Langsung ke konten utama

Cara Mengelola Emosi pada Ibu

“Kakak,..Ibu sudah bilang jangan rebut mainan adikmu. Tuh Adikmu nangis. Ayolah, jangan bikin Ibu marah. Ibu capek...”

Si kakak bukannya nurut, tapi malah semakin bikin ulah. Hadew... ini emosi Ibu jadi seperti roler coaster rasanya. Mencoba menahan untuk tidak marah, tapi rasanya beraa..aat sekali.

Pernah dengar kalimat seperti itu keluar dari mulut seorang Ibu? Atau mungkin teman-teman pernah mengalaminya sendiri?

Saya yakin kejadian semacam itu pernah dialami seorang Ibu, apalagi jika kondisi fisik Ibu dalam keadaan lelah. Saya sendiri juga tidak memungkiri pernah mengalaminya.

Merawat dan mendidik anak-anak bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Namun terkadang sebagian Ibu seringkali merasa marah terhadap suami dan anak-anak padahal mungkin mereka tidak punya kesalahan pada Ibu. Setelah marah pada anak, kemudian ada rasa penyesalan di hati. Duh, rasanya emosi seperti roller coaster saja.


Ketika status perempuan beralih menjadi Istri sekaligus Ibu maka akan terjadi perubahan tanggung jawab yang besar. Perubahan status tersebut membuat perempuan harus menjalani perannya dengan sederet tugas, baik dalam pengasuhan anak maupun pengelolaan rumah tangga. Secara otomatis juga tugas sebagai manajer rumah tangga jatuh di tangan Ibu. 


Pada kenyataannya seorang ibu berperan 2/3 lebih banyak menjalani tugas-tugas rumah tangga dan pengasuhan anak dibandingkan para ayah. Selain tugas- tugas tersebut, seorang ibu juga memiliki peran tambahan yang tak kalah pentingnya dalam keluarga yaitu sebagai pusat emosi keluarga. Namun kadang hal ini sering terabaikan dan dianggap tidak penting. Peran emosi Ibu sangat penting karena emosi seorang Ibu mempengaruhi emosi keluarga.

Disadari maupun tidak, seorang perempuan memegang peran pusat emosi dalam keluarga. Perempuan menentukan emosi anggota keluarga. Teman-teman pernah merasakan tidak? Kalau kita bad mood tanpa sadar anggota keluarga yang lain ikut ketularan bad mood terutama suami dan anak. Anak-anak agak rewel sedikit aja kita langsung kasih komentar negatif plus intonasi tinggi. Suami juga ikutan kena semprot. Eaaa...tanpa sadar suasana rumah jadi berasa “panas”.

Namun kebalikannya jika kita happy mood, maka si perasaan bahagia juga bakal nular ke anak dan suami. Senyum Ibu yang merekah bakalan nularin suami dan anak-anak untuk tersenyum. Nah kalau semua anggota keluarga happy maka suasana rumah akan terasa nyaman untuk semua.

Secara teori, mengelola emosi sepertinya mudah tapi pada kenyataannya mengelola emosi bagi seorang Ibu tidaklah mudah. Peran sebagai istri dan ibu membebankan tanggung jawab yang besar bagi perempuan. Banyak faktor yang bisa menjadi stresor emosi negatif seperti lelah secara fisik, tumpukan pekerjaan kantor dan rumah, finansial, lingkungan sosial, dan ketidakmampuan mengelola emosi dengan baik. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi emosi Ibu. Apabila kemampuan mengelola emosi tidak baik, maka emosi yang akan keluar adalah emosi negatif. Emosi negatif bernampak negatif bagi diri sendiri dan lingkungan keluarga. Pokoknya yang bakal kita rasakan adalah dampak negatif. Anak-anak jadi susah untuk diatur plus suami jadi ikutan jutek karena muka kita juga jutek. Ga enak banget kan?

Nah, untuk meminimalisir dampak dari emosi negatif sebaiknya kita perlu belajar untuk mengelola emosi kita.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan emosi? Ada banyak definisi emosi, saya ambil dari kamus besar bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan). Dari definisi itu bisa dilihat bahwa yang namanya emosi itu ada dua macam yaitu emosi positif (gembira, bahagia, kecintaan, semangat) dan emosi negatif (sedih, marah, takut).

Emosi positif berdampak positif bagi orang tersebut dan lingkungannya. Sebaliknya emosi negatif akan berdampak negatif juga bagi orang tersebut dan lingkungannya. Coba kita ingat-ingat kembali, jika kita merasa bahagia hati rasanya senang dan enak banget tapi kalau lagi bad mood rasanya pengen marah aja. Pelampiasan rasa marah bisa “tertumpah” pada anak atau suami.

