Minggu, 24 September 2017

Mengenal Hyperemesis Gravidarum

Ketika mendapati test pack ada garis merahnya dua, pastinya ibu-ibu yang menanti kehamilan akan seneng campur deg-degan. Biasanya saat ketahuan telat datang bulan, usia kehamilan sudah memasuki minggu keenam atau ketujuh. Selanjutnya yang kemudian datang adalah morning sickness. Kalau orang Jawa bilangnya sih, ngidam. Pokoknya si ibu hamil akan mual-mual bahkan terkadang diikuti dengan muntah. Penyebabnya macam-macam, pada tiap ibu hamil akan berbeda pencetus mual dan muntahnya.

Morning sickness biasanya datang di trimester pertama kehamilan. Pada umumnya ibu hamil ketika mengalami morning sickness akan mual dan muntah 1-2 kali sehari. Jika ibu hamil mengalami mual dan muntah lebih dari 10 kali dalam sehari patut diwaspadai dia mengalami hyperemesis gravidarum

Apa itu hyperemesis gravidarum?

Saya mengenal istilah hyperemesis gravidarum ketika hamil pertama kali di tahun 2006.  Hyperemesis gravidarum merupakan sindrom morning sickness yang hebat. Ini terjadi karena faktor hormonal kehamilan. Jadi perempuan yang mengalaminya akan muntah-muntah hebat setidaknya 10 kali dalam sehari. Hal ini beresiko dehidrasi pada ibu hamil dan kurangnya asupan gizi bagi janin yang bisa beresiko mengganggu pertumbuhan janin. Jadi ibu hamil  yang mual dan muntah hebat di trimester pertama harus aware adanya kemungkinan terserang sindrom ini. Jangan anggap remeh karena bisa fatal akibatnya.

Saya mengalami hyperemesis gravidarum di dua kehamilan (tahun 2006 dan 2011). Dokter kandungan  tidak memberi tahu tentang kemungkinan saya terserang hyperemesis gravidarum. Mual dan muntah yang menyerang dianggap wajar terjadi pada ibu hamil di trimester pertama, tapi kondisi saya sebenarnya termasuk kategori tidak wajar karena muntah terjadi lebih dari 10 kali dalam sehari. Dokter hanya memberi saya obat anti mual dan menyarankan untuk tetap makan. Dikarenakan pengetahuan tentang hyperemesis gravidarum pada waktu itu kurang, sehingga saya sempat bedrest dua kali di setiap kehamilan karena dampak dari hyperemesis gravidarum.

Dalam sehari saya bisa muntah sampai 10 kali. Pencetus muntah sebenarnya hal yang sepele seperti  mencium bau masakan yang sedang dimasak di dapur atau ketika tercium keringat suami. Tanpa hitungan detik, saya pasti langsung muntah-muntah. Hadew...
Urusan mual dan muntah ini, bagi saya adalah masa yang berat. Karena pencetus mual dan muntah saya adalah sesuatu yang susah dihindari.

Mual dan muntah hebat yang saya alami ini berlangsung selama trimester pertama. Alhasil saya mengalami dehidrasi karena tidak ada asupan makanan yang masuk. Setiap kali saya minum atau makan selang 5-10 menit kemudian saya akan muntah sampai perut terasa kosong. Dan setelah muntah, badan saya rasanya lemas dan saya hanya mampu berbaring di kasur seperti orang sakit.

Melihat kondisi saya yang mengkhawatirkan, mas suami membawa saya ke klinik dekat rumah. Sampai di sana saya disarankan untuk opname dan diinfus karena terindikasi kurang cairan. Saya diinfus dan diberi obat anti mual lewat infus. Keluarga besar saya tentu saja heran dengan kondisi saya, wong ngidam saja kok sampai opname karena dehidrasi. Bagi orang-orang, kalau ada perempuan hamil kemudian mual dan muntah itu biasa. Setiap perempuan hamil juga mengalaminya. Kesannya saya itu manja karena tidak mau makan/minum karena mual dan muntah.

