewah dan juga liburan akan ikut meningkat seiring dengan meningkatnya penghasilan tiap bulannya.
Jadi menurut saya, uang harus benar-benar dikelola dengan baik supaya tidak “lewat” begitu saja tanpa bersisa setiap bulannya.

Kemudian saya mulai mencari beberapa bacaan tentang pengelolaan keuangan keluarga. Beberapa tips keuangan sudah saya coba dan saat ini saya merasa cocok dengan pengelolaan pola 50-30-20.


Apa itu pola 50-30-20?

Pola ini adalah pola pengaturan keuangan dengan pembagian pengeluaran dari keseluruhan pendapatan selama sebulan dengan pembagian 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk kebutuhan sekunder dan 20% untuk saving dan investasi.

Kebutuhan pokok mendapat porsi 50% dari penghasilan karena pos ini adalah pos terbesar dalam hidup seperti makan, membayar sewa rumah atau cicilan rumah, kebutuhan sekolah anak-anak, listrik, air dan asuransi kesehatan. Seorang Ibu memegang peranan yang penting untuk mengelola pos kebutuhan pokok ini. Saya sendiri merasakan susahnya karena terkadang hasrat untuk membeli barang yang bukan merupakan kebutuhan sangatlah tinggi apalagi kalau melihat iming-iming diskon, wah kudu kuat hati dan menutup mata supaya tidak tergoda.

Sedangkan 30% dari penghasilan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sekunder seperti liburan keluarga, makan di resto, arisan  dan sebagainya. Kebutuhan sekunder ini masih bisa ditawar dalam artian apabila tidak dipenuhi, maka tidak akan ada akibat yang merugikan bagi kita. Jika bisa ditekan, maka kita bisa memperoleh saving uang dari pos ini yang bisa dialokasikan untuk kebutuhan darurat keluarga.

Porsi 20% penghasilan adalah alokasi untuk tabungan dan investasi. Tidak banyak orang berpikir untuk menabung/investasi di awal bulan ketika mendapat penghasilan. Kebanyakan menabung setelah ada sisa uang di akhir bulan. Saya juga sempat mengalami masa-masa itu jadi saldo tabungan sangat lambat bergerak naik karena jumlah uang yang ditabung tidak sama setiap bulan dan cenderung menurun jumlahnya.

belajar merencanakan dan mencatat keuangan keluarga
Nah, kalau memakai metode ini sebaiknya di awal bulan kita sudah mengambil 20% dari penghasilan untuk ditabung/investasi. Kita harus berpikir jangka panjang bahwa di masa yang akan datang kita mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang besar. Jika kita menyiapkan sedini mungkin, prediksinya di masa depan kita tidak akan mengalami kerepotan urusan finansial. Seperti misalnya persiapan dana pensiun. 

Dulu saya tidak kepikir untuk menyiapkan dana pensiun karena saya sudah mendapat jaminan dana pensiun dari kantor tapi setelah baca-baca literatur, ternyata menyiapkan dana pensiun 30 tahun sebelum masa pensiun itu tiba penting juga supaya keadaan financial kita bisa tetap sama seperti saat kita masih bekerja. Kebayang kan nikmatnya ketika pensiun tinggal menikmati hidup dan tidak pusing dengan urusan financial. Indahnya dunia ;)

Nah tidak ada salahnya mencoba menggunakan pola 50-30-20 untuk mengelola pendapatan kita supaya keuangan keluarga kita ama. Kalau keuangan keluarga aman efeknya seluruh anggota keluarga akan nyaman plus hepi karena kebutuhannya terpenuhi dan pastinya manajer keuangannya ga pusing dan jauh dari kata tekor. 

yeaaay kami berempat bisa sumringah bareng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…