Bagi seorang Ibu, emosi negatif perlu dikelola dengan baik karena dampaknya ga bagus bagi anggota keluarga yang lain. Pengelolaan emosi jelas membutuhkan effort yang besar dari Ibu karena Ibu adalah pusat emosi bagi keluarga. Ibu diharapkan bisa mendengarkan suami dan anak, memahami pikiran dan perasaan mereka juga memberikan dukungan serta apresiasi. Oleh karena itu Ibu kudu pintar mengelola emosi terutama emosi negatifnya.

Apabila Ibu merasa marah ketika menghadapi anak yang berulah dan ingin mengeluarkan rasa marahnya kepada anak, apa yang harus dilakukannya untuk mengontrol emosi negatif tersebut? Secara umum kita harus me-release emosi tersebut. Emosi harus dikeluarkan secara pelan-pelan.

Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan antara lain:
1. Menghitung 1 sampai 10 secara perlahan di dalam hati, menarik nafas panjang dan mulai membaca istighfar. Menurut dr. Aisah Dahlan, dengan membaca istighfar, paru-paru mengambil oksigen 5 liter dan oksigen akan membantu otak untuk  me-release emosi. Bisa dilakukan berulang-ulang sampai emosi membaik dan kita merasa lebih tenang.
2. Selanjutnya setelah tenang, coba munculkan empati pada anak. Pandangi matanya bayangkan kita ada di posisi anak. Terkadang pemicu masalah adalah
hal sepele. Misalnya kasus anak yang rewel coba kita cari tahu penyebabnya apakah ia lapar, mengantuk, lelah atau hanya ingin perhatian dari kita. Mari kita coba pahami perkembangan psikologis anak yang sedang dalam tahap aktif dan senang bereksplorasi. Kalau kita dalam keadaan seperti itu mungkin kita juga bad mood. Reaksi umum anak yang bad mood adalah rewel. 
3. Ibu bisa menegur tindakan anak yang dianggap tidak baik dilanjutkan dengan pujian terhadap perilaku anak. Dr Aisah Dahlan menyarankan untuk menegur anak selama ½ menit selanjutnya ½ menit berikutnya adalah memuji perilaku anak.

Contoh:
“Kalau kakak merebut mainan adik, dia juga bisa marah lho. Kakak bilang dulu sama adik.” ( teguran ½ menit, intonasi suara agak naik).

Ambil jeda, selanjutnya kita bisa istighfar dan ambil nafas panjang untuk mengubah emosi kita untuk memujinya.

“Kakak biasanya bisa main bareng dan akur sama adik. Kakak sayang kan sama adik..” (pujian ½ menit, intonasi suara lembut).

Langkah ini, jelas memerlukan latihan berkali-kali karena dituntut perpindahan emosi Ibu yang halus. Di awalnya saya masih sering gagal, durasi menegur bisa sampai 10 menit dan durasi memuji cuma ½ menit. Hasilnya si kakak terlanjur tersulut emosi marahnya dan malah jadi tantrum L

Huhu...jadi masih gagal. Beberapa kali mencoba, akhirnya saya mulai bisa menegur dengan durasi ½ menit dan dilanjutkan dengan memujinya. Saya juga belajar menjaga intonasi suara saya. Karena tidak jarang, kita memuji anak tetapi intonasi suara masih intonasi marah. Ini yang susyah sekali dilakukan.

Butuh niat yang bulat dan latihan berkali-kali untuk mendapat hasil yang maksimal. Saya baru mencoba cara ini selama lebih kurang 1 bulan dengan beberapa kali kegagalan dan sekarang saya lebih bisa mengontrol emosi negatif. Dampak lainnya anak-anak lebih mudah dikendalikan karena saya bisa mengontrol emosi. Hati saya cepet “plong” ketika emosi negatif terkontrol. Alhamdulillah, saya dan mas suami merasakan suasana rumah sekarang lebih damai karena anak-anak lebih mudah diarahkan.

Jadi benar, kalau Ibu dalah pusat emosi di keluarga. Ibu harus bisa mengontrol emosi sehingga anggota keluarga yang lain juga ikut belajar mengontrol emosi. Kesimpulannya kita boleh marah tapi ada ilmunya. Susah dilakukan tapi bisa kita pelajari. Jika berhasil, hati rasanya damai banget














Komentar

Fitri3boys mengatakan…
hi hi hi saamaan deh kayaknya kita
entik mengatakan…
@mba fitri: hehe.. toss ah

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

perencanaan keuangan keluarga (part 1)

Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.
Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak…