Minggu, 17 September 2017

Perempuan juga Butuh Bahagia


Sebagai perempuan dan Ibu, apa sih yang kita butuhkan untuk bahagia dan bisa menjalani semua tanggungjawab dengan ihklas dan ringan?

Kalau disodori pertanyaan seperti itu, setiap perempuan akan berbeda-beda jawabannya. Jawaban akan tergantung pada sudut pandang dan realitas lingkungan yang ada pada perempuan. Perempuan yang bekerja kantoran akan beda sudut pandangnya dengan perempuan yang tidak bekerja kantoran. Walaupun mereka sama-sama punya status sebagai istri dan Ibu.

Nah, kalau pertanyaan itu disodorin ke saya, jawabannya apa coba?

Saya adalah perempuan bekerja kantoran, ibu rumah tangga dan sekarang lagi dapat status baru lagi sebagai mahasiswa. Nah, secara umum perempuan yang sudah menikah dan mempunyai anak mempunyai ritme rutinitas yang padat dan rentan stress, entah aktivitasnya harus ke kantor atau full di rumah.

Sebagai pekerja kantoran, saya juga dituntut untuk disiplin urusan jam kerja. Kalau telat 1 menit saja, tunjangan saya bisa kena potong. Selain urusan disiplin jam kerja, tumpukan tugas di kantor juga menanti. Terkadang pekerjaan kantor tidak kenal pegawai laki-laki atau perempuan, yang penting target pekerjaan tercapai. Nah, harus pinter mengelola waktu dan disiplin supaya urusan kantor beres dan urusan rumah tidak keteteran.

Kalau pekerjaan kantor sih, begitu target tercapai ya selesai tapi kalau pekerjaan di rumah rasanya tidak ada kata selesainya. Pekerjaan basic di rumah yang harus dilakukan perempuan adalah menyiapkan makan untuk semua anggota keluarga. Kalau tidak memasak sendiri, at least perempuan memastikan ada makanan yang bisa dimakan oleh suami dan anak-anak. Sepertinya simpel, tapi menyiapkan makanan sehari 3 kali setiap hari itu tidak simpel lho.. Buktinya setiap saya belanja sayur ke tukang sayur dan bertemu dengan ibu-ibu yang akan belanja, mereka selalu kebingungan hari ini mau masak apa?
“masak apa ya? Duh bingung..” komentar mereka sambil melihat-lihat sayuran.

Terkadang mereka saling tanya dan akhirnya mencontek ide menu masakan ibu yang lain. Hayo, siapa yang juga ngalami kebingungan itu setiap hari? Toss sama saya..

Saya yakin, kejenuhan menjalani rutinitas tidak hanya dialami oleh perempuan. Tapi dampak dari perempuan yang jenuh dengan rutinitas adalah perubahan mood/suasana hati. Mood berubah menjadi mood yang jelek. Suasana hati yang jelek ini dapat dipastikan akan mempengaruhi suasana di rumah. Kalau ibunya uring-uringan ya pastinya suasana rumah bakalan “panas”. Muka jutek, uring-uringan ga jelas dan pasti sasarannya kalau ga anak-anak ya suami.

Eaa...ga enak banget dewh pokoknya. Jadi sebagai perempuan kita musti pinter-pinter menjaga suasana hati kita pada posisi “bahagia”. Trus bagaimana caranya? Ini beberapa hal yang bisa dlakukan untuk bisa menjaga kita tetap bahagia:

1.     Bersyukur
Rasa bersyukur harus terus ditanamkan dalam pikiran. Tidak mudah karena terkadang tanpa sadar kita membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Rasanya rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Dengan bersyukur kita akan lebih ringan menjalani kehidupan kita. Perlu banyak latihan karena secara teori mudah diucapkan tetapi tidak mudah untuk dilakukan

Langkah mudah yang bisa dilakukan adalah mengucap syukur ketika melihat anak-anak bermain dan berlari-larian dengan gembira. Abaikan rumah yang kayak kapal pecah karena mereka menyebar mainan di seantero rumah. Itu tandanya mereka sehat dan meramaikan rumah kita. Syukurilah nikmat kesehatan yang diberikan Allah kepada mereka.


2.     Berpikir positif
Nah, belajar untuk berpikir positif atas semua kejadian yang menimpa kita sangatlah susyah. Apalagi kalau peristiwanya adalah peristwa yang tidak enak. Kebanyakan perempuan berpikir terlalu jauh dan membayang kejadian yang sebenarnya belum tentu terjadi dalam kehidupannya.
Ketika cobaan kehidupan datang, yang datang menyerang bukan pikiran positif tetapi mengeluhkan, “mengapa kejadian ini menimpa saya?”,  “kayaknya saya ga sanggup dewh” atau “aku harus gimana?”

Saya akui, saya juga pernah mengalami masa-masa sulit membedakan antara mengeluh dan ingin sharing bercerita beban. Kayaknya beda tipis banget. Niatnya cerita tapi ternyata isinya mengeluh. Huhu... susyah.