Dokter sampai tiga kali mengganti jenis obat anti mual untuk saya, tapi semuanya tidak efektif meredakan mual dan muntah saya. Saya tetap saja mual dan muntah parah di trimester pertama kehamilan. Saya masih mengalami mual dan muntah pada trimester ketiga saat perut sudah membuncit. Doohh..rasanya ga enak banget harus muntah dengan kondisi perut besar.

Saat hamil ikhsan (2006) di trimester ketiga saya juga harus bedrest di rumah sakit karena ada gerakan janin yang begitu hebat sehingga saya kesakitan padahal tidak terjadi kontraksi. Setelah ditelusur ternyata saya kekurangan asupan gula untuk janin. Maklum saja, saya mengurangi porsi makan nasi karena membuat saya mual dan muntah. Ternyata janin di perut “protes”.

bedrest kala ikhfan  ada di usia kehamilan 8 bulan (th.2011)
Ketika hamil ikhfan (2011) di trimester ketiga saya juga harus bedrest di RS karena detak jantung janin tidak beraturan. Kadang hilang selama 5 detik kemudia berdetak lagi. Setelah diobservasi ternyata janin kekurangan oksigen akibat saya kurang minum air putih. Saya menghindari minum air putih karena akan memicu mual dan muntah, tapi ternyata berakibat buruk bagi janin.

Apa yang harus dilakukan ketika terserang hyperemesis gravidarum?

Saat dinyatakan positif hamil, jumlah serangan mual dan muntah dalam sehari harus diobservasi. Kalau hanya terjadi 2-3 kali muntah dalam sehari, itu masih dalam kategori wajar karena makanan yang keluar bersama muntah tidak banyak.

Yang perlu diwaspadai adlah ketika muntah terjadi lebih dari 10 kali dalam sehari, kemungkinan ibu hamil terserang hyperemesis gravidarum. Ketika serangan ini datang, dapat dipastikan ibu hamil tidak berselera untuk makan dan minum. Biasanya jika dipaksa makan/minum, dalam hitungan menit akan muntah.

Nah, ini ada beberapa tips dari saya jika terserang hyperemesis gravidarum:
1.     Minta dukungan suami dan keluarga
Dukungan suami dan keluarga sangat dibutuhkan saat melewati masa-masa berat di trimester pertama. Ketika muntah dan ada suami di samping kita, hati rasanya lebih tenang. Pun adanya pengertian dari suami/keluarga ketika kita terpaksa harus berbaring di kasur dan tidak bisa melakukan aktivitas untuk keluarga seperti menyiapkan makanan, beberes rumah dan sebagainya mereka bersedia menggantikan tugas kita.
Tidak dicap manja atau lebay saat mual dan muntah itu sesuatu banget lho. Karena mau tidak mau masa mual dan muntah ini harus dilewati sendiri, bahkan obat anti mual pun tidak efektif bekerja. Supaya masa itu tidak terlalu berat untuk dilewati, dukungan suami dan keluarga sangat diperlukan.

2.     Makan/minum yang diinginkan
Biasanya saat mual menyerang, di pikiran ibu hamil tiba-tiba terbersit keinginan untuk makan sesuatu. Terkadang makanan itu susah diperoleh dan hanya mau kalau yang mencarikan adalah suami. Orang Jawa bilang itu “ngidam”. Ketika makanan yang diinginkan dimakan biasanya rasa mual akan berkurang dan bisa bertahan agak lama di perut sampai rasa mual berikutnya datang dan berakhir dengan muntah. Tapi setidaknya ada jeda waktu untuk tidak muntah sehingga tubuh sempat menyerap makanan yang masuk itu.

Saya sempat ingin makan rambutan ketika tidak musimnya. Hua..mas suami sampai pontang-panting nyari rambutan buat saya. Kalau makan rambutan jeda waktu saya untuk tidak muntah bisa sampai 1 jam. Lumayan lama juga, jadi mas suami berusaha banget untuk mendapatkan buah rambutan demi melihat saya tidak muntah.

3.     Perbanyak minum madu/sari kurma
Karena saat serangan mual dan muntah datang, susah sekali memasukkan makanan ke dalam mulut, saya menyarankan minum madu atau sari kurma. Madu atau sari kurma terbukti efektif buat saya. Di trimester pertama walau saya jarang sekali makan nasi dan hanya minum sari kurma, perkembangan berat janin selalu normal.

4.     Makan biskuit/es krim
Makan biskuit dan es krim lumayan mengurangi frekuensi mual dan muntah saya. Ya, lumayan biskuit dan es krim bisa bertahan 1-2 jam di perut sebelum akhirnya muntah.

Nah, bagi temen-temen yang mungkin mengalami hyperemesis gravidarum bisa mencoba tips dari saya. Satu yang harus diingat bahwa kekuataan untuk melewatinya adalah niat dan semangat yang kuat serta pikiran positif. Harus kuat melawan rasa mual dengan terus mencoba untuk minum/makan walau akhirnya muntah lagi.

Karena tidak semua ibu hamil mengalaminya, mungkin hanya sekitar 2% dari seribu ibu hamil yang mengalaminya, maka perjuangan ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum membutuhkan banyak dukungan dari suami dan keluarga supaya masa kehamilan dapat berjalan dengan lancar dan janin berkembang secara normal.

jadi pak suami, dukunglah istrinya yang sedang hamil supaya bisa happy menjalani kehamilan. 

ikhfan 6 bulan (2012)

sharing ttg pengalaman Hyperemesis Gravidarum di lensa indonesia siang RTV 18 Sept.2017


10 komentar:

Rach Alida Bahaweres mengatakan...

Sahabatku lagi hamil dan juga menglami mual-mual juga mba. Smoga ibu ibu hamil sehat sehat ya mba. Terima kasih sudah berbagi pengalaman

Putu Ayu Winayasari mengatakan...

pas hamil kedua, saya rajin muntah2, ngga kayak pas hamil pertama. tapi ngga sampe 10x sih, alhamdulillah. duh, semoga semua ibu hamil sehat lancar sampai persalinan!

Rahayu Asda Putri mengatakan...

waah, mbak segitu parahnya, hingga lebih dari sepuluh kali muntah dalam sehari
saat ini saya hamil anak ke empat,

di hamil anak pertama tahun 2007,saya mengalami mual dan muntah, namun tidak separah yang mbak ceritakan, namun saat usia kandungan 7 bulan sya dirawat karena kontraksi dini, alhamdulilah saat itu tidak ada pembukaan, jadi dokter memberikan obat anti kontraksi,
hamil ketiga, keempat hanya mual, dan hamil sekarang usia kandungan masih 12 minggu (trrmester 1) saya hanya mual, tapi belum ada muntah, dan tetap harus makan, karena saya ada maag, mual danpusing yangsaya rasakan saja sungguh menyiksa apalagi di barengi dengan muntah..
setiap orang beda beda pengalamannya

antung apriana mengatakan...

ada temanku yang begini, mbak. sampai usia kandungan 4 bulan nggak bisa makan trus opname. ternyata ada namanya ya gejalanya ini

entik mengatakan...

@alida:mual dan muntah memang normal dialami ibu hamil di trimester pertama karena itu hormonal. Yang perlu dilakukan adalah menjaga kondisi supaya tidak terjadi dehidrasi.

entik mengatakan...

@Putu Ayu; kayaknya hamil dengan sensasi mual muntah adalah pengalaman yang tidak bakal terlupakan ;)

entik mengatakan...

@Rahayu: semoga kehamilannya lancar dan sehat sampai persalinan ya..

entik mengatakan...

@antung: wa... bisa jadi temenmu itu kena sindrom hyperemesis gravidarum

fitri anita mengatakan...

samaan ma kate middleton ya..


duh kebayang rempongnya ya dua kehamilan begitu terus..

tapi ngangenin khan??? he he he

D I J A mengatakan...

waaah kereen, mama entik masuk Tivi !!!!