Langsung ke konten utama

Cara Merencanakan Keuangan (part 2)

Melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang pentingnya perencanaan keuangan keluarga, sekarang saya mau nulis tentang cara merencanakan keuangan keluarga.

Baca : Perencanaan Keuangan (part 1)

Setelah kita mempunyai daftar tujuan (kebutuhan) keuangan, langkah selanjutnya adalah membuat tahapan supaya tujuan tersebut bisa tercapai. Setiap orang akan mempunyai daftar tujuan keuangan yang berbeda-beda tapi secara umum tujuannya adalah terpenuhinya kebutuhan saat ini dan kebutuhan di masa datang.
Contoh kebutuhan saat ini adalah pengeluaran rutin rumah tangga dan uang sekolah bulanan anak sedangkan kebutuhan yang akan datang seperti kebutuhan dana pendidikan anak, naik haji dan dana pensiun.

Untuk membuat perencanaan keuangan langkah apa saja yang harus kita lakukan terlebih dahulu? 
Ada beberapa langkah yang diperlukan untuk melakukan perencanaan keuangan yaitu:

pertama : menetapkan tujuan keuangan keluarga

Urusan menetapkan tujuan keuangan ternyata tidak segampang yang dibayangkan. Saya sendiri sejak single tidak pernah terpikir untuk menetapkan tujuan keuangan. Dalam pikiran saya yang penting ada uang yang disisihkan untuk ditabung tapi saya tidak berpikir uang yang saya tabung akan saya gunakan untuk apa saja? Kalau ditanya nabung buat apa? jawaban standar saya adalah," untuk jaga-jaga aja kalau tiba-tiba ada kebutuhan yang mendesak ."
Pokoknya kalau sudah punya uang di tabungan, bikin hati adem hehe...
Adakah yang pernah mengalami masa-masa seperti saya dulu?

Ternyata seseorang atau keluarga sebaiknya mempunyai tujuan keuangan. Fungsinya supaya semua tujuan keuangan yang ditetapkan dapat terpenuhi. Tidak dipungkiri bahwa setiap orang mempunyai keinginan yang banyak bahkan kadang tak terbatas. Selalu saja ada keinginan hidup yang tiba-tiba muncul tapi pada kenyataannya tidak semua keinginan itu tidak dapat kita penuhi karena keterbatasan keuangan yang kita miliki.

Kalau ditanya, keinginan saya juga banyak, seperti dana pendidikan anak, dana pensiun,  punya mobil bagus, renov dapur, liburan, beli baju dan printilannya, punya hape yang terbaru, punya printilan kebutuhan anak-anak dan lain-lain. Wuih pokoknya kalau ditulis bisa panjang dan kadang ga masuk akal hehe...

Nah, supaya lebih rasional mari kita tulis daftar keinginan kita. Ini saya buat contoh daftar kebutuhan secara umum.


KEBUTUHAN
URUTAN KEBUTUHAN
I
Kebutuhan keluarga inti
·   Kebutuhan rutin rumah tangga
·   Kebutuhan rumah tinggal
·   Dana kelahiran anak
·   Dana pendidikan anak
·   Dana kendaraan
·   Kebutuhan darurat
·   Dana pensiun

II
Kewajiban Agama
·  Zakat
·  Sedekah
·  Sosial  

III
Kebutuhan Keluarga Kandung/ipar
·  Uang untuk orang tua
·  Uang untuk saudara

IV
Kebutuhan lain



Selanjutnya kita buat urutan prioritas pemenuhannya. Kewajiban agama dan kebutuhan keluarga inti sebaiknya menjadi prioritas selanjutnya jika masih ada sisa dana bisa untuk kebutuhan lain. Urutan kebutuhan dapat ditulis di kolom yang kosong. 

Menentukan prioritas kebutuhan ini memerlukan diskusi dengan pasangan. Kebutuhan rutin rumah tangga bisa ditulis secara rinci kemudian didiskusikan mana kebutuhaan riil yang harus dipenuhi dan mana kebutuhan yang hanya berupa "keinginan". Kebutuhan yang berupa "keinginan" semata dapat kita skip dari daftar.

Kesepakatan dengan pasangan sangat penting supaya kebutuhan itu dapat dipenuhi. Misalnya saja kita bersepakat untuk membeli mobil baru.  Tahun keluaran mobil, jenis, warna dan harga musti disepakati dulu. Selanjutnya kita tentukan kapan waktu mobil itu akan kita beli, misalnya 3 tahun lagi.

Kebutuhan lain juga perlu disepakati bersama. Selain kesepakatan, kita juga perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Contoh kecilnya adalah kebutuhan makan. Kita butuh makan sehari 3 kali dengan gizi yang seimbang sedangkan keinginan kita adalah sering makan di resto dengan menu daging dan sebangsanya. Makan di resto yang isntagramabel acapkali jadi destinasi kuliner padahal biaya untuk makan di resto tersebut lumayan mahal. Nah bagaimana solusinya?
Solusinya kita perlu mengatur menu belanja dan kalau memungkinkan memasak sendiri. Sedangkan keinginan makan di resto bisa kita batasi sebulan satu atau dua kali disesuaikan dengan anggaran keuangan keluarga.

Urusan pemenuhan kebutuhan bayi juga bisa rancu dengan keinginan. Kebutuhan dasar bayi adalah ASI dan popok. Karena berbagai faktor dan alasan kemudian muncul keinginan untuk memberikan susu formula dan popok sekali pakai karena dianggap lebih praktis. Dari segi keuangan, pembelian susu formula dan popok sekali pakai mengambil porsi keuangan yang cukup besar. Saya sudah mencoba menghitung-hitung, ternyata pos pengeluaran untuk susu dan pospak bisa diatas 1 juta per bulannya. Itu tergantung merek susu dan pospaknya ya.., kalua merek mahal ya bisa lebih banyak pengeluarannya.

Sebagai solusinya kita bisa memberikan ASI pada bayi karena dari segi kesehatan lebih sehat dan bermanfaat bagi bayi. Untuk ibu-ibu pekerja seperti saya, tetap bisa memberikan ASI dengan cara memerah ASI di kantor. Walau pake drama, tapi urusan memerah ASI di kantor bisa dilalui hehe..

Baca : Jadi pejuang ASI untuk Irham

Selanjutnya untuk penggunaan popok sekali pakai hanya saat malam hari atau keluar rumah. Untuk penggunaan sehari-hari, kita bisa menggunakan popok yang bisa di cuci (clodi) sehingga pengeluaran bisa lebih dihemat dan lebih ramah lingkungan.

keduamelakukan evaluasi kesehatan keuangan (periksa dompet) 

Seperti halnya tubuh, kesehatan keuangan pun perlu dicek. Apakah sehat atau berpotensi sakit? Sebelum membahas tentang kesehatan keuangan, pernahkah teman-teman mendengar keluhan seperti ini;
  1. Uang kok selalu saja tidak cukup? besar pasak daripada tiang?
  2. Uang selalu habis untuk membayar utang?
  3. Sudah kerja bertahun-tahun tapi ga punya tabungan?
  4. Berhutang untuk menutup hutang yang lama?
  5. Sering berhutang jika ada kebutuhan mendadak?


Saya pernah mendengar satu dua pertanyaan tersebut dari orang-orang di sekitar saya. Jika salah satu jawaban pertanyaan itu adalah "ya", kemungkinan kondisi keuangan orang tersebut dalam keadaan kurang sehat.

Dulu waktu saya mendengarnya, saya juga tidak bisa memikirkan solusinya. Yang terpikir bagi saya, ya cari tambahan penghasilan kalau sekiranya penghasilan yang ada tidak mencukupi. Apakah ada solusi lain? ternyata ada lho..

Sebelum mengatasi keadaan keuangan yang kurang sehat itu, memeriksa kesehatan keuangan sangat penting dilakukan . Hal ini digunakan untuk:
  1. menunjukkan apakah ada masalah keuangan yang dihadapi tanpa sadar.
  2. memastikan kondisi keuangan kita aman meskipun terjadi keadaan darurat.
  3. memastikan keuangan keluarga terlindungi
  4. memastikan keinginan-keinginan hidup yang membutuhkan uang dapat terwujud atau tidak.
Menurut buku Perencanaan Keuangan Keluarga terbitan OJK, ada beberapa indikator yang dapat memastikan keuangan keluarga kita sehat atau tidak.

indikator: Berapa banyak uang tunai yang kita miliki?
Indikator ini menunjukkan tersedianya dana cadangan atau darurat dalam bentuk tabungan atau uang tunai. Saldonya 4 kali pengeluaran rutin bulanan atau lebih (kondisi sehat). Angka uang tunai memberi gambaran kemampuan keluarga untuk membiayai pengeluaran rutin setiap bulannya. Angka 4 berarti keluarga tersebut memp[unyai persediaan uang tunai untuk membiayai pengeluaran rutin rumah tangga selama 4 bulan.
Kalau misalnya pengeluaran rutin bulanan kita kisaran 4an juta maka dana cadangan yang kita miliki sebaiknya kurang lebih sejumlah Rp. 16an juta.

indikator: Berapa banyak cicilan hutang setiap bulannya?
Keuangan keluarga dikategorikan sehat jika setiap bulan keluarga hanya berkomitmen membayar cicilan hutang sesuai kemampuan. Cicilan hutang ini mencakup semua hutang yang dimiliki keluarga termasuk cicilan rumah, kendaraan, pinjaman koperasi, hutang kartu kredit dan segala pinjaman lainnya.
Jumlah cicilan yang dibayarkan paling banyak sebesar 35% dari penghasilan keluarga. Jika jumlah cicilan lebih dari 35% dari penghasilan maka ini merupakan suatu tanda bahwa keadaan keuangan keluarga menunjukkan indikasi tidak sehat.

indikator: sudahkah menabung & berinvestasi?
Setiap keluarga yang sudah mampu menyisihkan uang untuk ditabung dan investasi paling tidak 10% dari penghasilan setiap bulannya dapat dikategorikan mempunyai keadaan keuangan yang sehat. Perlu diwaspadai jika keluarga tidak mempunyai "sisa dana" untuk ditabung atau diinvestasikan karena keadaan tersebut mengindikasikan keuangan keluarga yang tidak sehat.

Menabung dan menginvestasi mempunyai tujuan keuangan yang berbeda. Investasi merupakan salah satu tujuan keuangan jangka panjang seperti pembiayaan dana sekolah anak atau dana pensiun. Imbal balik investasi baru bisa dirasakan dalam jangka panjang sedangkan imbal balik menabung tidak untuk jangka pendek. Besarnya bunga tabungan terkadang lebih kecil dibandingkan dengan besar inflasi yang terjadi sedangkan investasi dalam jangka panjang hasilnya lebih besar dibandingkan dengan tabungan.

Setelah mengetahui indikator kesehatan keuangan, kita perlu mebuat catatan tentang:
  •  jumlah harta dan hutang 
  • jumlah penghasilan dan pengeluaran
  • jumlah uang yang ditabung 
Hasil catatan tadi kemudian dicocokkan dengan indikator yang saya tulis di atas. Uang cadangan tunai sebaiknya 4 kali pengeluaran rutin, cicilan hutang maksimal 35% dari penghasilan keluarga dan jumlah uang yang ditabung paling tidak 10% dari penghasilan.


Nah apabila hasil catatan yang kita buat angkanya di bawah angka indikator berarti kemungkinan kita mempunyai masalah keuangan keluarga. Seperti misalnya tidak punya cukup uang tunai dan susah menabung. Sumber Utama tidak dimilikinya uang tunai yang cukup adalah tidak terbiasanya menyisihkan sebagian penghasilan yang diterima. Amplop atau tabungan untuk dana cadangan diperlukan oleh setiap orang.
Solusi yang patut dicoba adalah membiasakan diri menyisihkan uang dari penghasilan untuk dana cadangan tunai. Saya sendiri mencoba menyimpan sisa uang belanja harian saya dalam dompet tersendiri. Kisaran yang saya simpan minimal 10 ribu setiap hari. Di akhir bulan, saya cek jumlahnya ternyata lumayan juga. Kalau tidak ada kebutuhan mendesak, maka uang dalam dompet cadangan tersebut saya masukan tabungan di bank. Lumayan untuk nambah saldo tabungan hehe...

Kalau urusan hutang ada beberapa tips yang perlu dipegang ketika merencanakan berhutang:
  1. hanya meminjam untuk kepentingan yang penting dan produktif seperti rumah atau modal usaha. Sebaiknya tidak meminjam untuk kepentingan konsumtif.
  2. berhutang pada lembaga pembiayaan yang kredibel seperti bank atau koperasi
  3. tidak perlu memiliki kartu kredit jika penghasilan di bawah Rp. 3 juta per bulan.
Selanjutnya bisa bikin coret-coret tentang tahap-tahap yang saya tulis. Sepertinya receh dan bikin males ya.., tapi bisa iseng-iseng dicoba lho. Awalnya dulu saya iseng-iseng bikin catatannya dan akhirnya bikin saya penasaran untuk tahu lebih banyak tentang pengelolaan keuangan keluarga. Saya masih terus belajar.

Kalau emaknya tidak galau dengan urusan "keuangan keluarga" ending-nya kan bikin keluarga happy... iya kan? :)




next post: membuat anggaran rumah tangga.




Komentar

Keke Naima mengatakan…
Saya termasuk yang suka galau urusan keuangan hahaha. Berasa ribet aja gitu, Mbak. Untungnya suami mau ambil alih. Sekarang yang mengatur keuangan dia semua. Tetapi, saya lebih suka seperti itu :D

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…