Kalau mendapat tempat curhat yang tepat, saya bisa dapat booster pikiran positif untuk menghadapinya. Setelah dapat booster kita sendiri yang harus mengelola pikiran positif itu untuk tetap hidup dalam diri kita. Menyuntikkan pikiran positif ke dalam hati harus dilakukan setiap hari misalnya berpikir, hari ini saya harus bahagia, saya harus tersenyum setiap hari, saya ga boleh marah-marah kalau anak-anak menyebar mainan di seantero rumah karena itu tanda bahwa rumah dihiasi keceriaan anak-anak, atau urusan hari ini pasti akan bisa saya lakukan dengan lancar dan sebagainya.


3.     Melakukan “me time”
Untuk balancing, saya menyarankan perempuan untuk melakukan “me time”. Melakukan hal-hal yang disenangi untuk menghilangkan kebosanan rutinitas dan bosster supaya suasana hati bahagia.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk me time. Tidak harus hang out keluar rumah bareng teman-teman. Melakukan hal-hal kecil yang menyenangkan hati, bagi saya sudah me time. Seperti bisa mojok di kamar tanpa gangguan anak-anak dan baca tabloid wanita favorit saya itu adalah me time.
Kalau yang suka tanaman, punya waktu yang cukup untuk mengurus anggrek-anggrek yang ditanam juga merupakan me time. Atau sesekali mencuri waktu untuk ketemuan dengan teman lama dan bisa tertawa lepas.
ketemu teman semasa SMA- berasa abege lagi

temen ngumpul & sharing ilmu

Nah, silahkan saja pilih me time mana yang cocok .


4.     Membangun komunikasi yang baik dengan suami
Komunikasi yang lancar dengan suami juga hal yang penting untuk dilakukan. Yah, minimal mengurangi uring-uringan dan kasih muka jutek ketika suami di rumah.

Pokoknya frekuensi suami-istri harus sama. Suami istri itu butuh we time untuk ngobrol berdua menyamakan persepsi tentang keluarga. Beda pendapat itu pasti, tapi kalau sudah ada kesadaran bahwa suami-istri harus bekerja sama untuk membangun pondasi keluarga, maka beda pendapat itu bakal jadi bumbu yang sedap untuk keharmonisan keluarga.

Kalau bisa jadikan suami sebagai tempat curhat yang utama, memposisikan suami sebagai tempat bersandar bisa mengurangi beban kita sebagai perempuan. Apalagi kalau suami bisa bantu dan kasih solusi, wuih rasanya hepi banget. ditambah kalau suami sesekali tergerak hati untuk kasih surprise kecil yang bikin hepi istrinya.

Saya sih biasa mancing suami dengan kasih surprise kayak kasih kado dan nyiapin kue tart saat dia ulang tahun. Wah, ternyata mas suami kepancing juga. Dia kasih surprise kado pas anniversary kami dan ulang tahun saya. Saya diberi bungkusan koran yang diklaim sebagai kado ulang tahun untuk saya. Saya tertawa geli menerima kadonya. Rasanya ga romantis banget karena dibungkus koran.  Setelah saya buka, jadi terharu biru dewh liat isinya...

dapet surprise sebuah jam tangan dan cincin emas cantik
Dan yang pasti saya langsung berasa bahagia sekali... Tahu aja kalau istrinya suka pake cincin dan jam baru hehe...

So, jadi menjadi perempuan itu harus bahagia ya... karena banyak orang yang akan merasakan dampak rasa bahagia kita.  Hayuk sharing tips bahagia ala teman-teman bagaimana?



9 komentar:

Bunda Erysha mengatakan...

Nah iya, Bun tetapi terkadang buat emak2 yang masih punya batita. Me timenya harus curi2 waktu hihihi. KLo ga smakin rentan stres kita

prana ningrum mengatakan...

hebat banget ya mbak dirimu...rangkap jabatan mulai dari pekerja kantoran, ibu rumah tangga dan kuliah pasti sangat menyita waktu ya...iya aku juga kadang2 me time ma teman

entik mengatakan...

@bunda erysha: betul, kalau masih punya batita curi2 me time-nya susyah banget. Bisa tidur nyenyak itu saja anugerah banget..

entik mengatakan...

@prana ningrum: eaa...punya status pekerja kantoran dan mahasiswa plus sekarang aku ga punya ART rasanya padet banget rutinitasku. Jadi tetap aja berasa rentan stres hehe...

fitri anita mengatakan...

alhamdulillah anak ngertiin kalau kadang kadang Ibunya mau nyalon bentaran he he he

Lusi mengatakan...

Waaah tips bahagia ala saya gimana ya? Asal semua anggota keluarga sudah ngumpul, gegoleran depat tv sambil pesan2 go food aja udah bahagia luar biasa. Hehehee

entik mengatakan...

@mba fitri: asek..asek bisa curi waktu untuk nyalon

entik mengatakan...

@mak lusi:kumpul2 sama keluarga pastinya langsung jadi booster untuk bahagia

D I J A mengatakan...

setujuuu setujuuuu
kalo kita bahagia,
pasti sekitarnya juga ikut bahagia kan