Jumat, 26 April 2019

perencanaan keuangan keluarga (part 1)


Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.

Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak banyak saldo di tabungan saya hihi... siapa yang pernah ngalami masa-masa seperti saya dulu? Toss ah..


Nah, setelah baca-baca ternyata setiap orang dan keluarga perlu membuat perencanaan keuangan. Analoginya seperti saat kita ingin membuat telur dadar, maka kita membutuhkan bahan-bahan seperti telur, garam,daun bawang, dan minyak goreng. Tanpa perencanaan, bisa saja kita lupa membeli telur dan tujuan kita untuk membuat telur dadar tidak akan tercapai.

Seperti analogi telur dadar tersebut maka kita perlu merencanakan keuangan agar dapat memenuhi keinginan utama dalam kehidupan kita. Setiap orang pasti mempunyai keinginan atau kebutuhan yang ingin dipenuhi. Secara umum, keinginan orang dalam kehidupan adalah:

1.   Menyiapkan dana untuk menikah;
2.   Menyiapkan dana untuk membeli rumah;
3.   Menyiapkan dana untuk membeli mobil;
4.   Menyiapkan dana kelahiran anak;
5.   Menyiapkan dana pendidikan anak;
6.   Menyiapkan dana kesehatan keluarga;
7.   Menyiapkan dana ibadah haji;
8.   Menyiapakan dana rekreasi/hiburan;
9.   Menyiapkan dana pensiun. 

rekreasi jadi kebutuhan yang "kudu" dipenuhi
Bagi seorang lajang maka prioritas keinginan akan lebih sedikit dibandingkan keluarga karena belum ada pos biaya anak dan segala hal yang berkaitan dengan anak. Di era milenial ini pos dana rekreasi atau hiburan menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi. Jadi tidak ada salahnya belajar melakukan perencanaan keuangan sejak dini agar kebutuhan dan keinginan kita dapat terwujud.

Apa itu perencanaan keuangan?

Menurut buku Perencanaan Keuangan terbitan OJK, perencanaan keuangan merupakan seni pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh seseorang atau keluarga untuk mencapai tujuan yang efektif, efisien, dan bermanfaat, sehingga keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera. Secara umum, aktivitas yang dilakukan adalah proses pengelolaan penghasilan untuk mencapai tujuan finansial seperti keinginan memiliki dana pernikahan, dana kelahiran anak dan lain- lain.

Sebagai emak-emak, kita perlu mengelola penghasilan keluarga agar dapat memenuhi kebutuhan saat ini dan juga kebutuhan di masa depan. Secara umum, kebutuhan saat ini adalah kebutuhan yang jatuh tempo dalam 12 bulan seperti biaya pengeluaran rumah tangga rutin, biaya cicilan motor, biaya pulsa, uang sekolah bulanan anak dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan di masa depan terdiri atas pengeluaran- pengeluaran dikeluarkan di masa mendatang (jatuh tempo diatas 12 bulan) seperti biaya pendidikan anak hingga tamat sekolah, biaya naik haji, biaya pernikahan anak dan lain-lain.

Kebutuhan di masa depan hampir bisa dipastikan akan terjadi namun penghasilan di masa depan tidak dapat dipastikan. Setiap manusia memiliki risiko tertimpa musibah seperti kecelakaan, kehilangan pekerjaan, kebangkrutan dan kematian. Secara teori, risiko tersebut dapat mengganggu perolehan penghasilan di masa depan. Namun saya sendiri yakin bahwa Allah  SWT akan menjamin rejeki kita dan keluarga di masa kini dan masa depan, tapi tidak ada salahnya sebagai ikhtiarnya kita melakukan perencanaan keuangan sehingga hidup kita dapat sejahtera.


Dengan perencanaan keuangan, sebenarnya kita mencoba untuk hidup sederhana sesuai dengan penghasilan kita. Pos konsumsi diatur tidak boleh lebih 50% dari penghasilan kita supaya kebutuhan lain bisa tercukupi tanpa harus membuka hutang. Dengan perencanaan yang tepat, kita bisa memiliki alokasi dana untuk menabung/investasi, kebutuhan masa depan dan dana darurat jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Lumayan mengurangi keruwetan pikiran karena bisa mencegah terjadinya “besar pasak daripada tiang.”

Bukankah hidup sederhana dan tidak bermewah-mewah itu adalah anjuran agama? Jadi kenapa tidak kita coba…

next post: cara merencanakan keuangan keluarga

Tidak ada komentar: