Langsung ke konten utama

Mengendalikan Emosi Negatif

Pernahkah teman-teman berada pada puncak emosi marah? Badan terasa bergetar, detak jantung meningkat, nafas tidak teratur tubuh terasa panas dan kepala terasa pusing. Bahkan terkadang ada keinginan untuk berteriak dan memukul untuk melampiaskannya. Saya pernah mengalaminya. Rasa marah terkadang tidak langsung hilang walau sudah dilampiaskan dengan marah-marah dengan intonasi tinggi. Orang yang menjadi pelampiasan amarah saya terkadang juga ikut tersulut marahnya. Amarah saya pun tidak langsung hilang. Ditambah permasalahan yang menyebabkan saya marah tidak terselesaikan. Hal ini membuat ketidaknyamanan bagi saya.

Nah, pada postingan kali ini saya ingin share tentang mengelola emosi negatif seperti marah tadi.

Dari buku yang saya baca, secara umum para ahli membedakan ada 2 jenis emosi yaitu emosi positif dan negatif. Emosi positif merupakan emosi yang memberikan dampak menyenangkan bagi kita seperti tenang, santai, relaks, gembira dan senang. Sebaliknya emosi negatif adalah emosi yang memberikan dampak yang tidak menyenangkan seperti sedih, amarah, rasa takut, kesedihan, jengkel dan malu.

Emosi positif dan negatif akan mewarnai pikiran dan perasaan kita yang kemudian akan termanifestasikan dalam tingkah laku dan perbuatan.

Emosi negatif tanpa kita sadari bisa membawa pengaruh negatif pada tubuh dan lingkungan di sekitar kita. Orang-orang di sekitar kita juga akan merasakan hawa “panas” dari emosi negatif kita karena mereka terkadang menjadi objek sasaran amarah kita. Misalnya saja emosi negatif yang berupa marah, ekspresi kemarahan kita yang berlebihan juga akan berdampak buruk. Kita akan selalu terlihat sebagai seorang pemarah karena ekspresi marah selalu terlihat berlebihan dalam tingkah laku kita.

Emosi negatif akan terpancar dari tubuh kita, mulai raut muka dan gerakan tubuh. Tanpa berkata pun sebenarnya orang lain akan tahu kalau kita marah dari raut muka dan gestur tubuh kita. Disadari atau tidak ternyata emosi negatif akan mempengaruhi perilaku kita.

Perilaku yang banyak dipengaruhi oleh emosi negatif membuat orang lain tidak nyaman karena emosi negatif yang disampaikan secara verbal biasanya menggunakan kata-kata yang agak “keras”.

Biasanya orang yang sering dilanda emosi negatif dan tidak mampu mengelolanya dengan baik maka dia akan mudah dilanda stres,mudah marah, tersinggung dan kehilangan semangat/motivasi.

Menurut saya, emosi negatif perlu dikelola dengan baik supaya dapat memberi dampak positif bagi kita. Rasa marah, takut dan sejenisnya tetap kita perlukan dalam kehidupan, apabila respon yang kita berikan terhadap emosi tersebut positif maka akan dapat membantu kita untuk meredakan konflik dan memecahkan masalah. Namun apabila kita beri respon negatif seperti membiarkan rasa marah itu tetap membara dan mengekspresikannya secara verbal menggunakan kata-kata yang kasar maka dapat dipastikan konflik tidak akan mereda dan kita tidak bisa berfikir jernih untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Apabila emosi negatif bisa dikelola menjadi emosi positif maka yang akan muncul adalah pikiran dan perasaan yang positif. Selanjut tindakan dan perilaku kita akan mengikuti pikiran positif tersebut. Perilaku akan membentuk kebiasaan sehingga terbentuk karakter seseorang selanjutnya akan menentukan nasibnya dalam kehidupan.


Kemampuan seseorang untuk mengelola emosi merupakan kemampuan untuk mengendalikan diri dan merubah tingkatan emosi negatif menjadi emosi positif. Ada banyak cara atau teknik untuk mengendalikan emosi negatif ketika datang “menyerang” kita. Cara yang biasa saya lakukan adalah:

1.  Perbanyak membaca istighfar sambil menarik nafas panjang.

Ketika sedang marah, melakukan ini akan membawa 5 liter oksigen ke otak yang akan membantu sel-sel otak lebih segar sehingga kita bisa berfikir secara rasional. Menarik nafas panjang dan menyadari nafas beberapa menit, akan menurunkan tingkat kemarahan kita. Apabila tingkat kemarahan kita turun maka respon tubuh untuk mengeluarkan marah juga akan turun.

Perlu latihan berkali-kali untuk sadari nafas dengan membaca istighfar.  Di awal saya mempraktekkan ini masih sering gagal. Saya masih mengeluarkan kata-kata dengan intonasi tinggi dan nafas saya belum teratur.

Dengan konsisten melatih diri akan membantu kita bisa mengendalikan emosi negatif (amarah, takut, sedih dsb). Memang tidak mudah. Karena dibutuhkan niat yang bulat dan tekat yang kuat untuk lawan rasa marah. Setelah berhasil, pasti hati akan terasa lebih damai karena “api” emosi negatif dapat kita padamkan dengan cepat.

2.  Mengatur kalimat-kalimat kita menjadi kalimat positif

Selanjutnya, mari berlatih membuat kalimat-kalimat positif kepada diri kita. Kalimat positif efektif untuk menumbuhkan motivasi dan mengendalikan emosi negatif. Jika sering kita ucapkan pada diri kita, nicaya perubahan akan terjadi.

 Misalnya, saat diminta presentasi suatu materi, kita merasa takut untuk melakukannya. Takut melakukan kesalahan dan takut presentasi kita gagal. Nah, sebelum melakukan presentasi, buatlah persiapan yang cukup dan ucapkan kalimat positif untuk kita seperti : “Aku pasti bisa melakukannya. Aku sudah melakukan persiapan dengan baik.. Aku pasti bisa.

Ucapkan kalimat itu berulang-ulang di dalam hati sampai kemudian muncul rasa percaya diri bahwa kita mampu melakukannya.

Kedua cara itu bisa kita lakukan di semua keadaan saat emosi negatif menghampiri. Entah saat kita di rumah, di kantor maupun di tempat lain.

Dengan mengendalikan emosi negatif, kita akan lebih bahagia menjalani hidup bersama pasangan, keluarga dan teman-teman. Ekspresi senyum akan lebih sering terlihat di wajah kita.

Nah silahkan dicoba teman-teman dan jangan lupa share pengalamannya di kolom komentar ya...

 

 

 

 



Komentar

Fitri3boys mengatakan…
xi xi saya senewen kl nemenin si bungsu belajar Daring nih,pikirannya main terussssss......harus belajar mengelola emosi inih..
entik mengatakan…
@mba fitri: saya juga masih belajar terus mengelola emosi mba hehe..

Postingan populer dari blog ini

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.  Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya …

instropeksi diri

lama banget ga apdet blog.. hampir sebulan ini ga buka blog.
Ngilang karena akhir bulan oktober kemaren saya harus opname di RS karena kena typus. Sempat ga percaya juga, tapi ternyata bakteri salmonela sudah bersarang di usus saya. Banyak teman bertanya ke saya, kok bisa kena typus?? secara saya memang jarang banget sakit, eh sekalinya sakit langsung opname.
Awal mulanya adalah karena aktivitas saya yang sangat padat dan saya kurang bisa memanajemen waktu sehingga kurang istirahat. Waktu itu memang kerjaan kantor lumayan padat ditambah lagi mas super duper sibuk dan tugas keluar kota terus. Anak-anak juga maunya saya yang antar jemput sekolah. niat hati pengen jadi super woman, semua dilakukan sendiri tapi ternyata memang saya butuh bantuan orang lain untuk berbagi pekerjaan.

Karena disibukkan dengan aktivitas, pola makan saya jadi ga teratur. Kadang pagi ga sempat sarapan dan siangnya males makan. Ternyata selama hampir sebulan dengan pola makan yang kacau dan aktivitas yang padat, …

story puding: cinta dalam hati

Mau menceritakan tentang pernikahan sendiri kayaknya kurang mantaps karena usia pernikahan kami masih seumur jagung, baru 6 tahun. Nah, kali ini saya mau berbagi kisah tentang pernikahan orang tua saya.
Bapak saya berasal dari keluarga petani di sleman, sedangkan ibu dari keluarga guru di kutoarjo. Perbedaan budaya keluarga jelas terlihat diantara kelauarga besar bapak dan ibu. Keluarga besar ibu sangat mementingkan pendidikan dan pekerjaan sebagai pegawai negeri. Semua kakak dan adik ibu adalah pegawai negeri dan mengenyam pendidikan. Sedangkan dari keluarga bapak, karena latar belakang petani, maka pendidikan tidak begitu menjadi prioritas. Hanya beberapa orang anak dari embah yang jadi pegawai termasuk bapak. Selebihnya adalah bertani dan berdagang di pasar.