Langsung ke konten utama

Pejuang ASI eksklusif untuk irham

Akhir bulan November 2018 ini, Irham genap berusia 6 bulan. Iyes.. akhirnya si anak bayi ini lulus ASI eksklusif. Lega dan puas rasanya bisa memberikan hak bagi Irham untuk mendapatkan ASI. Saya sendiri sebagai ibu juga "bangga" berhasil melewati perjuangan lelahnya menyusui dan memerah ASI. Bukan karena urusan memberikan ASI eksklusif sekarang lagi "trend" dan ramai di media sosal, tapi rasa bahagia dan puas sebagai ibu tidak bias dilukiskan dengan kata-kata.

Saya juga tidak memungkiri bahwa media sosial menjadi salah satu booster untuk bisa memberikan ASI eksklusif. Melihat foto botol-botol ASIP di freezer dan foto wajah bayi yang pipinya menggembul yang wira-wiri di lini masa sekarang jadi sesuatu yang menggelitik hati untuk juga bisa punya stok ASIP yang banyak. Apa saya juga ikutan share foto botol-botol ASIP di medsos? ah, sesekali saya juga share dengan niatan bisa jadi booster ibu-ibu yang menyusui untuk ikut berjuang memberikan ASI bagi bayinya. 

Kali ini adalah masa saya jadi pejuang ASI untuk yang ketiga kalinya. Walau sudah punya pengalaman, tetapi booster tetap dibutuhkan untuk mengalahkan rasa malas dan lelah. Masa post partum adalah masa-masa yang berat karena tubuh harus beradaptasi dengan bayi baru. rasa lelah dan sakit setelah melahirkan berpadu dengan sibuknya mengurus bayi dan kekuatan hati untuk menyetok ASIP.

Support dari suami adalah booster paling kuat bagi saya. Di awal saya pulang dari rumah sakit dan ASI mulai berlimpah, mas suami adalah orang yang bertugas menyeteril botol kaca dan pompa ASI selanjutnya memberi label tanggal saya memerah ASI dan menyimpannya di freezer. Kalau tidak dibantu, rasanya saya memilih untuk tidak memerah ASI dan tidur bareng irham.

ini hasil sekali perah di kantor jam 11 siang

Sebelm melahirkan, saya sudah prepare alat-alat yang diperlukan untuk untuk urusan memerah ASI. Ini alat yang minimum harus ada:
  1. botol kaca 100 ml
  2. ice gel
  3. pompa ASI manual
  4. cooler bag, untuk menyimpan/membawa ASIP.
  5. cover menyusui
Saya menyiapkan sekitar 30 botol kaca dan 2-3 ice gel. Pompa ASI saya memilih yang manual. Ada banyak merek pompa ASI, bisa dipilih sesuai kenyamanan dan dompet hehe...
Begitu juga dengan cooler bag. Banyak banget jenisnya di OS. Sumpah, bikin ngiler kalau ga ngekep dompet bisa kalap belanjanya. Saya memilih membeli cooler bag yang kecil saja dengan pertimbangan saya hanya akan menyimpan 2-3 botol ASIP dari kantor karena jam istirahat siang saya pulang ke rumah. Jadi realistis saja ga usah beli yang mihil-mihil.

Niatan mau memberi cover menyusui tertunda-tunda terus, eh ternyata ada hikmahnya karena saya dapat bingkisan cover menyusui dari RS. Ini cover berguna banget saat harus memerah ASI di tempat yang tidak ada ruang laktasinya. Saya pernah memerah ASI di pojokan masjid sambal menunggu Ikhfan keluar dari sekolah. Aman dan tidak ada yang kepo saya duduk di pojokan hehe...

Beberapa tips yang saya lakukan supaya produksi ASI tetap adalah:
  1. memerah ASI pada jam yang sama setiap harinya. Ketika di kantor, saya memerah setiap jam 11 siang dan 4 sore. Di rumah saya memerah jam 4 atau 5 pagi.
  2. mengkonsumsi sayuran hijau dan susu (kalau doyan,), juga minum jamu uyub-uyub untuk ibu menyusui yang dijual penjual jamu keliling (ini juga kalau doyan).
  3. cukup istirahat
  4. rileks dan tidak stress 
  5. tidak berekspektasi terlalu tinggi dan tidak terlalu terpengaruh dengan lini masa media social tentang ASIP. Terkadang tanpa sengaja membanding-bandingkan produksi ASI sendiri dengan orang lain yang mempostingkan botol ASIP yang buanyak di freezer. Terkadang itu bikin down. Jadi diusahakan tidak terlalu terpengaruh.
  6. terakhir nikmati masa-masa memnyusui dan memerah ASIP yang hanya 6 bulan dilanjut sampai 2 tahun karena masa itu tidak akan berulang. Percayalah masa menyusui akan cepat sekali berlalu.
sebagian stok ASIP 
Bagi erempuan bekerja seperti saya, urusan memerah ASI di kantor jadi cerita tersendiri. Tidak adanya ruang laktasi,ledekan dari beberapa teman laki-laki dan beberapa tawaran tugas keluar kota menjadi tantangan tersendiri. Saya harus pintar menyiasati, seperti menunjukkan rasa percaya diri bahwa memerah ASI adalah sesuatu yang penting dilakukan untuk generasi penerus kita. Saya juga menolak tugas keluar kota sampai saya menyapih irham. Sikap saya semoga bisa menjadi pembelajaran bahwa pilihan seorang ibu untuk memberikan ASI bagi bayinya patut dihargai. Setiap ibu mempunyai "gaya dan cara" tersendiri  dalam memberikan ASI bagi bayinya.

Nah, sekarang saya sudah melewati masa 6 bulan ASI eksklusif dan perjuangan saya akan terus berlanjut sampai Irham berusia 2 tahun. 

ini dia, si bayi ASI

Teman-teman yang akan dan sedang menyusui yuk bergandengan tangan menggalang motivasi untuk terus menjadi pejuang ASI bagi bayi kita karena bayi kita berhak mendapatkan ASI sampai 2 tahun untuk mendukung tumbuh kembangnya menjadi generasi yang kuat dan cerdas.


Komentar

Keke Naima mengatakan…
Nah, memang seharusnya seperti ini. Saling mensupport dan mengajak supaya yang sednag berjuang juga terus semangat :)
Fitri3boys mengatakan…
Semoga semangat terus sampai 2 tahun ya Perah Asinya...selamat juga udah sukses 6 bulannya
isma mengatakan…
aku sampai sekarang masih breastfeeding jeng hehe, memang butuh perjuangan apalagi emak-emak yang lagi sekolah atau bekerja seperti jeng entik. tapi, kepuasannya memang tidak terkatakan. salut!
Vera mengatakan…
Hebaaaat entik......tetep semangat kasi asi ya
entik mengatakan…
@mba chi: iya ni, aku lagi cari teman sesama pejuang asi :)

@mba fitri: makasih

@jeng isma: ara belum disapih? toss pejuang ASI

@Vera: makasih Vera cantik..

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…